Ada Kodok Di Wajahmu Part 10




Liontin Yang Tertinggal
            Nora berusaha bersikap manis di hadapan Bibi Sofia. Meskipun hatinya resah melihat kelakuannya yang makin menjadi. Ia bertingkah bak seorang putri yang minta dilayani terus oleh Nora, Ia tak peduli meskipun Nora kurang tidur karena menunggu Karmila yang rewel. Bik Supi sampai jengkel melihatnya.

            “Noraaaaaaaaaaa ….. noraaaaaaaaaaaaa, aku lapar, cepat ambilkan makanan!!!! Tak ada jawaban. Sofia menggerutu sendirian di ruang tengah, sembari mematut dirinya di depan cermin. Tangannya membersihkan kotoran di kedua matanya. Kemudian, Ia menyanggul rambutnya. Kalau saja perutnya tak lapar, pastilah Ia masih bergelung di tempat tidur.


            Semalam, Ia tak banyak makan, hanya sepiring nasi goreng dan semangkuk mie ayam dari Rohim. Hawa dingin, membuat dirinya rakus.

            “Bik Supi …. Bik Supi!!!!

            Sepi……

Amarah Sofia mulai naik ke ubun-ubun. “Sialan, kemana semua orang, kenapa aku di tinggal sendirian” Ia melemparkan gelas, ke sudut ruang.

            Prang…

            Bunyi pecahan kaca, memekakkan telinga seekor kecoa yang bersembunyi ketakutan di kolong meja. 

            Sofia duduk, dengan menyelonjorkan kakinya diatas meja, seperti kebiasaannya. Nafasnya turun naik, menahan emosi. Ia tak memperhatikan catatan yang tergeletak diatas meja makan. Nora mengantar Karmila ke rumah sakit bersama Rohim. Anak itu demam. Sedangkan Bik Supi mengantar pesanan nugget lele ke rumah Bu Lurah.

            Semalam, Ia dan Nora bertengkar hebat. Nora tak mau memberinya uang. Padahal, Ia datang jauh-jauh dari Jakarta untuk meminta uang pada Nora. Uang gajiannya sudah habis sebelum pertengahan bulan, untuk membayar hutangnya. Itupun tak semua, bisa Ia bayarkan. Gaya hidupnya yang borjuis, membuatnya kelimpungan. 

            “Aku butuh uang, Nora” sengaja suaranya pelankan, dengan mimic muka melas. Supaya Nora terharu. Lalu memberinya uang. Aktingnya memang hebat, pantas saja, ia beberapa mendapatkan peran sebagai figuran. Sayangnya, hal itu tak berlaku di depan Nora.

            “Uangku sudah habis, Bi” Sofia menatap Nora tak percaya. 


            “Kamu minta saja sama pacarmu itu atau pinjam uang ke Karta, beres kan?” pintanya sengak. 

            “Enak saja! Emangnya mereka siapa?”

            Nora tak tinggal diam. Kesabarannya menipis. Ia sudah lelah dengan bibi Sofia yang terus meminta uang padanya. Seolah-olah dirinya mesin ATM yang bisa mengeluarkan uang kapan saja.

            “Dasar pelit,  kamu! Apa Ibu tidak pernah menceritakan sesuatu, tentangku, Huh!! Matanya berkilat tajam melihat Nora, dihadapannya. Ia sangat gusar.

            “Tidak!!” Jawab Nora pendek. Ia tak mau mengungkit surat wasiat dari neneknya.

            “Aku ini, Ibumu! Dan sekarang, setelah Ibu meninggal, kamu harus patuh padaku, dan memberikan apa saja yang ku mau!! Suaranya melengking, seakan ingin menelan Nora bulat-bulat. Nora yang semula duduk, berdiri menghadap sang Bibi. Sekuat tenaga, Ia mengontrol emosinya.

            “Hhhhhh,sejak kapan, aku memiliki ibu?” tanyanya dengan suara gemetar. “Kalau bibi adalah ibuku, kenapa bibi meninggalkanku? Untung nenek yang menemukanku, sehingga aku dirawatnya dengan baik. Bagaimana seandainya aku di temukan seekor anjing? Kalau memang tahu, kenapa selama ini Bibi selalu jahat kepadaku!! Kata-katanya meluncur deras, tanpa mampu ia cegah. Kemarahan yang bertahun-tahun, ia telan, luruh dalam hitungan detik. Ia menangis sesenggukan, meratapi nasibnya, sebagai anak haram!

            “Aku benci padamu, Nora!!! Aku benci melihatmu tertawa, sebab itu mengingatkanku pada lelaki yang tak bertanggung jawab!! Teriak Sofia histeris. Matanya melotot,merah!

            Nora tersenyum sinis.

            “Dengarkan, Bi! Aku tak pernah menuntut untuk dilahirkan, kenapa pula bibi melampiaskan kemarahanmu kepadaku!! Setelah berkata begitu, Ia bergegas masuk kamar, dan membenamkan wajahnya di atas bantal. Pengakuan jujur Sofia, membuat hati Nora terluka. Teringat waktu-waktu yang berlalu, bagaimana dia berupaya keras supaya Sofia melihat padanya. Semalaman Ia menangis.  Karmila yang berada disampingnya, turut merasakan kesedihannya.

***
            Sementara itu, di ruang tunggu Rumah Sakit. Nora duduk termangu . Matanya kosong, menatap lalu lalang orang. Rohim yang berada di dekatnya, tak mau mengganggu.  Ia bermain dengan Karmila. Semalam, secara tak sengaja Ia mendengarkan pembicaraan antara Nora dan Sofia.

            “Karmila!!”

            Suara suster mengejutkan Nora, Ia segera mendorong kursi roda Karmila menuju ke ruang praktek dokter Teguh. Hati Nora, lega. Sakit Karmila tidak serius. Ia hanya perlu banyak istirahat. Ia mencium kening Karmila. “Jangan buat aku khawatir” katanya pada Karmila. Tangan Karmila, memegang lembut pipi Nora. 

            “Kita makan dulu, yuk, lapar nih” Rohim mengusap-usap perutnya. Tak urung, membuat Nora tersenyum. Ia semakin jatuh cinta pada Rohim. Merekapun berhenti di sebuah rumah makan padang. 

            Rohim senang. “Cinta, kamu lebih cantik, bila tak cemberut” mata Nora mengedip. Ia menyuapkan sesendok makanan ke mulut Karmila. Makannya lahap sekali.

            “Kang, apakah semalam kamu mendengar pembicaraanku dengan Bibi Sofia” kata Nora, tiba-tiba. Rohim ragu tuk menjawab.

            “Aku melihat mobilmu berhenti di depan, dan kamu mematung lama di situ!” Rohim menatap raut wajah Nora, menyelidik. Suara Bibi Sofia memang terdengar jelas sampai di tepi jalan.

            “Ia, aku membelikan kalian mie ayam, maaf aku datang di waktu yang salah” Setelah itu, Ia pulang dan menelpon Bik Supi untuk mengambilnya di depan. Nora menggeleng. Biarlah Rohim tahu, anak siapa dirinya sebenarnya. Biarlah ia memutuskan mau dibawa kearah mana hubungan mereka nanti.

            “Kamu sudah dewasa, Cinta. Perihal siapa ibumu, tak menjadi soal buatku. Oke!” Ia menggenggam kuat jemari Nora. Memberinya kekuatan.

            “Aku tak bisa menuntutnya, kenapa dia begini dan begitu. Atau menggugat Tuhan, kenapa aku dilahirkan lewat rahimnya. Daripada aku terus berkutat dengan kemarahan, lebih baik aku berdamai dengan diriku sendiri. Jujur saja, semalam aku marah. Dan itu tak membalik keadaan. Dia tetap ibuku, sejelek apapun dia ya harus kuterima dengan lapang dada. Setidaknya, aku punya ibu, yang bisa kulihat” Kata Nora tabah. Rohim menatapnya takjub, tak menyangka Nora bisa setabah ini menerima keadaan dirinya.

            Kring…kring

            Dari Bik Supi!! Hati Nora berdegup kencang, pasti ada sesuatu yang gawat. Wajah Nora berubah pucat! Instingnya benar.

            “Ada apa, Nora?” tanya Rohim, ingin tahu.

            “Bibi Sofia pergi dan membawa lari simpanan Bik Supi” Nora menggigit bibirnya getir. Tadi di telepon, Bik Supi menangis. Ia meminta maaf, telah meninggalkan Sofia sendirian dirumah.

            “Tenang, kita pulang dulu” Otak Rohim berputar. Ia lalu melarikan mobilnya cepat.


           
 Mereka dating 45 menit kemudian.

Bik Supi duduk di teras, menunggu. Matanya sembab. Nora langsung memeluk Bik Supi. Ia meminta maaf dengan kelakuan Sofia.

Semestinya bik Supi pulang cepat, setelah mengantar nugget kerumah Bu Lurah. Sayangnya, Bu Lurah mengajaknya ngobrol, dan ia segan menolak. Akhirnya sampai 1 jam lebih dia berada disana. Dan Ia terkejut, mengetahui Sofia tak ada di rumah. Kamar tamu kosong, tasnya juga tak ada. Yang mengagetkan kamarnya, kamar Nora dan Karmila berantakan.

“Nora, coba periksa kamarmu, mungkin saja ada yang hilang” Nora mengangguk. Hatinya was-was, teringat perhiasan pemberian Rohim, beberapa hari yang lalu.

Di lihatnya kamarnya berantakan, lemarinya seperti di buka paksa. Baju-baju berserakan dilantai. Nora lemas, melihat laci dimana ia menyimpan kotak perhiasaannya terbuka. Rohim dan Bik Supi menghampirinya. “Semua hilang, Kang” katanya pelan. Rohim mendesah panjang. Diam-diam Ia mengirim pesan singkat pada Karta. Ini tak bisa dibiarkan. Tingkah Sofia sudah dibatas toleransi. Ia meremas rambutnya, geram. Diambilnya segelas minuman yang dibuatkan Bik Supi. 

“Berapa uang yang hilang, Bi”

“Nggak banyak, mas” Rohim mendesak. 

“500 ribu” Rohim mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada Bik Supi.

“Pakailah ini, Bi. Bibi tentu membutuhkan uang itu” Bik Supi menolak, Ia tak enak hati pada Rohim, yang selama ini baik padanya. Tapi Rohim terus mendesaknya, sampai Ia menerima.

Rohim salut dengan Bik Supi, di usia senjanya, Ia masih giat bekerja. Bahkan tiap bulan ia mengirim uang kepada anak lelakinya di Kalimantan, untuk membantu biaya pengobatan cucunya yang menderita hydrocephalus.

“Bibi menemukan ini di bawah meja ruang tamu” Dia menyerahkan sebuah liontin yang terbungkus saputangan merah. Rohim mengambilnya. Keningnya berkerut. Liontin itu milik Nora yang hilang, waktu di Jakarta. Bagaimana sampai …. Ah..jangan..jangan.

“Bibi menemukan apa, Kang ….?” Suara Nora mengagetkan Rohim.


           
           
           


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken