Trappola




            Buana kembali memeriksa telepon genggamnya. Dan, terpaksa mengulang menelan  kecewa. Farah, istrinya tak membalas semua pesan yang dikirimnya tadi. Mulutnya kecut, Buana mengambil rokok di dalam tas, melihatnya sebentar kemudian menyulutnya dengan marah. Di depannya, ada belasan putung rokok berserakan di lantai.

             Ia bergumam sendiri. Menyesali sikap dingin Farah selama beberapa bulan terakhir. Dia lebih banyak diam, dan memilih tidur di ranjang berbeda. Buana banyak berpikir, sampai rambutnya berguguran, membuat kepalanya nyaris botak.


            Buana menghempaskan dirinya ke kasur. Sambil menghisap rokok yang tinggal setengah. Matanya menerawang, menatap kipas angin diatas plafon. Kipas itu berputar tak bersuara, mendinginkan ruangan yang mulai panas. Tapi tidak hatinya! Ia berbalik dan menatap tembok. Catnya sudah mulai suram.

            Kemarin, waktu Farah mandi. Diam-diam, Buana memeriksa telepon genggamnya. Farah tidak tahu, akal Buana. Dia tadi pura-pura pamit keluar, padahal hanya sampai di warung depan. Dan kembali ke rumah, setelah dirasa Farah sedang mandi. Perkiraannya tepat! Istrinya sedang mendendangkan lagunya Geisha, Buana tersihir oleh suara merdu istrinya. Farah,istriku yang lugu, bathinnya kelu.

Bermula dari tatap matamu
Menyihirku dan merasuk dalam hati
Kuteruskan menatap dirimu
Perlahan kularut dalam khayalku
            ***
            “Siapa laki-laki itu, Maaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

            “Hanya teman” jawab Farah sinis.Tanpa menoleh pada suaminya. Matanya terus tertuju di layar kaca. 

            Buana emosi. Ia mengambil remote dan mematikan televise. Farah berdiri dan menjegal kakinya. 

            Bruk….

            Buana tersungkur. Pelipisnya mengenai sudut meja. Kepalanya pusing. Ia duduk dan menghela nafas. Farah tak menggubris. Ia asyik menikmati tayangan sinetron. Emosi Buana mencapai ubun-ubun. Ia tak terima Farah memperlakukannya seperti itu. Ia merenggut air yang ada di depan istrinya. Lalu….menyiramkannya ke wajah Farah.

            “Mau membalas, hayoooo!! Tantang Buana. Matanya merah memandang istrinya. Farah melengos, dan masuk ke kamarnya, dengan mulut terkunci.

            Buana seperti orang gila. Gelas yang dipegangnya, Ia lempar dan mengenai pintu kamar Farah.Gelas itu, pecah. Kacanya berceceran ke lantai.

            “Aku sudah capek! Kita bercerai saja” teriak Farah dari dalam kamar. Buana semakin kalap. Dengan membabi buta, ia lempar semua barang yang di dekatnya. Tak terkecuali televisi LCD 32 inc yang baru empat bulan mereka beli.

            Suasana rumah bertambah panas. Suara barang jatuh dan teriakan Buana di ruang tamu ternyata tak mempengaruhi Farah untuk keluar kamar. Ia asyik sendiri memegang Ipadnya. Tangannya sibuk membalas pesan di whatsapp. Dan tertawa terbahak-bahak, seperti anak abege jatuh cinta.

            ***
            Ini pertama kalinya Buana sibuk di meja kerjanya. Setelah berbulan-bulan, ruangan itu dia lupakan, setelah bisnis yang dirintisnya bangkrut. Haji Amru yang dikenal baik olehnya, ternyata tega menipu. Uang ratusan juta miliknya lenyap tanpa sisa. Buana, hanya bisa meratapi kebodohannya. Ia mudah percaya dengan orang!

            Buana sibuk mengunduh gambar. Dan menyimpanny di memory telepon genggam miliknya. Bibir tipisnya tersenyum samar.

            Sementara di kamar sebelah. Farah tekun memeriksa pesan di messenger. Hidupnya semakin bergairah, setelah berteman dengan Rangga di dunia maya. Hubungan mereka semakin hari kian akrab. Dibandingkan dengan Buana, Rangga jauh lebih perhatian padanya. Ia suka di recokin oleh pesan singkat Rangga. Meskipun itu hanya sekedar mengingatkannya makan. Buana?? Hhhhh..dia sibuk sendiri, dengan teman-temannya. Apalagi semenjak bisnisnya jatuh. Buana jarang memperhatikan Farah. Hubungan mereka semakin renggang dan dingin. Ia mulai membenci Buana dan semua kebiasaannya. Farah muak dengan kehidupan nyata!

            Di mata Farah, Rangga adalah lelaki sempurna. Bukan hanya ganteng,tapi dia juga mapan. Minggu depan, mereka berjanji kopi darat di sebuah hotel di kawasan Raja Ampat, Papua. Rangga sudah memesan tiket bolak balik untuknya, dan memberinya hadiah lingerie merah untuknya. Lingerie itu, cantik sekali. Sangat pas di badan Farah. Angan Farah melambung tinggi.

            Farah menunggu Rangga, di kamar. Menikmati segelas champagne yang sudah di pesan olehnya. 

Bip.

Sebuah pesan masuk. Farah membukanya. Itu dari Rangga. Lelaki itu menggodanya.Fikirannya tertumpah pada Rangga. Seperti apakah dia? Adrenalin Farah naik.

Berbeda dengan Farah. Buana terlihat emosi membaca pesan masuk di messengernya. Berkali-kali ia menelan ludah, hatinya panas. Ia kemudian berdiri, memandang seekor burung bediri anggun di kabel listrik. Ia kembali ragu dengan keputusannya, tetapi….ini sudah terlalu jauh. Lalu….Buana melangkah mantap.

Farah membuka pintu kamarnya. Seorang waitress membawakannya malam malam spesial. Dia semakin terlena dengan sikap Rangga yang memanjakannya. Perasaannya semakin dalam pada Rangga.

Rangga belum juga datang. Farah menunggu tanpa ragu. Beberapa kali ia menguap. Perjalanan jauh membuat fisiknya lelah. Dan tanpa disadarinya, iapun terlelap.

Buana membuka pintu kamar. Menenangkan hatinya yang marah. Farah menggeliat, menyadari ada seseorang yang datang. Wajahnya mendadak pucat.

“Kenapa kamu di ssinnniiiii, mas” tanyanya gugup pada Buana. Yang memandangnya tanpa expresi.Lelaki itu tersenyum, mengejek.

“Aku…Rangga” Farah bengong. Tak tahu harus berbuat apa.



           

           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken