Ada Kodok Diwajahmu part 12




Teman Masa Kecil

            Diana  adalah anak bungsu Haji Imron, salah seorang sahabat Bapak. Salah satu orang yang terpandang di kotanya. Rohim tak begitu menyukainya. Waktu kecil, badannya kurus, dan hitam. Sekarang di umurnya yang ke 28, dia tumbuh menjadi seorang wanita cantik dengan body seksi. Rohim tak menyukainya.

Ia paling malas  dengan wanita sombong, dan mau menang sendiri. Segala kemauannya harus di turuti,serta maunya serba di layani, bak seorang putri. Hanya karena orangtuanyalah, sikapnya masih baik pada Diana. 


Namun, Diana tak mengerti, sikap baik Rohim, dianggapnya dia membalas rasa cintanya. Diana sangat gandrung dengan Rohim sejak mereka SMP. Rohim kakak kelas Diana. Dan ia tak peduli meskipun Rohim sudah menolaknya berkali-kali. Dimatanya, lelaki itu seperti Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid al Maktoum. Yang layak di tunggu dan diperjuangkan. 

Sejak kedatangannya, Diana selalu mengikuti kemana Rohim pergi. Rohim sampai kesal. “Diana, tolong jaga jarak denganku” pintanya halus. Diana pura-pura tak mendengar. Dan mengambil duduk di depan meja Rohim. Nora, yang akan mengambil berkas di meja Rohim. Mengambil nafas pendek. Tingkahnya menjadi kikuk. 

“Nora, setelah makan siang nanti, aku ada rapat dengan Pak Roni. Kalau bisa kamu ikut” Nora mengangguk. 

“Heh, perempuan udik! Kamu disini saja, biar aku yang menemani mas Abrar! Rohim tersentak. Dia marah, Nora dilecehkan di depan matanya. “Aku mengajak Nora, bukan kamu! Nora yang mengerti urusan ini! Katanya tajam, membela Nora. Dia hanya diam. Memberi waktu pada mereka.

“Dia siapa sih mas, aku ini calon istrimu, masak ikut meeting saja tak boleh!!”
Deg
Calon istri
Mendadak kepala Nora pusing. Dia pamit ke kebun, sebelum Rohim memberikan penjelasan.

Fikiran Nora kusut. Dadanya seperti diremas-remas, sakit sekali. Ia ingin menangis, tapi malu di lihat oleh Ucup dan Herman yang sedang menyiangi rumput. Nora menyandarkan badannya pada sebatang pohon mangga, tak jauh dari situ.matanya menatap kosong melihat awan yang berarak di atas langit biru. Andai aku bisa bersembunyi disana.Dan menghilang dari hadapan kekasihnya.

“Mba Nora, dipanggil Bu Kirun” Nora kaget, ia tak sadar Ucup berada di depannya. Dengan tangannya Ia membersihkan sisa rumput yang menempel di celananya lalu bergegas menemui ibunda Rohim. Tumben, ada apa lagi ini? Hatinya menjadi resah.

Nora ke rumah Rohim, yang jaraknya sekitar 10 menit dari kebun. Rohim sepertinya tak ada dirumah. Mobilnya tak ada di parkiran. Mungkin dia sudah berangkat meeting.

Rupanya Ibu Kirun, sudah menunggu Nora di teras, yang ditata apik oleh Rohim. Diana juga ada disana. Nora memberinya salam, mencium tangannya dengan takjim. 

Ini keduakalinya dia bertatap muka bersama beliau. Wajahnya ayu dan tutur katanya lembut. Sikapnya keibuan sekali. Nora menyukainya tanpa bisa dibantah.

“Ayo…silahkan duduk Nak. Nora” sapanya ramah. Ia mempersilahkan Nora duduk, dan meminta Bi Inah,pembantu disana, membawakan makanan dan minuman. Es timun suri bersama kastasngel terhidang menggoda Nora.

“Begini nak, Ibu langsung saja. Ibu denger, kamu dekat dengan Rohim” Nora tak menjawab. Tempat duduknya terasa,panas.

Ibu Kirun melanjutkan. Sedangkan Diana terus menatapnya tajam, seperti seorang tawanan.

“Diana itu, calon istri Rohim. Kami sudah menjodohkannya sejak mereka kecil, sayangnya, Rohim terus menolak. Ibu sampai hilang akal. Tolong bantu ibu ya nak, bujuk Rohim supaya mau menerima perjodohan ini. Mungkin ibu terlalu berlebihan, tapi….Ibu tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya kamu harapan Ibu” Nora tercekat, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Memenuhi permintaan Ibunda Kirun berat bagi dirinya.

“Baiklah Bu, akan saya coba” katanya dengan suara bergetar.

“Oh ya,  Ini pesangonmu. Aku minta, kamu berhenti bekerja dari sini. Aku tak suka melihat, Mas Abrar selalu membelamu.” Diana menyodorkan amplop tebal ke hadapan Nora. Baik Nora dan Bu Kirun terkejut.

“Apa ini tak sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan Rohim, Nak Diana?” Tanya Bu Kirun khawatir. Rohim pernah cerita, Nora adalah orang di balik suksesnya Agro wisata milik anaknya. Apa jadinya bila Nora di singkirkan?
“Ibu, tak setuju, ini diluar kewenanganmu!!” jawaban Bu.Kirun mengagetkan Nora. Diana sewot, ia mulai marah.Dan mengancam akan memberitahu orangtuanya supaya memutuskan investasi kepada suami Bu Kirun.

Nora melihat gelagat tak baik.

“Saya akan mengundurkan diri, semua berkas akan saya berikan nanti” dia menyerahkan amplop yang diberikan Diana.

“Sorry, saya bukan wanita matrealistis yang bisa di beli dengan uang” sorot matanya tajam menatap Diana. Diana melihatnya angkuh. 

“Saya pamit dulu, Bu” tanpa berkedip, Bu Rohim melihat punggung Nora. Diam-diam, dia menyukai gadis itu.

***
Sinar matahari cukup garang.Ucup datang tergopoh-gopoh ke tempat kediaman Nora. Yang saat itu sedang menyulam sembari menunggu Karmila melukis. Bik Supi sibuk di dapur bersama dua orang tetangganya, membuat Nugget lele. Nugget lele mereka mulai terkenal sekarang.

 Seperti dugaannya, Rohim marah besar, sewaktu mengetahui Diana meminta Nora berhenti bekerja. Dia mengusirnya dari rumahnya. Beruntung di cegah oleh Ibu Kirun. Nora, mendengarnya dengan hati sedih. Setelah hari pemecatannya, Ia belum sempat bertemu dengan Rohim. Setelah rapat bersama Pak Roni, Rohim terbang ke Bali mengikuti seminar Young Entreprenuership selama beberapa hari. Nora juga tak pernah bercerita, meskipun tiap malam Rohim menelponnya. Ia tak ingin mengganggunya.

Setelah Ucup pergi, Rohim datang menemui Nora. Wajahnya kelihatan lelah. Nora membuatkannya segelas teh lavender. Aromanya yang menenangkan, membuat otak Rohim yang rumit tenang.

Hati Nora tak karuan,pikirannya menggelayut, resah

“Cintaaaa…..” katanya pelan. Ia menatap rindu Nora. “Tolong, jangan dengarkan semua ocehan Diana. Aku tak suka dia.” Rohim menggenggam erat jemari Nora. Gadis menunduk. Dadanya sesak, menahan gejolak hatinya.

“Kang, bolehkah aku meminta sesuatu padamu” Rohim mengangguk. Ia merasakan Nora menjadi lebih pendiam, dan wajahnya semakin tirus.

“Sebaiknya akang turuti perjodohan itu. Diana gadis yang cantik, dia juga dari keluarga berada”  di sini ia terisak, menyadari posisinya sebagai anak haram. Nora tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia berlari kekamar, meninggalkan Rohim yang termangu.

Rohim masih menunggu Nora, sabar. Ia tak pulang.

“Pulanglah, nak, hari sudah larut. Tak baik di lihat tetangga” kata Bik Supi pelan.












Comments

Post a Comment

Tulisan Beken