Kopi Tubruk Indun Part 1




Part 1
            Menjelang siang, Indun bersiap-siap menggelar dagangan. Indun patut berbahagia, sebab hari ini, cuaca cerah, tak ada sepotong mendung yang menghalangi keindahan langit. Matahari leluasa memancarkan cahayanya.

            Indun menata kue jadah dan pisang goreng di atas namplan plastik berbentuk segi empat. Lalu di letakkannya nampan itu di atas meja kecil, berdekatan dengan air mineral dan mie gelas. 

            Selepas lulus SMA, orang tua Indun tak memiliki biaya untuk menyekolahkan Indun ke tingkat yang lebih tinggi. Sambil menunggu panggilan kerja, akhirnya dia memutuskan untuk  berjualan kopi di pangkalan ojek, tak jauh dari rumahnya.


            Modalnya, dia dapat dari membuka celengan ayam miliknya. Ada sekitar 300 ribu lebih 500 rupiah! Siapa tahu to…uang itu bisa berkembang. Dia bisa menabung untuk kuliah.

            Mas Irul, adalah salah seorang yang membantunya selama ini. Berkat dia, Indun bisa berjualan di pangkalan Ojek. Selama ini pula, dia yang membantu Indun membawa pulang pergi dagangannya. Dan selalu menolak saat di beri bayaran.

            “Sudahlah, uangnya kau simpan saja”
            “Tapi..mas…aku nggak enak. Mas kan nyari uang juga” tolak Indun halus.
            “Kalau kamu tak enak, buatkan saja aku kopi grastis. Adil kan” begitu katanya. Indun mengiyakan, meskipun tak sebanding. Bila di hitung, harga kopinya yang di jualnya jauh lebih murah dengan biaya pulang pergi yang harus ia bayarkan pada mas Irul. Tapi yaaa..sudahlah. ia tak mau berdebat dengannya.

            Indun, tak pernah berpikiran macam-macam tentang kebaikan Irul, baginya dia seperti seorang kakak. Usia mereka terpaut 4 tahun di atasnya. 

            “Haisssss…bengong saja, tolong kopi tubruknya satu, Ndun” Indun tertawa dan mberikan dua jempolnya kepada Irul. Lelaki itu tertawa senang.

            “Jangan kebanyakan gula, lho”
            “Beres, boss, nggak bakalan” Indun sudah tahu selera Irul. Dia menyukai kopi tubruknya pahit. Takaran kopinya sama dengan selera ayah Indun. 1:1.

            Irul menyeruput kopinya pelan. Matanya mengerjap-ngerjap puas. Cita rasa kopi tubruk Indun luarbiasa nikmat di lidahnya. Racikannya benar-benar pas. Membuatnya ketagihan, ingin lagi dan lagi.

            “Ndun…apa resep kopi tubrukmu” pertanyaan Irul menghentikan keasyikan Indun yang sedang membaca Koran.

            Indun berpikir sejenak.
            “Emangnya kenapa?” ia balik bertanya.
            “Kopinya enak. Sungguh! Ini kenyataan, bukan aku saja lho..yang kesemsem dengan kopi buatanmu. Teman-temanku juga..coba kamu tanya, Gilang, Yudha, Mukti, Ali..pasti mereka jawab iya” Indun tergelak. Sampai Koran yang dibacanya terjatuh.

            “Bhuhahahhahahaha….nggak percaya”
            “Eh….beneran, lho”

            “Ayolah….kasih bocorannya” pinta Irul, dengan wajah sedikit memelas            “Hmmmmm……apa…ya….?” Indun kelihatan bingung. Dia tak memiliki resep apapun, sehingga dia tak tahu harus menjawab apa. Dulu…sewaktu neneknya masih hidup, nenek tidak pernah membeli kopi bubuk di pasar. Dia membuatnya sendiri. Biji kopi di belinya di pasar, lalu ia telaten menyangrai dan menumbuknya sendiri. Benar-benar asli tanpa campuran apapun. Indun kecil suka sekali dengan aroma kopi yang dihasilkan. Aromanya wangi, dan ia suka berlama-lama menemani sambil mendengarkan neneknya melantunkan tembang Asmaradana. Suara nenek merdu…menenangkan hatinya. Dan tanpa sadar ia melantunkan tembang tersebut.

Poma poma wekas mami
Anak putu ojo lena
ojo katungkul uripe
Lan ojo duwe kareman
Marang pepaes donya
Siang dalu
Dipun emut
Yen uripe manggih antaka
Lawan ojo angkuh bengis
Langut lanas calak lancing
Langar ladak sumolong
Ojo Ngidak
Ojo ngepak
Lan Ojo siya-siya
Ojo jail
Dhemen padu
Lan ojo padha wadulan

            Irul khusu’ mendengarkan nyanyian Indun, sembari menyesap kopinya yang tinggal sedikit. Dan menikmatinya  sebagai hiburan gratis yang menenangkan otaknya.

            “Ndun…..” Indun menoleh
            “Iya…”
            “Suara kamu bagus….” Indun terkekeh.
            “Baru tahu ya mas…” mata Irul mendelik, kesal dengan ledekan Indun.
            “Suara itu, bisa kamu pakai untuk mempromosikan kopi tubrukmu! Timpal Irul. Sebelum pergi mengantar pelanggan. Indun merenungkan kata-kata Irul. Hampir 4 bulan, dia berjualan di sini. Selama itu pula, ia mencari cara bagaimana membuat dagangannya laris manis. Tanpa melakukan hal-hal menjijikkan. Sebab, setelah dipikir matang, ia memutuskan untuk tak bekerja dengan orang lain.

***
            Keesokan paginya, Irul heran dengan dandanan Indun. Pagi itu, Indun memakai kebaya dengan jarik, rambutnya di cepol ke belakang, dengan hiasan bunga kamboja. Terlihat anggun. Sampai Irul susah mengatupkan kedua bibirnya.
            “Kamu mau kemana? Sekarang, bukan hari Kartini,kan?? Tanyanya, melongok kalender yang yang dia pegang.

            “Ya jualan kopilah. Emangnya mau kemana” goda Indun jenaka. Merontokkan argumentasi yang akan di keluarkan oleh Irul.
            “Ini, brand ku sekarang, mas…..” Irul melongo, mengingat-ingat pembicaraan mereka kemarin.

            Setelah mendapat ide dari Irul. Indun langsung membongkar lemari, ia ingat, Ibu masih menyimpan beberapa kebaya dan kain panjang milik almarhum nenek. Ibunya sempat heran, untuk apa Indun memakai kebaya. Dan mempertanyakan keputusannya memakai kebaya.Ibu khawatir, Indun nantinya ribet melayani pembeli.

            Indun mengerti, namun..Ia bersikeras. Ia ingin berbeda dengan penjual lain. Setelah mendengar penjelasannya, Ibu mengerti. Malam itu ia membantu Indun mengecilkan kebaya neneknya. Indun mencobanya….

            “Kamu cantik, nduk” puji ibunya. Ia bangga dengan Indun. Tak pernah mengeluh dengan hidupnya. Hasil berjualan kopi, sedikit membantu perekonomian mereka.

           
           
                       
           

           
           



           

Comments

Tulisan Beken