Kopi Tubruk Indun Part 3




Part 3

            Indun duduk termangu, di atas sebongkah karang besar, di pinggir pantai. Matanya menatap riak-riak gelombang yang berlarian menuju daratan. Ia menghembuskan nafas pelan. Belakangan ini, dia banyak menganggur. Pemintaan manggung baik off air maupun on air, sepi. Indun, mulai sadar, karirnya mulai meredup.

            “Tak ada salahnya, kamu mencoba lagu dangdut?” Irul menyodorkan es degan ke tangannya. Indun menyesapnya pelan. Matanya masih menatap laut. Irul menangkap kegelisahan dimata Indun. Hatinya turut terluka, melihat gadis yang diam-diam di cintainya tampak sedih. Mungkinkah ia sedih memikirkan karirnya? Irul bertanya-tanya sendiri.


            “Apakah…ada kata-kataku yang salah, Ndun….” Indun menggeleng. Ia memaksakan menyunggingkan senyumnya. Hatinya terasa berat untuk mengungkapkan keinginannya.

            “Bicaralah……aku akan duduk di sini, menunggumu bercerita” Irul yang tadi berdiri, kini duduk di samping Indun. Indun menggeleng lagi. Ia tak memaksa. Mereka duduk menikmati hembusan angin pantai yang menggelitik pipi.

            “Aku….lelah..mas, lelah sekali….” Suaranya tersapu oleh suara ombak. Keceriaan Indun hilang. Mendung menggelayuti matanya. Ia teringat pembicaraan dengan ibunya.

            “Kapan, kamu menikah, Ndun….”

            “Ibu ini ngelantur. Boro-boro menikah. Pacar saja aku nggak punya” Jawabnya terkekeh. Dia menggelayut manja di pundak ibunya. Ibunya membelai rambut panjangnya.

            “Apa kamu ingat Om Daniels…?” Indun mengeryitkan keningnya, mengingat-ingat nama seseorang. Daniels, lelaki bertampang kasar, yang memiliki sejumlah usaha termasuk swalayan dan rumah makan. Beberapa kali ia bertemu dengannya, di sebuah acara.

            “Kenapa memangnya, bu…..”
            “Dia sedang mencari istri, kemarin dia dateng kesini” sahut ibunya antusias.
            “Bukankah dia sudah menikah? Lantas….apa kaitannya dengan diriku, bu….” tanyanya polos. 

            “Dia ingin membantu menaikkan pamormu lagi, Ndun. Tapi…dengan syarat dia ingin menikahimu, secara siri” tak ada raut penyesalan di wajah ibunya, setelah melontarkan kalimatnya. Indun tertegun, sudah matikah rasa di hati ibu? 

            “Kita perlu uang banyak, Ndun. Kamu lama tak bekerja. Ibu khawatir, kita kembali ke kontrakan reot dulu, kamu mau ya, Ndun…..”

            Indun tak menjawab. Dia menelungkupkan kepalanya, jauh ke dalam bantal.  Ia tiba-tiba kangen bapaknya. Di mana kamu Pak, Indun kangen sama bapak?

            Irul melihat arlojinya. Sebentar lagi malam. Dia menoleh kearah Indun yang masih duduk membisu. Posisinya masih sama seperti tadi. “Jam berapa, kamu bertemu dengan Om Daniels” 

“Jam 7 malam” dia menjawab dengan tatapan enggan.
***
            Dari balik kaca spion, berulangkali Irul memandang wajah Indun. Keajaiban kosmetik tak mampu menutupi wajah muramnya. Indun menjadi lebih pendiam, setelah bertemu dengan Om Daniels. Entah apa yang mereka bicarakan. Sebab, Om Daniels memintanya menunggu di luar. .

            “Kalau kamu tak suka, jangan lakukan..Ndun” Irul mencoba menghentikan keheningan. Dia merasa bersalah, telah mendesak Indun, menyetujui idenya, dia akan menjajal lagu dangdut untuk album keduanya. Dan merubah image yang selama ini lekat Mumpung ada Om Daniels yang mau memproduseri albumnya.

            Indun tak bereaksi, dia menutup wajahnya dengan sehelai saputangan. Irul gemas. Dia menepikan mobilnya.

            “Indun….bicaralah! Suaranya mulai tak sabar.
            “Semua sudah terlambat, Mas. Kita lakukan saja apa yang telah di sepakati”

            “Apakah ada yang kau sembunyikan, Ndun….” Indun tak menjawab. Rasa hampa mengigit relung hatinya. Inikah yang di inginkannya? Dia mendesah berat. Cita-citanya untuk kuliah tercapai, dia juga sudah membelikan rumah untuk ibunya, dia juga memiliki sejumlah tabungan di bank dan beberapa asset tak bergerak yang ia investasikan untuk masa tuanya nanti. Namun…..kenapa dia tidak bahagia?

            Mulanya, Indun bersuka cita menjadi artis. Dia berusaha keras supaya masyarakat menyukainya. Dia tak pernah mengeluh, meskipun harus kerja dari pagi sampai tengah malam. Asalkan bisa membuat ibunya bahagia. Sebagai anak, wajib baginya untuk membahagiakan orangtuanya.

            Tetapi, Ibunya berubah. Tiap hari sibuk, ntah apa kesibukannya. Pembicaraannya selalu uang-uang saja. Hati Indun ngenes, membayangkan dirinya seperti sapi perah yang harus giat bekerja, demi menghasilkan pundi-pundi emas yang ia serahkan pada ibunya. Ibunya telah mengabaikannya. Indun nelongso. Apalagi ibunya berencana menikahkan siri dengan Om Daniels. Hidupnya makin tertekan.

            “Ndun……, aku tak suka melihatmu diam membisu begini. Bicaralah..!!
            “Apa gunanya mas, semua sudah terlambat. Aku sudah menandantangani kontrak”
            “Apanya yang terlambat, Ndun…… Aku tak mengerti arah pembicaraanmu”
            “Om Daniels, akan menikahiku dua hari lagi” Irul seperti tersambar petir, mendengar kata-kata Indun. Dia tak percaya.

            “Jangan becanda, Ndun….kamu tahu, candaanmu garing banget” senyumnya kecut menatap mata Indun.

            “Untuk apa juga bohong, tak ada manfaatnya sama sekali buatku” tenggorokan Irul terasa kering. Dia mengambil sebotol air mineral, meminumnya cepat, lalu menginjak-injak botol dengan rasa marah.

            Dia kesal, kenapa Indun tak bercerita padanya soal rencana licik Om Daniels. Rasa bersalahnya makin besar.
           
           

           

Comments

Tulisan Beken