Ada Kodok Di Wajahmu Part 15




Miracle

            Malam yang teduh, bulan sabit  tersenyum bercanda bersama bintang. Meskipun cahayanya temaram, tak meredupkan keelokannya pada  mahluk hidup di muka bumi.  Nora termangu. Gadis itu mengamati bulan dengan damai. Diletakkannya sebuah diary bermotif batik di sampingnya.

Setelah melepas keserakahannya, untuk memiliki Rohim. Ia menjadi lebih tenang. Kegelisahan di hatinya berangsur hilang. Ia yakin bisa melupakan kekasihnya perlahan. Mungkin sebulan, tiga bulan, setahun, bahkan bisa jadi lebih. Dia akan menjalaninya dengan sabar.  Di hirupnya udara malam dengan kuat, membawanya masuk, memenuhi rongga dadanya.


Sepeninggal ayahnya, Jefri pergi. Ia hanya bertitip pesan kepada Ucup dia akan meluruskan sesuatu. Ntah apa itu. Rohim juga tak ada kabar berita. Katanya sebentar, tetapi ini sudah lewat setengah bulan. Ia kelimpungan sendiri menghadapi tagihan yang jatuh tempo, di tambah  gaji karyawan yang belum terbayar. Nora masih menunggu. 

“Ada telepon dari Nak Karta” Bi Supi mengagetkan lamunannya. Ia segera menjawabnya sebelum Bang Karta marah.

“Ayo Bi, masak. Sebentar lagi Bang Karta datang” ajak Nora terburu-buru mengajak Bi Supi dan menyeret langkahnya menuju dapur. Dalam hitungan detik, mereka berdua sibuk memasak. Untungnya Bang Karta tak rewel, Ia mau melahap apa saja yang disajikan.

“Bi, hatiku deg-degan” kata Nora sambil mengulek sambal terasi.
“Jangan khawatir, tak bakalan ada apa-apa” Bi Supi tak mau terus terang pada Nora, tentang pembicaraannya dengan Karta tadi.

***
Sejam kemudian, Bang Karta datang bersama seorang wanita berjilbab dan seorang bayi dalam gendongannya. Siapakah dia? Ini tak biasa. Beni biasanya selalu menemaninya.

Saat dia membuka pintu,  Nora tertegun. Tak mempercayai penglihatannya sendiri. Wanita itu seperti …..bibi Sofia! Iya tak salah lagi! Tapi….bayi siapakah itu? Ia sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai lupa ia masih berdiri menghalangi jalan. Bang Karta melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya. “Nora ……apa kamu ingin kami berdiri terus disini” gurauannya. 

“Oh….maaf… maaf..bang” ia membantu Bang Karta membawa tas kedalam. Nora masih kikuk berhadapan dengan Bibi Sofia. Ia terlihat kalem dan lebih banyak diam. Mencurigakan! Seumur hidupnya, baru kali ini dia melihat Bibi Sofia begitu berbeda. Bayinya menangis. Dengan cekatan bibi Sofia menggendongnya dan memberinya sebotol susu. Dia bahkan menyanyikan lagu penghantar tidur untuknya.

Sejenak Ia terhanyut oleh nyanyiannya. Suaranya lembut, merilekskan saraf-sarafnya yang tegang. Bayi itu segera terlelap dalam buaiannya. Bibi Sofia menidurkan bayinya diatas kasur, menyelimutinya pelan, dan mencium keningnya, sayang. Nora tercengang. Ia memperhatikan semuanya. Seperti tak percaya, Ia mencubit keras, pipinya. Auw …sakit! Pekiknya tertahan.

Nora mencari Bi Supi di dapur. “Bi…..kenapa jadi begini? Jangan-jangan semua itu hanya action?” mulut Nora menyerocos tak henti. Supi tertawa, memperlihatkan gigi palsunya. Nora sebal, dia duduk berselonjor, di lantai.

“Nggak usah terkejut, orang bisa berubah. Siapa tahu Sofia dapat hidayah” katanya, mengusir pikiran suudzondi benak Nora. Lama ia terdiam, memikirkan kata-kata Bi Supi. Rasanya, masih sulit baginya untuk langsung mempercayai apa yang dilihatnya. Perasaannya, gamang.

“Nora, bisakah kita bicara” Bang Karta tiba-tiba memanggilnya. Nora mengangguk dan mengikuti Bang Karta ke ruang tamu. Bibi Sofia sudah menunggu disana. 

“Maafkan, Ibu, Nak” Ia langsung menubruk Nora, dan menangis tergugu dalam pelukannya. Nora gelagapan. Ia kehilangan kata-kata, dan hanya bisa diam, seperti sebuah patung. “Maukah kamu, memaafkan Ibu?” katanya terbata. Nora mengangguk.matanya ikut basah. Tak ada gunanya juga Ia menyimpan dendam. Hanya membuat dadanya sesak. Plong! Rasa nyaman menyelimuti hatinya. Cukup lama mereka berpelukan. Nora merasakan bahagia yang luar biasa, inikah rasanya di peluk oleh seorang ibu? Bang Karta melihat mereka, haru.

“Bibi selama ini bodoh, telah menyia-nyiakan waktu. Mulai sekarang bibi janji akan berbuat baik padamu, Nak.” Sesal bibi Sofia. Sisa-sisa airmata masih ada di pelupuk matanya.

“Apakah bayi itu,anak bibi? Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulutnya. Bibi Sofia menggeleng. Dia melihat kearah Bang Karta.

“Bayi itu, ditemukan oleh Sofia, di dekat pembuangan sampah, saat dia akan menuju ke rumahku. Bayi itu kedinginan, sebagian tubuhnya di kerubungi semut. Bayi itu tidak menangis. Sofia iba melihatnya. Dan kami langsung membawanya ke Puskesmas”

“Apakah kalian sudah lapor polisi?”

“Sudah, tapi tak ada kelanjutannya. Kami juga sudah jatuh cinta dengan Miracle, karena dia kami berubah” Oh jadi nama bayinya Miracle. Nora menunggu kelanjutan cerita.

Bang Karta melirik mesra pada Bibi Sofia. Jreng!!!!!!!!! Ada apa lagi,ini. Tanyanya dalam hati. Ia terus memperhatikan gerak gerik Bibi Sofia dan Bang Karta. Mungkinkan mereka sepasang kekasih?

 “Kami ingin menikah, tolong restui kami” timpalnya, mengagetkan Nora.
“Maksudnya,bang” tanyanya tak mengerti. Ia belum bisa menarik clue. Kenapa otaknya jadi dingdong begini? Ia menggigit bibirnya.

“Bang Karta dan ibumu, Sofia mau menikah, sudah ngerti sekarang”
“Haaahhhhhhh, jangan becanda deh, Bang”
“Eh, beneran, bang Karta tak bohong”

Nora bengong, Ia bergantian menatap wajah Bibi Sofia dan Bang Karta. Semua terasa absurd bagi dirinya. Ia perlu waktu untuk mengerti. Mungkinkah, kodok punya jawabannya. Seekor kodok, melompat ke rerumputan. Dan diam memandang Nora.











           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken