Kopi Tubruk Indun Part 2




Part 2

            “Wuidiiihhhhhhhhhh..kamu mau karnaval dimana, Ndunnn, cakep bener…..” Gilang dan kawan-kawannya terkejut dengan penampilan Indun pagi ini. Indun, yang di tanya malah cuek. Dia sibuk menata mengelap gelas.

            “Nduuunnnnnnnnnn,…kamu dengerin nggak sih” Indun terpaksa tertawa melihat wajah lucu Gilang yang cemberut, gimana nggak…ngakak, melihat tampan culun Gilang yang mirip dengan Dono Warkop.

            “Mas Gilang…..ini lagi cemberut, apa lagi kebelet ke belakang” Gilang sewot.
            “Serius, aku Nduunnnnn….cobalah jawab pertanyaanku, singkat dan padat tanpa embel-embel apapun”


            “Aku pingin berbeda….” Gilang memonyongkan mulutnya, ia masih gagal paham dengan penjelasan Indun.

            “Maksudnya…….” Ia kembali bertanya. Irul yang sedari tadi diam, gemas. “Sudah….jangan bertanya terus, capek aku dengernya. Ndun….tolong bikinkan kopi dua” Gilang langsung terdiam saat Irul protes. Lelaki itu duduk di samping Irul, tak berani komentar.

            “Nyanyi yang kemaren lagi dong, Nduunnnnn…..”pinta Irul. Indun tersenyum, Gilang bingung, tapi…saat dia mendengar suara Indun, dia melongo…….Suara Indun, merdu…. ditambah kicauan burung pipit yang menetramkan jiwa, membuat Gilang terpesona, nyanyian itu menggetarkan sukmanya, membawanya ke suatu masa yang belum pernah ia singgahi. Ia sukses tertidur pulas. Ngik…ngok…ngik..ngok….bunyi ngoroknya terdengar pelan, ikut mengiringi suara Indun.

            Mukti yang baru datang dari mengantar penumpang, senewen melihat Gilang pagi-pagi sudah tidur. Sifat jahilnya muncul.

            “Gil, cepetan bangun, ada Adel” Saking semangatnya Gilang langsung terbangun.
            Jeduk…kepalanya terantuk tiang penyangga. Semua yang ada di situ tertawa terbahak-bahak.

            “Elap ilernya gih…..bau!” celetuk Mukti membuat Gilang keki.
            “Gara-gara Indun nih” timpal Gilang, sebelum ngeloyor pergi. 

                        ***
                        Ibu yang biasanya kalem, pagi-pagi suaranya kenceng seperti tukang obat di pasar. Dia tak sabar menunggu Indun mandi. “Cepetan mandinya, Ndun…, Ibu juga mau mandi” Indun cuek bebek di dalam, sengaja di lama-lamain lulurannya. Pintu di gedor-gedor. “Sabar, dikit Bu…tanggung, belum kelar nih” Indun, tersenyum simpul.

            “Nggakkkk bisaaaaa, ini udah di ujungggggggg, arrggggggggg…..” teriak ibu semakin kenceng.

            “Nggak bisa! ibu kerumah mas Irul dulu atau ke rumah Wak Kamil” Indun bersikukuh, lulurannya setengah kering.

            “Bocah semprul!!” Ibunya terbirit-birit ke rumah Irul. Numpang toilet!! Untungnya Irul ada di rumah. Sehingga Ibu Indun leluasa memakai kamai mandinya. Mumpung gratis.

Irul serius menonton TV, tiba-tiba dia terkejut, melihat video yang di unggahnya muncul di Televisi. Spontan, dia teriak-teriak. “Buuuu…ada Indun di Tivi!!! Mendengar nama Indun, Ibu langsung keluar kamar mandi. Mereka berdua melonjak-lonjak girang. Ibu pulang dengan hati bangga. Dia membayangkan mereka tinggal di rumah yang ada kolam renangnya. Kemana-mana di antar sopir.

 “Ndun….kamu harus siap-siap jadi artis” kata Ibu, menyematkan bros kecil di dada Indun. Indun tak terpengaruh. Dia tetap seperti biasa, menjalankan tugasnya sebagai penjual Kopi Tubruk.

Orang-orang kampong, di tempat Indun heboh. Mereka membicarakan video yang di unggah oleh Irul. Mereka semua terpesona dengan suara Indun. Bayangkan saja, dalam beberapa jam yang menonton videonya lebih 1 juta orang! Bagai sebuah mimpi, hidup Indun berubah drastis dalam waktu semalam.

***
Indun menjadi artis. Dia wora-wiri masuk tivi. Saking seringnya…sampai anak balitapun hafal dengan wajahnya. “Ndun..ndun…” Indun tersenyum, kala mereka memanggil namanya. Nama itu, terdengar sexy, di telinganya, nggak kalah pamor dengan Selena Gemezz. Indun tetap bersikukuh memakai nama aslinya, Indun. meskipun Irul  dan ibunya pernah menawarinya untuk mengganti nama, supaya makin keren, seperti artis lainnya. 

Indun..tetaplah Indun, tak ada yang berubah dari dirinya. Menjadi artis terkenal tak membuat Indun lupa diri. Dia masih suka mengunjungi teman-temannya di pangkalan ojek. Seperti hari ini….Dia datang bersama Irul, yang kini menjadi managernya. 

“Mau ngojek, Pak….” Sapa Gilang. Indun membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Irul langsung membekap mulut Gilang, sebelum perusuh itu teriak kencang.Gilang meringis, Mereka duduk di amben kecil. Tempat, dimana dulu, Indun suka berleyeh-leyeh menunggu pembeli. Indun menghirup udara dalam - dalam. Lalu dibukanya tas plastic yang tadi dibawanya, dan di berikannya pada Gilang. Hidung Gilang kembang kempis, mencium aroma nasi padang. Perutnya lapar seketika. 

“Apa aku boleh memakannya, sekarang, Ndun…” tanya Gilang polos. Indun mengangguk, geli. 

Gilang, Yudha, Mukti dan Ali serta Irul adalah sahabatnya. Mereka suka menolongnya dan sukarela menjaganya, sehingga dia aman dari godaan lelaki iseng. Sekarang, saatnya membalas jasa mereka. 

Saat Gilang asyik makan, Indun mengambil kunci motornya. Kemudian, Irul datang bersama dua orang lelaki yang membawa mobil Pick up. Tanpa banyak kata, motor itu di naikkan ke mobil. Dan pergi begitu saja. 

“Kalian berdua nggak punya otak!! Gilang ngamuk, Indun dan Irul pura-pura budeg tak mendengarkan semua cacian Gilang. Dengan santainya…Indun membuka tasnya. 

“Udah..jangan ngamuk, kasian cacing dalam perutnya. Protes nanti!! Oh ya…motormu ku tukar. Ada dirumahmu sekarang sedangkan kunci dan surat-suratnya…ada disini” Dia meletakkan amplop coklat di depan Gilang, yang masih belum ngeh dengan yang di maksud Indun.

Gilang…membuka amplop. Dia langsung menangis dan sujud syukur. Sudah lama dia mengidam-idamkan motor baru. Hanya saja, dia tak memiliki banyak uang. Sedangkan untuk mencicil, dia tak ada keberanian. Takut tak bisa bayar.

“Makasih, Ndun……semoga Allah, memberikan rezeki lebih buatmu” ucap Gilang terbata-bata. Indun tersenyum. Dia lalu pamit pulang. Tapi Gilang memcegat langkahnya.

“Ndun…..terus….bagaimana caranya…aku pulang….” Indun dan Irul saling pandang.
“suka-sukamu lah…” sahut Indun, tertawa lepas. Kemudian Ia masuk ke dalam mobilnya. Hatinya bungah, bisa membantu temannya.





Comments

Tulisan Beken