Ada Kodok Di Wajahmu Part 17


Wanita Pilihan

            Nora merapatkan jaket ke badannya. Ia berusaha menghalau dingin yang menusuk tembus ke pori-porinya. Kepalanya pusing. Di sampingnya Bang Karta focus menyetir. Mereka saling diam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Nora membuka kaca mobil, hembusan angin, meyegarkan wajahnya yang kuyu. Semalaman dia tak tidur. memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti saat bertemu dengan keluarga Rohim. Bang Karta memang nekad, iya langsung saja pergi ke Brebes tanpa memberi tahu Rohim.

            Bang Karta menghentikan mobilnya di sebuah rumah dengan halaman luas. Rumah itu mentereng dibandingkan dengan rumah tetangganya yang biasa. Dihalaman tumbuh beberapa pohon manga dan kelengkeng, dibawahnya ada tempat duduk dan ayunan yang menghadap ke taman bergaya jepang yang tertata apik.. Mata Nora mengitari rumah itu. Ada beberapa mobil dan motor keluaran baru yang sedang parkir disana.


            “Gila, tajir juga si Rohim” celetuk Bang Karta. Nora tersenyum kecut. 

            “Punya tetangganya kali bang” Bang Karta terkekeh. Seorang perempuan setengah baya, datang menemui mereka. Dan meminta mereka  menunggu di pendopo.disebelah bangunan utama. Suara gemericik air dari kolam koi, membuat mata Nora mengantuk. Hingga dia melihat seorang laki-laki datang. Seseorang yang dirindukannya,

Rohim, setengah berlari menemui tamunya. Hatinya gembira ketika tahu siapa tamunya. Nora menahan nafas, melihat Rohim. Ia berusaha keras untuk menahan segenap cinta yang menghentak dadanya. Mata mereka bertemu. Hati Nora sedih, melihat bobot kekasih hatinya  turun drastis. Begitu pula Rohim.

            “Cintaaaaaaa…” Rohim ingin memeluknya, tapi Nora mendorong keras tubuh lelaki itu. Rohim terkesiap. Dia malu pada Bang Karta

            “Cintaaa, aku kangen kamu” katanya lagi.
            Plak
            “Ingat istri dan calon anakmu, Kang!”

            Tamparan keras mendarat di pipi Rohim. Lelaki itu diam. Seorang lelaki berjenggot tiba-tiba datang memarahi Nora. “Hei, siapa kamu, berani sekali menampar anakku!!” dia langsung menarik lengan Nora keras, dan hampir membuatnya hilang keseimbangan. “Hentikan,Pak! Dia Nora!!” teriak Rohim, mengagetkan bapaknya.

            “Oh, jadi kamu, yang mengacaukan perkawinan anakku dan Diana. Pergi kamu dari sini!! Bentaknya kasar. Nora dan bang Karta saling pandang. Tak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki tua itu.

            “Tenang,Pak. Kami akan pergi. Tapi setelah meluruskan tuduhan bapak kepada Nora. Gadis inilah yang selama ini pontang panting sendirian menyelamatkan usaha anak bapak. Justru Dianalah yang mengambil uangnya. Ini buktinya!” Bang Karta meletakkan buku laporan keuangan dan bukti yang ditemukan Nora. Rohim mengambilnya dan membacanya. Dia menjelaskannya pada bapaknya,pelan-pelan. Lelaki tua itu, meremas tangannya. Ia tak menyangka, Diana yang kelihatan polos, ternyata seperti ular berbisa. Dia lihai memainkan peran. Memutar balikkan fakta.

            “Jadi benar, Diana telah mengambil uangmu dan memanfaatkan Jefri supaya kamu menikahi dia.” Rohim mengangguk. “Nora tak salah,Pak. Mestinya kita berterimakasih padanya”

            “Ayo, kita pulang,Nora” Bang Karta berdiri dan mengajak Nora pulang. Ia kangen Sofia dan Miracle. Urusan juga sudah selesai. Ia tak mau lama-lama di sini, dia takut membuat Nora makin terluka hatinya.

            Nora berdiri, tiba-tiba pandangannya gelap. Dan…
            Bruk…..
            Ia terkulai lemas, pingsan.
***
Samar-samar, Nora melihat setitik cahaya putih, sinarnya menyilaukan matanya. Cahaya itu ternyata cahaya matahari yang menembus masuk ke ruangannya. Ia terbangun dan mendapati dirinya di sebuah kamar  Rumah Sakit. Tadi  ia bermimpi indah, ia bertemu kekasihnya. Yang membawa bunga anggrek bulan untuknya. Dirinya mengingat-ingat apa yang telah terjadi.

Perutnya mual dan kepalanya masih pusing Ia berguman sendiri. Menyadari, Ia sendirian di kamar itu. Kemanakah bang Karta? Matanya melihat sebotol air di atas meja disebelahnya. Ia berusaha meraihnya. Malah Ia menjatuhkannya. Botol itu jatuh menggelinding, mengejutkan Rohim, yang ada di toilet.

“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, sayang”

“Apa kamu haus atau pingin makan sesuatu, ayo bilang sama akang” pertanyaan Rohim membuat Nora ilfill. Dia cemberut dan menutup wajahnya dengan selimut. Rohim jadi gemas, dia menggelitik kaki Nora. Nora geli, dia tertawa terkekeh, meminta supaya Rohim menghentikannya.

“Ih, tangannya sudah di cuci belum? Rohim menggeleng. Mengerjai Nora.
“Bang Karta, mana Kang”

“Dirumahku” sahutnya. Bapaknya meminta Bang Karta menginap dirumahnya, sementara Nora dirawat di Rumah Sakit. Orangtuanya bingung melihat Nora pingsan dirumahnya. Takut kenapa-kenapa, mereka segera melarikannya ke rumah sakit. Setelah diperiksa ternyata dia sakit thypus dan harus opname.

Nora terdiam, dia tak begitu mendengarkan penjelasan Rohim. Matanya memandang lekat wajah Rohim. Ia menyukai mata teduhnya. Melihatnya saja,membuat hatinya adem, nyess, seperti di guyur air es.

“Aku senang kamu sakit” kata Rohim tertawa. Ia menyibakkan rambut ikalnya yang mulai panjang. Nora meninju lengannya, pura-pura cemberut. Ia juga malu mengakui, bahwa ia sekarang bersorak senang, dengan sakitnya. Dengan begitu. Dia bisa bersama Rohim.Bisa memandangnya puas. Tetapi…ia teringat Diana, bagaimana kabar dia sekarang?  Ia merasa kasihan padanya.

“Diana menikah dengan Jefri. Awalnya Diana berkelit dan keukeuh akulah ayah kandung bayi yang di kandungnya dan memintaku untuk bertanggung jawab. Tentu saja aku menolak keras. Aku tak mau mengakui, sebab aku bukan pelakunya. Dia juga menolak sewaktu, aku memintanya menunda perkawinan sampai 3 bulan ke depan. Padahal dengan begitu kita bisa melakukan tes DNA saat usia kandungan 3 bulan. Aku tak peduli dengan biayanya. Hah! Dia benar-benar wanita licik. Mencoba bunuh diri dan menggugurkan kandungan. Aku tak peduli. keluarganya juga meneror keluarga kami. Ibu sampai sakit, tak tahan mendengar gunjingan orang-orang. Ia sampai takut untuk keluar rumah.” Nora memandang Rohim iba. Ia bernafas lega sekarang. Kerumitan dalam hidupnya terurai. Dia senang bertemu kembali dengan kekasih hatinya.

“Maafkan aku, Cinta. Kamu harus menghadapi sendiri disana” ia menggenggam lembut tangan Nora.

Ehem

Bang Karta dan Ibu Kirun datang. Rohim melepas genggamannya. Nora tertunduk malu. Ia menyapa Ibunda Rohim, santun.

“Bang Karta mau pulang nanti sore, abang ada kerjaan yang harus di selesaikan”
“Aku juga mau pulang,Bang” Ia tak mau sendirian, di Brebes. Meskipun ada Rohim.
“Huss, kamu disini, sampai sembuh. Kamu tak usah khawatir,Ibu dan Rohim akan menjagamu. Bu Kirun mengelus lengan Nora. Hatinya tahu, gadis didepannya adalah anak baik. Nora tak punya pilihan, iapun setuju.Rohim dan Bu Kirun menyambutnya suka cita.

“Kalau mau apa-apa jangan sungkan minta. Anggap ibu ini, ibumu sendiri” kata Bu Kirun, dan diamini oleh Rohim. Dia senang melihat keakraban Nora dan Ibunya. Sudah lama ibunya menginginkan anak perempuan. Tetapi yang hadir, malah anak lelaki. Kehadiran Nora, setidaknya bisa menghibur hati ibunya.

***
Nora melipat dan memasukkan bajunya di dalam tas. Ibu Rohim sangat perhatian padanya. Dia membelikan Nora baju, setelah di lihatnya Nora tak memiliki baju ganti. Ia memang hanya membawa dua stel baju ganti, untuk perjalanannya ke Brebes. Siapa sangka juga, di sini ia jatuh sakit dan harus di opname. 

Sementara itu, Rohim, ke kasir, membayar tagihan Rumah Sakit. Bang Karta sudah mentransfer uang, namun di tolak oleh Rohim. Uang itu, tetap di pegang Nora. Dia akan mengembalikannya nanti.Bang Karta butuh uang banyak untuk membuka restorannya.

Tok..tok..tok
Nora membuka pintu, seorang remaja tanggung berdiri di depannya. Ia tampak canggung.

“Betulkah, ini kamar Edelweis 7?” Nora mengangguk. Dia merasa aneh, bukankah sudah tertera di depan pintu.

“Ada seseorang mengirim ini buat mba Nora” anak itu menyerahkan sebuah kotak ke tangan Nora.

“Maaf, siapa yang mengirimnya” dia curiga, matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Hanya seorang suster yang lewat.

“Saya tak tahu, permisi, mba” anak itupun pergi. Nora bengong, menatap punggung anak itu sampai menghilang dalam lift. Rohim menyapanya.

“Kang, apa kamu kenal anak yang berpapasan denganmu,barusan” Rohim menggeleng, ia tak memperhatikannya.

“Kenapa” tanyanya heran. Nora memperlihatkan kotak yang anak itu berikan. Ternyata di dalamnya ada Brownies. Bau coklatnya, memenuhi ruagan. Membuat siapa saja ingin mencicipi.

Jangan dimakan. Suaranya seperti suara nenek. Nora melonjak kaget. Rohim tak memperhatikan.

“Hmmm, sepertinya enak” Rohim ingin memakannya. Namun segera di cegah oleh Nora. “Jangan,bang. Kita tak tahu apakah brownies ini aman di makan” Rohim kecewa, tapi ia menuruti apa yang dikatakan oleh Nora. Merekapun pulang.

Ngeong-ngeong….

Di pelataran parker Rumah Sakit, seekor anak kucing mengikuti Nora. Dia mengeong-ngeong, sepertinya kelaparan. Rohim mengambil Brownies yang ada di dalam tas kresek. Kemudian diambilnya sejumput, dan memberikannya pada anak kucing itu. Kucing itu langsung melahapnya dengan rakus. Dalam hitungan detik, brownis habis, kucing itu kembali mengeong. Rohim memberikannya lagi.

“Kang….sudah” Nora gelisah. Instingnya mengatakan ada sesuatu di dalam brownies itu. Kucing itu masih disana. Dia manja pada Nora. Ia mengelusnya.Tiba-tiba kucing itu kejang-kejang,mulutnya keluar busa. Nora dan Rohim tercekat, mereka mundur beberapa langkah, memandangi kucing yang meregang nyawa. Airmata Nora deras meluncur. Dia sangat sedih dengan apa yang di lihatnya. Kucing itu mati mengenaskan setelah memakan Brownies.

“Nora..siapa yang memberikan ini?” dia memegang keras tubuh Nora. Nora tak bisa menjawab, hanya tangisnya yang terdengar keras. Rohim memeluknya supaya ia tenang. Setelah itu, Ia membungkus tubuh kucing yang mulai kaku dengan baju. Dan di letakkannya ke dalam mobil. Lalu Ia menelpon temannya. Seorang polisi.

Ada ketegangan di wajah Bapak dan Ibu Kirun. Mereka menunggu Rohim dan Nora dengan perasaan was-was. Tadi Rohim sempat menelponnya, dan mengabarkan mereka masih di kantor polisi.

Kucing selesai di autopsy, ternyata ada racun sianida di dalamnya. Di dalam browniespun ada. Mengetahui hal itu, Rohim dan Nora seperti tersengat listrik. Mereka seperti tak percaya, ada orang yang berniat membunuh mereka. Apa yang terjadi bila Rohim tak mengindahkan nasehat Nora? Mungkin kini ia sudah terbujur kaku. Siapakah pelakunya? Ia bergumam sendiri.

“Aku tadi mendengar suara nenek, Kang” Ia masih terisak. bibi Sofia tadi menelponnya. Pikirannya tak enak, takut ada apa-apa dengan Nora.

“Kita harus segera menikah, Cinta” bisiknya pelan di telinga Nora. Gadis itu kaget. Ketegangan dan kelelahan masih bergelayut di wajah ayunya.

“Kang, kita bicara yang lain dulu, yah. Pikiranku masih kacau” katanya pelan. Ia mengusap keringat di kening Rohim.

“Tidak! Aku serius. Setelah sampai dirumah. Aku mau bicara dengan orangtuaku. Aku juga akan menelpon bang Karta dan Bibi Sofia. Setelah apa yang terjadi, membuatku makin sadar, aku sangat mencintaimu. Dan tak mau kehilanganmu”

“Tapi, Kang…..usiaku….masih….” katanya tertahan. Ia masih bingung untuk memutuskan.

“Sssstttttttttttttttttt, aku tahu apa yang kamu pikirkan, sayang. Please…percayalah padaku. Aku akan membahagiakanmu” Nora terdiam, menunggu tindakan kekasihnya. Jemari mereka saling bertautan.

Hari Rabu pagi. Di kediaman Rohim ada sedikit kesibukan. Saudara dan tetangga dekat berdatangan. Nora luarbiasa cantik dengan balutan kebaya warna putih. Wajahnya berseri, dan senyumnya mengembang memandang Rohim yang gagah dengan setelan jasnya. Kedua orangtuanya, ramah menyapa tetamu yang datang. Hari ini perkawinan Rohim dan Nora. Bu Kirun, terus berceloteh membanggakan Nora sebagai mantu kesayangannya. Ia senang, akhirnya Noralah yang menjadi mantunya.

Bibi Sofia, Bang karta, Bi Supi, Karmila dan Miracle turut hadir disana. Mereka bergembira bergabung dengan tamu, menikmati suguhan yang mengalir tiada henti.

Polisi juga bertindak cepat. Dalam waktu 3 hari, mereka menangkap siapa pengirim Brownies. Dia adalah Diana! Jefri menangis, memohon pada Nora, supaya mengampuni istrinya. Bapak Kirun dan Rohim menolak tegas. Mereka sudah sakit hati dengan perbuatan Diana.

Nora hanya bisa pasrah, meskipun ia kasihan dengan nasib Diana. 

***
Nora belum terbiasa menjadi seorang istri. Ia masih sering kaget, ketika mendapati Rohim tidur disebelahnya. Apalagi saat mendengar dengkurannya yang cukup keras. Dan membuat Nora terjaga semalaman.

Bibi Sofia dan Bi Supi tertawa mendengar ceritanya.
“Lain kali, sumpal telinganya pakai kapas”begitu saran mereka.

Sekembalinya dari Brebes, Rohim segera menyelesaikan semua tagihan Agrowisata miliknya. Dia bisa bekerja dengan tenang sekarang, bersama Nora disisinya. Dia juga menanamkan modalnya di Restaurant milik Bang Karta.

“Cinta ….”

“Hmmm” sahut nora manja.

“Aku ingin punya 11 anak” bisiknya, mengelus rambut Nora mesra. Dari dulu ia memimpikan sebuah keluarga besar.

Gubrak……..







           

           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken