Lunch Box Part 1




Part 1
            Lupita menunggu suaminya, tak sabar. Ernest masuk kerumah dan melewati Lupita tanpa ekspresi. Lupita mengekor di belakangnya. Mengambilkannya baju ganti dan menjerang air panas untuknya. Sementara suaminya membersihkan diri. Lupita menyiapkan malam malam.
            Ernest datang dengan wajah segar. Kumisnya juga sudah tercukur rapi. Lupita mengambilkan nasi dan lauk pauk untuknya. Ernest sibuk dengan ponselnya. Lupita gerah, namun ia tetap diam.
            “Bagaimana makan siangnya, mas, apakah kamu suka dengan masakanku” tanya Lupita riang. Tiap hari dia membawakan makan siang untuk suaminya.

            “Hummmm…..biasa saja” jawab suaminya datar, tanpa menoleh pada istrinya. Matanya sibuk menatap layar ponsel. Lupita kecewa. Ia tak bertanya lagi. Mereka menikmati makan malam dalam hening.
            Seperti malam-malam sebelumnya. Selepas makan malam. Ernest langsung ke kamar, sibuk dengan laptopnya. Dan Lupita, diam, dan memilih untuk merajut.
            Suasana rumah sepi. Lupita kesepian. Andai ada anak di tengah –tengah mereka. Mungkin hidupnya lebih ceria. Namun, mereka harus bersabar, meskipun usia perkawinan mereka memasuki usia 4 tahun. Lupita tak berhenti berharap.
            Ia meletakkan rajutannya. Matanya menatap kalender di depan kamar, Besok hari ulang tahunnya.
            Hhhhhhhhhh……ia bernafas panjang. Tak berharap hadiah atau kejutan yang Ernest berikan untuknya. Dunianya semakin sepi. Setahun terakhir, hubungan mereka makin hambar. Ernest semakin sibuk dengan pekerjaannya. Mereka jarang bercengkrama apalagi bepergian berdua. Ia tersiksa dalam sepi, inginnya dia bekerja, namun, Ernest teguh dengan pendiriannya. Ia lebih suka istrinya menjadi ibu rumah tangga. Seperti mamanya.
***
            Lupita terkejut, mendapati sebuah surat terselip dalam lipatan tissue di kotak makan suaminya. Ia membacanya pelan.
Hi cantik,
Makan siang yang selalu kau siapkan luar biasa lezat. Aku menikmatinya dengan rasa syukur dan cinta yang mendalam. Sebab, aku adalah lelaki yang paling beruntung.
Terimakasih sayang.
Pssst, kabar gembira. Ada 10 temanku yang memesan lunch box kepadamu, mulai besok. Apakah kamu bisa sayang?
Lupita terlonjak senang. Tentu saja ia bisa. Jangankan 10 orang, 50 orangpun mampu dia handle sendiri. Senyumnya merekah. Kerja kerasnya mulai terbayar. Tanpa sepengatahuan Ernest, Lupita kursus memasak.
Lupita membaca surat itu sekali lagi. Ada yang janggal. Lupita. Ia memasukkan surat itu ke dalam sakunya. Dan melirik pintu kamar. Senyap.
Aneh!
Kenapa suaminya tak memberitahunya langsung. Kenapa malah menulis surat untuknya. Kenapa pula, sikapnya berbeda dengan isi suratnya. Mungkinkah, selama ini Satpam disana, melakukan kesalahan? Seribu tanda tanya menari-nari di benaknya.
***
            Lupita menunggu Pak Sobri, di dekat pos satpam. Lelaki paruh baya itu tersenyum menemui Lupita. Dia datang bersama Ipul, salah seorang OB. “Ada yang bisa saya bantu, bu? Tanyanya ramah. Dia melihat di sebelah Lupita ada dua plastic besar. Lupita memberinya buah tangan untuk mereka.
            “Begini, Ipul. Ibu mau bertanya, apakah kamu tidak salah mengirim kotak makan untuk bapak? Tanya Lupita lembut. Ipul menggeleng. Ia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Mengirim kotak makan milik Pak Ernest ke ruangannya saat makan siang. “Apakah ada yang salah, bu” Ipul balik bertanya. Di sebelahnya, Pak Sobri mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali dia melirik arloji di lengannya yang hitam. Sebentar lagi Pak Ernest keluar.
            “Saya pamit dulu, Pak” Lupita berlalu, hati Pak Sobri lega. Tak jauh dari situ Ernest keluar dengan rekan kerjanya. Mereka saling bercanda menuju mobil Ernest. Pak Sobri enggan memberitahu Lupita. Sepasang mata memperhatikan mereka dengan seksama. Dia menunggu dengan sabar. Sampai mobil Ernest menghilang.
            “Pak Sobri ….” Suaranya mengagetkan satpam itu. Matanya nyaris jatuh, mengetahui Lupita sudah berada di belakangnya. “Lho…Ibu masih di sini” Lupita mengangguk. Kemudian, lelaki itu bengong. Lupita tak memberinya pertanyaan apapun. Meskipun ia sudah menyiapkan jawaban.
            Nalar Lupita berjalan. Insting perempuannya tak bisa di bohongi. Ernest tak menyentuh, makan siang yang ia buatkan. Lalu…diberikan kepada siapa makan siangnya? Pertanyaan itu berputar-putar di otaknya. Lupita pulang kerumah. Menyeduh kopi susu. Kakinya berselonjor dia atas sofa, di temani lagu is this love- whitesnake.
I find I spend my time
Waiting on your call,
How can I tell you, baby
My back’s against the wall
            Dimanakah cinta yang dulu menggebu. Bibir tipisnya mengulum senyum samar. Hatinya kosong, menatap daun akasia mengering dan jatuh tertimpa angin. Lama ia menatapnya. Pohon akasia itu, mereka tanam bersama-sama sebagai peneduh teras. Sekarang tumbuhan itu tumbuh menjulang. Ada beberapa burung yang membuat sarang diatasnya. Suara mereka ramai di pagi hari. Sesekali dia mengajak mereka bercengkrama saat memberi mereka remah-remah roti sisa sarapan. Mereka dating berebutan. Lupita menikmatinya, sebagai hiburan grastis. Membuat harinya bersemangat.
           
           

           
           


           
           
             

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken