Ada Kodok Di Wajahmu Part 13




Misteri Mr. X

            Nora berusaha untuk bersikap biasa saja, senyumnya masih mengembang. Ia semakin gila kerja untuk mempersiapkan debut Karmila sebagai pelukis cilik di sebuah Hotel berbintang. Dan semua hasil penjualan akan di sumbangkan pada Yayasan yang menaungi anak cacat.

            Bik Supi khawatir melihat Nora. Ia seakan menenggelamkan dirinya dengan kesibukan supaya tak ada satu detikpun waktu untuk memikirkan Rohim. Ia tak pernah mengindahkan saran Bik Supi untuk menjaga kesehatannya. Bik Supi sudah menganggap Nora sebagai anaknya sendiri. Begitu juga pada Rohim. Hatinya terluka melihat kedua anak manusia itu seperti mayat hidup. Ia tahu mereka saling mencintai, tapi Ia tak bisa berbuat apa dengan perjodohan Rohim dan Diana.


            Pernah Rohim datang, di saat hujan deras di sertai angin dan petir. Ia berlari kencang bertelanjang kaki. Hanya untuk mengetahui apakah Nora baik-baik saja, sebab Ia tahu kekasihnya, amat takut dengan petir. Ia tak menghiraukan lagi dinginnya air hujan. Lelaki itu setia menunggunya, meskipun Nora enggan keluar dari kamar. “Cintaa, aku pulang. I love you, honey” pamitnya di depan pintu kamar Nora. 

Di dalam, Nora menangis tersedu-sedu. Ia ingin berlari memeluk kekasihnya dan menumpahkan segenap rasa rindu yang membuncah. Namun langkahnya tertahan. 

Bik Supi sampai menangis melihat kesungguhan cinta Rohim. Ia tak tahan dan mengadu pada Karta. “Bibi tidak tahan melihat cinta mereka, nak” isaknya di telepon.

Karta datang pada hari minggu, untuk melihat pameran Karmila. Rohim juga datang bersama Ibu Kirun dan Diana. Yang tak malu memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Rohim. Karta gemas melihat tingkahnya, yang membuntuti Rohim. Meskipun lelaki itu jelas-jelas menghindarinya.’Santai napa, Mba, Rohim tak bakalan hilang” kata Karta menyindir Diana. Perempuan itu cemberut. Dan langsung mengambil jarak.

Nora senang, apresiasi pengunjung yang luar biasa. Karmila terus mengembangkan senyumnya. Ia tak lelah melayani pengunjung yang minta berfoto bersamanya atau sekedar meminta tanda tangan. Nora selalu berada disampingnya. Karmila juga meminta Rohim dan Karta untuk dekat dengannya. Anak itu begitu sumringah.Untuk menyenangkan Karmila, Nora bersikap baik pada Rohim. Ia tak lagi menghindarinya. Tentu saja. Rohim senang. “ I miss you, Cinta” bisiknya di telinga Nora saat sesi foto. Nora tersenyum, manis sekali.

Diana tampak kesal. Nora mendapat perhatian lebih. Ia cemburu. Dan menarik lengan Rohim,kasar, mengajaknya pulang. Ibu Kirun juga menolak. Ia masih asyik mengobrol dengan Bik Supi dan kedua temannya. Akhirnya Diana pulang diantar Jefri, sopir yang bekerja di tempat Rohim.

***
Karyawan Rohim Agrowisata geger. Pernikahan antara Rohim dan Diana dipercepat. Desas-desus yang beredar. Diana sudah berbadan dua. Kabar burung itu tentu saja mengagetkan Nora. Hati gadis itu patah, Ia kecewa! dan menangis di pelukan Bik Supi.

Sebenarnya, Ia masih menyimpan harapan, Rohim akan menjadi miliknya. Ia tak bisa membohongi hatinya, bila ia teramat mencintai lelaki itu melebihi dirinya sendiri. Namun, harapannya musti tercabut paksa.

“Bibi tak yakin, Rohim akan bertindak bodoh. Apakah kamu tidak merasa ada sesuatu yang aneh?” Kata-kata Bi Supi, menghentakkan logika Nora. Tangisnya seketika terhenti, melihat Rohim berdiri di depan pintu. Wajahnya kuyu, dan rambutnya kusut. Ia kelihatan menderita.

“Tolong, bukakan pintu, Bi” Ia membasuh mukanya, dan memberinya polesan bedak juga lipstick, supaya tak kelihatan pucat. Percuma juga menghindarinya. 

“Cintaaaaaa” Rohim langsung memeluk gadisnya dengan penuh kerinduan. “aku tak melakukannya, sungguh. Itu bukan perbuatanku!!” Ia memukul tembok di sebelahnya. Tangannya terluka!

Nora melihatnya sedih.

“Aku percaya padamu” tangannya membelai pundak Rohim. Menenangkannya. Mereka berbicara dalam diam.

Kring…

Suara telepon genggam Nora berbunyi. Nora meminta Bik Supi mengangkatnya. Ternyata itu dari ibu Kirun, Ibunda Rohim. Bik Supi memberikannya pada Nora. Nora serba salah. Rohim memaksa untuk memberikan telepon genggamnya. Tapi Nora menolak. Ia meminta Rohim untuk tenang. Hampir satu jam Ibu Kirun menelpon, telinga Nora panas. Ia memijat telinga lembut.

“Kenapa Ibu?’tanya Rohim tak sabar.

“Hayyyaaaa, akang pingin tahu aja, ih” godanya manja. 

“Ada yang mau ngelamar, aku kata Ibu” Rohim mendelik. Ia mengacak-acak anak rambut Nora. Membuatnya berantakan. Nora pura-pura cemberut.

“Nora, aku serius, tolong katakan, apa yang dikatakan Ibu” Nora menyeruput teh peppermint kegemarannya. Sejenak Ia terdiam, matanya menatap pucuk bunga mawar yang mulai mekar. Rasanya aneh. Ibu Kirun, belakangan ini sering menelponnya. Mulanya menanyakan resep nugget lele. Kemudian bertanya ini itu. Hubungan mereka kian akrab.

“Ibu, menanyakan aku ingin oleh-oleh apa, Kang. Setelah perkawinanmu, Ibu akan datang kesini” kata Nora getir. Darah merembes ke relung hatinya. Sakit.

“Kang, aku tak tahu harus bilang apa padamu. Aku gadis kuat, karena itu, aku bisa menambal lukaku. Jujur, aku tak ingin kehilanganmu. Tapi..saat ini, aku tak bisa berbuat apa. Aku masih belum tahu siapa yang salah dan benar. Yang aku tahu, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu saat ini, membuatmu tertawa dan membuat memory indah. Aku tak mau perpisahan dengan airmata. Siapa tahu, memory itu akan selalu membuatku kuat.” Ia membelai lembut lengan Rohim. Ia sudah pasrah dengan rencana Allah. Apapun yang terjadi, dia akan menjalaninya dengan ikhlas.

 Mata Rohim berkabut. Hatinya sesak mendengar ucapan Nora.

“Aku, tidak akan menyerah, Cinta…! Apapun akan kulakukan untuk menguak kebenaran. Aku tak takut dengan resikonya, meskipun aku di tak dianggap anak oleh Bapak. Aku terima. Sebab aku tahu, kamu adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendampingku.” 

Nora melihat kesungguhan dalam kata-kata kekasihnya. Ia bahagia. Hujan membasahi bumi. Suaranya yang syahdu membuat tentram hati Nora.

“Main hujan-hujanan, yuk” canda Nora, jahil. Ia melihat lewat jendela kaca.
“Ayo, siapa takut!” tawa Rohim berderai. Ia tahu, Nora tak bakalan mau bermain hujan-hujanan. Gila kali!

Tetapi…sangkaannya keliru.

Nora berganti pakaian, dia membawa Karmila ke teras, mendudukkannya di kursi. Sedangkan dia berdiri di tengah taman, di tengah derasnya hujan. Dan tangannya lincah menangkap seekor kodok yang bersembunyi di balik bunga bakung. Karmila tertawa melihat Nora, yang gagal menangkap kodok. Wajahnya belepotan terkena percikan lumpur.

Rohim terpukau.

Segera Ia berlari, menyusul Nora. Bersama-sama mereka menangkap kodok. Sayangnya kodok itu terlalu lihai untuk di tangkap. Mereka berdua sampai kelelahan.

“Biarkan saja dia bebas” kata Rohim, dengan nafas terengah-engah.

"Kang .....kamu lebih suka di panggil Rohim apa Abrar" tanya Nora keras, suaranya di telan oleh derasnya air hujan.

"Apppaaaaaaa.....!!"

"Di panggil Rohim apa Abrar!!"

"Rohim!" sahutnya singkat. Dia menyukai nama panggilan mendiang kakeknya, meskipun kata teman-temannya nama itu tidak kekinian. Tapi Ia amat menyukainya. 

“Aku cinta kamu, Kang” kata Nora keras. Ia menangis bersama hujan.








Comments

Post a Comment

Tulisan Beken