Ada Kodok Di Wajahmu Part 11




Siapa Dia?
 
            “Aku tak suka caramu, itu,Kang!” Nora meremas jemarinya, murka. Karta menelponnya semalam setelah di beritahu oleh Rohim soal kejadian kemarin. Ia tak suka kekasihnya berbuat begitu. Menurut pemikirannya, seharusnya Rohim membicarakannya dulu dengan dirinya. Bukan langsung membeberkannya kepada Bang Karta. Ia sungguh malu. Gimanapun itu aib keluarganya, yang harus dia tutupi.

            “Oke, aku mengerti kekesalanmu, Cinta. Tapi…tidakkah kau berpikir, aku melakukan semuanya ini untukmu? Kelakuan Bibi Sofia sudah di luar batas. Dia sudah mencuri. Dan itu merugikan orang lain?”


            “Iya…aku tahu, tapi dia adalah bibiku, dan mungkin dia melakukannya karna khilaf” elaknya, mencoba melindungi Sofia. Meskipun, Ia sendiri gamang dengan apa yang dikatakannya.

            “Cinta, sadarlah! Kelakuanmu, menutupi dan membiarkan kelakuan Bibi Sofia justru akan menjeremuskannya nanti. Dia akan bertindak semaunya, tanpa pernah merasa bersalah. Tidakkah kamu ingin, melihat dia berubah? Kata-kata Kekasihnya menghujam sanubari, Nora. 

            “Iya…. tapi….. tidak begitu caranya,Kang. Aku takut, malah membuatnya makin menjadi. Dulu, kami sudah berulangkali, mengingatkannya, tapi semua itu tak membuatnya sadar.” Nora ingat, nenek selalu mengingatkannya untuk mendoakan Bibi Sofia, supaya Allah mengetuk pintu hatinya.”Hanya Dia yang bisa membolak balikkan hati. Kamu harus percaya PADANYA” Nora menurut.

            “Nah, itu kamu sudah tahu. Mungkin Bibimu perlu teguran keras.” Nora mengangkat bahunya. Otaknya mendadak membeku ketika memikirkan bibi Sofia. Ia lalu meninggalkan Rohim tanpa sepatah kata.
***
            Panen pertama sayur organic, sangat memuaskan. Rohim dan Nora ibarat botol dan tutupnya, saling melengkapi. Nora sangat membantu pekerjaan Rohim, Sifatnya yang supel dan periang membuatnya nyaman orang yang baru dikenalnya.

            Hari itu. Secara tak sengaja, Bu Lurah yang akan mengunjungi rumah saudaranya melihat Nora menemani Karmila sedang melukis di kebun sayur milik Rohim. Dia terperangah, melihat kelihaian tangan Karmila yang tak sempurna memainkan kuas diatas kanvas. Dan lukisan sayurnya indah sekali, kelihatan hidup. Moment itu diabadikan Nora, dan di bagikan ke media socialnya. Bu Lurah, dengan senyumnya yang lebar, tentu saja mau dijadikan model dadakan oleh Nora, yang dikenalnya baik sebagai gadis yang ulet.

Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.

            “Kang, kenapa tak kita jadikan Agrowisata mini saja kebunnya, untuk menarik konsumen?” Kata Nora riang, membayangkan kesibukannya nanti.

            “Sistemnya bagaimana? Tanya Rohim antusias. Nora menjelaskan dengan mata berbinar. Ia yakin idenya bisa berjalan baik karena menguntungkan semua pihak.      Rohim menggangguk senang . Dengan  membuka kebunnya untuk umum, mereka bisa mengedukasi betapa sayuran organic sangat bagus untuk kesehatan, selain mereka juga bisa membeli sayuran organic yang ada di situ dengan harga yang lebih murah daripada di Swalayan dengan catatan menjadi member! Mereka juga akan menjualnya sayuran organicnya secara online, untuk menjangkau orang-orang yang sibuk.

            Nantinya Nora, juga berencana menjual aneka smooties sehat dan nugget lele special buatannya disana. Dia juga akan memajang beberapa lukisan Karmila. Siapa tahu mereka tertarik untuk membelinya.
***
            Nora sibuk mengatur meja untuk para tamu undangan yang hadir pada peresmian Rohim Agrowisata. Sekitar 300 an undangan. Selain member, dan tetangga. mereka juga mengundang, pemilik restaurant, hotel, dan Swalayan yang merupakan teman-teman Bang Karta. Dia dan Beni sengaja datang untuk memberikan support pada Rohim.

            “ Mas Abrar, mana?” Seorang perempuan muda dengan celana cutbray bermotif polkadot datang menghampirinya. Sejenak, Nora memperhatikannya. Sepertinya Ia belum pernah bertemu dengannya.

            “Maaf …. Abrar siapa ya mba?” Nora tersenyum manis.

            “Dia pemilik Agrowisata, ini. Dasar Goblok!!” dia terlihat gusar, mulutnya mencibir memandang Nora dengan tatapan merendahkan. 

Nora terkejut! 

“Mba, yang saya tahu, pemiliknya ini bernama Rohim, bukan Abrar, mungkin mba salah tempat” jawabnya lagi.

“Eloh, dikasih tahu malah ngeyel! Bodoh kok dipelihara. Emangnya kamu tahu siapa aku?!! Katanya ketus, Nora melengos tak mengindahkan. Ia melanjutkan menata meja lagi.

“Heh, kamu, sini!! Nora tak menjawab, perempuan itu semakin dongkol melihat Nora cuek padanya. Ia menendang sebuah kerikil dan jatuh menghantam tepi meja. Nora yang maunya tak melayani,akhirnya kesal juga di recoki oleh tamu yang tidak ia kenal. Dia memanggil Ucup,salah seorang karyawan Agrowisata.

“Cup, tolong antarkan si mba ini ke Pak Abrar” pintanya halus.

“What the maksud, Pak Abrar mba, siapa beliau?” Tanya Ucup, dia kelihatan bingung.

“Boss besar, Cup!” jawab Nora, mengedipkan matanya. Wanita itu berjalan dengan gaya melenggak-lenggok di samping Ucup. Dia sepertinya kesulitan dengan highhell yang dipakainya. Siapa Abrar? Mungkinkah ada pemilik lain selain Rohim? Nora berpikir keras.

Acara berjalan sukses, jauh melampaui  expectasi mereka. Para tamu sangat menikmati acara berikut makanan dan minuman yang disajikan.Yang menggembirakan mereka banyak memborong sayuran. Dan lukisan Karmilapun habis terjual. Bang Karta, Nora, dan Bik Supi sampai meneteskan airmata, saking terharunya.

“Terimaksih, Nora. Berkat usahamu, adikku bisa seperti ini” Karta merangkul Nora. Ia tak malu-malu mengeluarkan airmatanya di hadapan Nora.

Tetapi ….ada yang membuat hati Nora kecewa, Nora  Wanita yang ditemuinya tadi, terus menempel di samping Rohim. Membuatnya tak enak hati untuk menyapa kekasihnya, meskipun  sekedar menawarinya minuman.



“Nora, tahu nggak, ternyata Rohim itu bukan nama asli lho” kata Bik Supi tiba-tiba. Nora menoleh, “Kata siapa, Bi” tanyanya heran. Rohim tak pernah membicarakan hal itu sebelumnya.

“Nama aslinya adalah, Abrar Fakhri Zahwan Al Jalaluddin Jazali. Bibi denger dari orang-orang di dapur. Apa kamu tidak bertemu dengan keluarga Nak Rohim, kedua orangtuanya juga datang?” Nora menggeleng. Ia sibuk melayani menerima tamu tadi,.

“Rohim, adalah panggilan sayang kakeknya, dan itu terbawa sampai sekarang


Karta membaca kegelisahan Nora, Ia segera mengajaknya pulang, setelah acara usai. Nora tak membantah. Sudah ada Ucup dan beberapa karyawan disana.


           

           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken