Lunch Box Part 2




Part 2
            Lupita mengotak-atik nama untuk cateringnya. Setelah lama memilih, akhirnya dia sreg menggunakan namanya sendiri, LUPITA BOX. Kemudian di singkat LB. Senyumnya merekah, bangga.

            Lupita tak menyangka, orang-orang menyukai masakannya. Masakan rumahan yang dia modifikasi dengan resep kekinian. Hasil dari eksperiment sendiri. Hasilnya, dia tak perlu bersusah payah melakukan promosi di media sosial, sebab konsumennya dengan sukarela mempromosikan LB Catering  miliknya.

            Bagi Lupita, pelanggan adalah raja. Dia memberikan Personal Touch kepada mereka. Dia memiliki catatan tersendiri, tentang apa yang disuka dan tidak disukai oleh pelanggannya. Sehingga mereka merasa di istimewakan. Semakin hari, pelanggannya bertambah banyak. Lupita mengatur waktunya dengan ketat, supaya pekerjaan rumahnya tidak terganggu. Membuat menu untuk satu minggu, memudahkan baginya, untuk belanja, menyiapkan bumbu dan persiapan lainnya. Dengan begitu dia tidak ribet meskipun tanpa bantuan seorang assistan. Semua tak berubah. 


Seperti kemaren sore yang berawan, Lupita sudah rapi, memakai sedikit riasan, bibirnya di poles warna nude dan menyeprotkan wewangian di tubuhnya. Rambutnya di sanggul keatas. Lupita kelihatan elegan. Dengan sabar,dia menunggu Ernest pulang.

Hawa dingin masuk lewat celah jendela yang belum ia tutup. menyentuh kulit putih Lupita. Membuatnya terbangun dengan perasaan gugup. Selama beberapa detik, ia duduk termangu di pinggiran sofa. Lehernya kaku. Tak sadar, Ia tadi ketiduran di sofa, di ruang tamu. Tabloid wanita yang tadi di bacanya, tergeletak di lantai. Matanya melirik sepiring pisang goreng yang masih utuh di atas meja. Ernest belum pulang! 

Kemanakah Suaminya? Perasaan khawatir menyelimuti hatinya. Dia mengambil telepon genggamnya, dan menelpon Ernest. Sayang, telepon Ernest tidak aktif. Lupita ke kamar mandi, membasuh wajahnya. Air dingin, sedikit melegakan hatinya.

Ernest pulang mendekati adzan subuh. Dia langsung pergi tidur tanpa mengganti pakaian kerjanya. Lupita diam. Dia meneruskan pekerjaannya tanpa banyak kata.

***
Lupita membuat catatan harian semua pengeluarannya ke dalam sebuah buku. Seminggu sekali dia memasukkannya ke dalam sebuah file yang dia simpan di computer. Dengan begitu dia bisa tahu alur keluar masuk uang. Dan berapa banyak laba yang dia peroleh. Tangannya memijit keningnya pelan. 

Dua bulan ini, Ernest belum memberinya nafkah. Lupita bertanya,namun jawaban suaminya, membuatnya tertekan.

“Kamu sudah menghasilkan uang. Kenapa masih meminta sama aku!”

“Mas, apakah aku salah meminta nafkah padamu. Apakah kamu pernah melihatku berfoya-foya menghabiskan uangmu! Aku bekerja karena permintaanmu! Tidakkah kau ingat itu?” Ernest tercengang, mendengar jawaban Lupita. Baru kali ini, istrinya membantah perkataannya. Biasanya dia selalu menjadi istri penurut dan enggan untuk bertanya ini itu. Seingatnya, dia tak pernah menyuruh istrinya bekerja. Dia sendiri juga heran, kenapa masakan istrinya jadi trending topic percakapan teman-temannya di kantor? Ernest menggaruk-garuk rambutnya. Ia lalu pergi meninggalkan Lupita yang masih kesal. Dan mengambil kunci mobil. Ia pergi tanpa pamit. Lupita melihatnya dengan tatapan masygul.

***
Di sebuah Pujasera, Ernest duduk dibelakang pot palem merah. Di mejanya, ada segelas juice mangga yang baru ia seruput setengah. Dari gerak-geriknya sepertinya Ernest sedang menunggu seseorang. Matanya menatap ke arah jalan masuk.

Seorang lelaki berpakaian necis mendekatinya. “Maaf Ernest, kamu sudah menungguku lama ”Ia menggeser kursi dan duduk berhadapan dengan Ernest.

“Kamu mau pesan apa” tanya Ernest kaku. Lelaki itu menggeleng. Dia mengeluarkan rokok filter dari saku bajunya. Lalu menyulutnya pelan.

“Ada perlu apa kamu memanggilku kesini” Pranaja menghembuskan asap rokoknya. Dan memandang wajah sahabatnya, mencari tahu sesuatu yang membuatnya cemas.

“Apakah kamu yang meminta istriku, menerima pesanan lunch box?” Ernest menunggu dengan tegang. Sebab, selama ini, ia selalu makan siang di luar.

Pranaja berdehem sebentar. Dan mematikan rokoknya.

“Iya, apakah aku salah?” Ernest berdiri. Tak menyangka Pranaja akan bertindak sejauh itu.

“Bukankah, aku sudah membantumu memakan makan siang buatan Lupita! Sementara kamu, sibuk dengan sekretarismu!” Ucap Pranaja jengkel. Ia kesal dengan Ernest yang menyia-nyiakan kebaikan istrinya. Lupita seorang istri yang baik, dia menuruti apa kemauan Ernest.

“Lantas, apakah Lupita curiga?” Pranaja mengangkat bahu. Ia tak ingin bercerita banyak soal pesan yang pernah di tulis oleh Lupita.

“Ernest, Lupita tu bukan furniture, yang sesukanya engkau pakai. Kalau kamu tak cinta lagi padanya. Kenapa tak kau lepas saja dia. Biar aku yang menjaganya” Ernest kaget dengan perkataan Pranaja. Dia belum siap menerima kata-kata yang menohok. Meskipun dia akui, perasaan cinta pada istrinya berangsur menguap semenjak kehadiran Farah. 

“Kamu gila, Naja!” Jawab Ernest, setengah tersenyum.

“Tidak! Aku serius! Aku mencintai istrimu! Pranaja, tak perlu berpura-pura lagi. Dia tak mau main-main dengan perkataannya. Toh mereka sama-sama dewasa. Dia tahu Ernest, mereka  menjalin persahabatan semenjak SMA.

Ernest terpaku. Kerongkongannya terasa kering. Dia menyeruput Juice mangganya sampai habis. Pranaja memperhatikannya. Dia sudah lelah menasehati Ernest, sayangnya. Matanya dikaburkan cinta pada sekretarisnya yang seksi itu. Peperangan sudah dimulai. Dia rela menjadi bemper Lupita, asalkan perempuan itu bahagia.
           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken