Ada Kodok Di Wajahmu Part 14




Setitik Kirana
Mata Nora sakit, memelototi layar computer, di depannya. Keningnya mengernyit. Memperhatikan angka yang membuatnya ingin melompat. Bagaimana tidak! pengeluaran Rohim Agrowisata selam empat bulan dia tinggal sungguh fantastis. Sedangkan pemasukan hampir tidak ada. Bagaimana mungkin? Bila hal ini terus dibiarkan bisa-bisa Rohim Agrowisata hanya tinggal nama. Aishhhhhhh….otaknya berpikir keras.

            Tetapi, dia heran, kenapa pula Rohim  tak pernah memeriksa laporan keuangan, yang di buat oleh Diana? Aneh.


            Nora merenggangkan badannya. Ahhhh..nyaman, setelah seharian duduk di kursi, sampai Ia lupa dengan makan siangnya. Lalu, Dia keluar mencari Ucup. Sore ini, mereka berencana menengok Ayah Jefri yang sakit kanker prostat dan kini sedang di rawat di Rumah Sakit, sekalian memberikan titipan Rohim untuknya.

            Merekapun berangkat.

            “Mba Nora, saya sueeneeeenggggggggggggggg pokoknya, Mba Nora kembali bekerja bersama kami. Beda dengan Bu Diana. Orangnya suka marah dan main perintah. Kami malah setres kalo dia di kebun, bukannya kerja, malah sibuk berdandan. Kami malah repot, kemana-mana nyediain payung buat dia, gara-gara takut kulitnya tersengat matahari” ucup antusias sekali menceritakan Diana. Nora tersenyum tipis.

            Sebelum Rohim berangkat ke Brebes, dia meminta pada Nora untuk membantunya, mengurus Agrowisata selama kepergiannya. Tanpa banyak berpikir, Nora menyanggupi permintaannya. 

            Di Rumah Sakit, mereka tak lama, setelah memberikan titipan pada Jefri, dia pamit pulang. Karena ada beberapa urusan yang harus Nora kerjakan. Lagipula perutnya keroncongan. Nora mengajak Ucup untuk makan di kantin Rumah Sakit. Mereka duduk di pojok. Ucup memesan nasi soto sedang Nora memesan mie goreng. Ia menyesap teh hangatnya, ketika dua orang lelaki duduk di seberang meja.

            “Nggak nyangka, Jefri bisa seberuntung itu, Coy! Dia menjadi jutawan sekarang”

            Glek

            Telinga Nora memperhatikan baik-baik isi pembicaraan mereka. 

            Mulut Ucap mangap. Kaki Nora menendangnya supaya dia pura-pura tak memperhatikan dan mengisyaratkan untuk terus makan. Ucup mengangguk, meskipun selera makannya sudah hilang.

            “Mba Nora, hayo cepet telpon Pak Rohim” berulangkali Ucup meminta Nora untuk segera memberitahu Rohim. Rupanya cowok itu tak menyangka Jefri yang dikenalnya sebagai anak yang kalem dan taat beribadah bisa berbuat begitu.

            Tangan Nora mengetuk-ngetuk meja. Hatinya berdegup kencang. Dia masih menimbang apa yang sebaiknya dia lakukan. 

            “Cup, kita cari Jefri !” Mereka berjalan cepat menaiki anak tangga. Seperti tak ingin kehilangan waktu. Jefri masih disana bersama Sang Ibu. Dia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika melihat Nora kembali, pasti ada sesuatu yang tak beres. “Apa ada yang ketinggalan, mba?” tanyanya gugup. 

            “Aku ada perlu denganmu, Jef, bisakah kita bicara sebentar?” Jefri bertambah gelisah. Ia mengangguk, lesu dan mengikuti Nora di belakang bersama Ucup. Nora mengajaknya ke kantin. Ia berdoa kedua lelaki itu masih disana.

            Doanya terkabul, kedua lelaki itu masih asyik berkelakar, rupanya Ucoy dan Rafi teman akrab Jefri. 

            “Jef …..aku ingin mengetuk pintu hatimu, apakah kamu tidak kasihan dengan Pak Rohim, orang yang selama ini membantumu?” kata-kata Nora pelan. Jefri tertunduk. Ia tak bisa  lagi mengelak. Ucup dan kedua temannya masih disana, mengawasinya dengan tatapan penuh harap.

            “Berkatalah yang jujur, Jef. Apakah kamu mau hidup dalam kebohongan terus, dan memaksa orang lain untuk mengakui hasil perbuatanmu, bagaimanakah bila orangtuamu tahu, mereka pasti akan sangat sedih” Kata Ucup bijak. Hatinya miris. Uang bisa merubah segalanya.

            “Maafkan saya mba, saya khilaf” di sini ia menangis tergugu. Untuk pertama kalinya, hatinya menjadi tenang. Meskipun Ia harus membuka aibnya sendiri.

Ia pertamanya menolak, namun Diana terus memaksa. Iman Jefri luntur, setelah Diana memberinya segepok uang. Ia jadi gelap mata, tak peduli lagi darimana uang itu berasal. Asalkan dia bisa membawa ayahnya ke Rumah Sakit, apapun akan dia lakukan.  Dan akhirnya menuruti keinginan Diana, dan mau saja meminum pil biru yang Diana  berikan. Ia menjadi larut dalam pelukan Diana. Dan tak peduli lagi dengan dosa. 

Tiap malam mereka habiskan waktu berdua, bila ada kesempatan. Waktu Jefri yang longgar membuat mereka leluasa mengatur waktu bertemu dan memuaskan hasrat mereka.baik itu di rumah Jefri maupun di hotel, saat mereka ke kota.

            “Apakah kamu pernah melakukannya,Jef” tanya Nora hati-hati. Kerongkongannya mendadak kering. Jefri mengangguk.

            “Ia mba, sering” jawabnya malu-malu, tangannya memainkan ujung asbak di depannya.
            Gubrak.

            Perut Nora menjadi sangat mual mendengar pengakuannya, dimanakah Jefri yang lugu?. Kasihan sekali kau Jef. Ia berjalan mondar-mandir mencairkan pikirannya yang buntu. Ini terasa berat baginya. 

            “Jef, kamu sudah ku anggap saudaraku, sama seperti Ucup. Lalu, kamu sendiri tahu, hubunganku dengan Pak Rohim. Ini sulit bagiku, aku tak bisa memutuskan harus berbuat apa” ucap Nora putus asa. “Putuskannlah sendiri” timpalnya lagi.

            Waktu berjalan lambat, seperti pedati yang kepayahan. Tak tahu dimana berhenti.
           
           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken