Ada Kodok Di Wajahmu Part 16




Sebuah Pengorbanan

            Nora menyusuri  sungai kecil yang melintasi area agrowisata. Air tampak jernih, ikan-ikan kecil sibuk berenang mencari makan. Pemandangan itu tak luput dari pandangan Nora. Lalu, hatinya tergerak, Ia melepaskan sepatu ketsnya. Dia duduk di atas batu besar, di tepi sungai dan membiarkan kakinya basah.

            Hhhhhhhhhhh

            Nora membasuh wajahnya dengan air sungai. Rasa segar menembus pori-pori dan memberinya kesejukan. Pikirannya masih kalut, Rohim belum ada kabar, sedangkan urusan Agrowisata menuntutnya untuk segera bertindak. Gaji karyawan belum terbayar, dan itu membuat rasa tak nyaman di hatinya. Bagaimanakah nasib anak-anak mereka, punyakah mereka makanan? Punyakah mereka bekal untuk uang saku dan membayar sekolah anaknya? Gimana bila mereka kelaparan ..dan aarrhhhhggghhhhhhh ….. semakin memikirkannya ia menjadi frustasi.


            Ia menarik nafas dalam.

            Nora mengambil telepon genggamnya. Mencari nomor Rohim, setelah ketemu. Mendadak Ia ragu. No! aku tak boleh menelponnya. Bukankah ia sudah berjanji, tidak akan menelponnya. Mungkin saat ini, ia lagi bersenang-senang dengan Diana. Ia menepiskan rasa cemburu didadanya.

            “Nora…! Bibi Sofia bersama Ucup berjalan menghampirinya. Wanita itu terlihat anggun dengan balutan gamis biru dengan jilbab warna senada. Minggu lalu, acara perkawinan antara Bang Karta dan Bibi Sofia berlangsung khidmat. Dan dihadiri oleh keluarga inti serta tetangga dekat. Kehadiran Miracle, seperti sebuah keajaiban. Rumah semakin ramai dengan celotehan Karmila dan Miracle. Keduanya seperti ditakdirkan bersama. Menghibur satu sama lain. Kekhawatirannya soal Bibi Sofiapun lenyap, setelah melihat Bibi Sofia dan Karmila akur.Dia juga bahagia ketika bang Karta memutuskan untuk tinggal bersama mereka. Dan mulai usahanya di sini. 

            Dengan adanya Bang Karta, dan Bibi Sofia, pekerjaan Nora lebih ringan. Dia bisa focus mengurus pekerjaan rumah yang di tinggalkan oleh Diana. Sehingga mengakibatkan keuangan Agrowisata amburadul. Dia harus membenahinya satu persatu. 

            “Bibi mencarimu di kantor, eh malah sembunyi di sini” dia membawakan Nora makan siang. Nora tersenyum simpul, menerima kebaikan bibinya. Menghirup bau masakan, perutnya menjadi lapar.

            “Makasih, Bi” Ia mengajak mereka berdua makan. Sayangnya Bibi Sofia menolak. Ia sudah makan siang dengan bang Karta dirumah. Ia makan dengan lahap, di tepi sungai dengan pemandangan sayur mayur di belakangnya. Sajian ikan goreng kremes buatan Bibi Sofia luar biasa nikmat dilidahnya. Dia memberikan dua jempolnya, di ikuti oleh Ucup. Bibi Sofia tertawa senang.

            “Selesai makan, bibi ingin bicara denganmu, sebentar. bisa kan?” Nora mengangguk dan menyudahi makannya. Ucup membantu membereskan peralatan makan dan memasukkanya dalam tas anyaman plastic. Mereka berdua menuju kantor.

            “Ada apa bi” tanyanya. Bibi Nora mengambi sesuatu dari tas kecil dan memberikan kotak beludru padanya. “Apa ini, Bi? Tanya Nora tak mengerti saat membuka kotak itu, dalamnya ada perhiasan.

            “Itu milikmu. Maafkan bibi yang telah mengambil perhiasanmu, nak?” kata bibi Sofia halus. “Ikut aku, Bi” dia segera mengambil kunci dan mengajak Bibi Sofia ke kota. Dia berencana menjual perhiasan itu untuk membayar gaji karyawan. Meskipun tak penuh, setidaknya mereka punya bekal, untuk keluarga. Sofia terharu, melihat tanggung jawab Nora dan mengabaikan semua perasaannya pada pemilik Rohim Agrowisata. Ia ingin membantunya, supaya anaknya bisa menyelesaikan persoalan kesulitan keuangan di tempat itu. Diam-diam dia mengontak teman-temannya di Jakarta.

***
            Bang Karta, duduk tak tenang menunggu Nora dan istrinya. Ia tadi menyusul Sofia ke tempat Nora bekerja. Dan bertemu dengan beberapa orang lelaki sedang marah-marah, datang menagih. Nora tak pernah bercerita padanya tentang persoalan yang ia hadapi. Yang ia tahu, Rohim di jodohkan oleh orangtuanya. Bertanya pada Bi Supipun tak memberinya solusi.

            Nora dan Sofia datang setengah jam kemudian. Mereka bergandengan tangan dengan wajah sumringah. “ Nora, sini. Tolong jelaskan pada abang, apa yang sebenarnya terjadi di tempatmu bekerja!” Sofia segera masuk dan mengambilkan air untuk suami dan anaknya. Bang Karta tampak terkejut dengan penjelasan Nora dan usahanya untuk mempertahankan Agrowisata itu dari kebangkrutan. Tapi, ini sudah di luar batasnya. Harusnya Rohim dan Diana yang bertanggung jawab menyelesaikan persoalan tersebut, bukannya Nora! Gadis itu susah payah menelan kesedihan, sekarang dibebani dengan tanggung jawab besar. Karta menjadi jengkel sendiri.

            Ia kemudian menelpon Rohim. Mereka cukup lama berbicara di telepon..”Jangan asal tuduh! Tolong Bapak dating kesini, dan melihatnya langsung” Nora kaget, melihat Bang Karta. Wajahnya masam, menahan murka. Ia marah Nora dituduh mencuri uang Rohim. Rohim sedang keluar, telponnya tertinggal dirumah. Dan Bapaknya sendiri yang menjawab telepon dari Bang Karta.

            “Nora, apakah kamu yakin, Diana mengambil uangnya” Nora mengiyakan.  Tanpa sepengatuan Rohim, Diana memberikan no rekeningnya kepada member. Ia tahunya, ketika menagih pembayaran pada member tersebut. Bukan itu saja, Diana juga membuat nota fiktif berikut menggandakan buku pembukuan yang dibuat oleh Vita, salah satu admin disana. Vita tak tahu, tanpa sepengetahuannya, Diana menggelembungkan angka dan memberikannya pada Rohim, tanpa Rohim cek kembali.

            “Kita ke Brebes, tolong siapkan saja bukti-buktinya”

            “Tapi, Bang” Nora menolak. Ia tak ingin melihat kemesraan Rohim dan Diana disana sebagai pengantin baru.

            “Tak ada tapi-tapian, kamu harus ikut” Nora mengkeret melihat Bang Karta.Sofia menenangkannya, Ia tahu suaminya akan bertindak bijak. Malam itu, ia membantu Nora menyiapkan segala keperluan untuk ke Brebes. Ia tak ikut serta, mengingat Miracle sedang demam.

           


           
           


           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken