Lunch Box Part 10





Part 10

            Hari-hari berjalan begitu cepat. Kesehatan Ernest yang sempat drop, berangsur membaik, apalagi setelah dia bertemu dengan Kenzo. Lupita juga tidak mempersulit Ernest  untuk mengunjungi Kenzo, dengan catatan, Ibu Ernest tidak mengungkit lagi soal perjodohan mereka. 

Tanpa sepengetahuan Lupita. Ernest sempat mengecam perbuatan ibunya. Dia menyadari, selama ini telah berbuat buruk pada Lupita dan anaknya. Mestinya mereka bersyukur, Lupita tidak menyimpan dendam.

            Senyum Lupita juga semakin mengembang, saat mengetahui, hatinya semakin kukuh pada Pranaja. Mereka tak sungkan lagi, memperlihatkan rasa sayang mereka berdua. Hal ini, di ketahui oleh Ernest yang tampak luarbiasa tegar menerima. 

            “Kalau kamu benar-benar cinta  pada Lupita dan Kenzo, tolong jaga mereka untukku, dan aku akan marah besar  padamu, Naj. Bila kamu sampai menyakiti mereka” ucap Ernest suatu hari, saat dia makan siang bersama Pranaja. Kedua sahabat itu tertawa lepas. Mengetahui mereka sama-sama jatuh cinta pada wanita yang sama.


            “Jangan khawatir, sob. Mereka berdua nafasku, cinta mati aku mencintai mereka, kau tahu itu, kan?” Mata Pranaja berbinar.

            “Segeralah menikah, supaya aku bisa melihat kalian bahagia”
            “Mauku, sih, tapi….Lupita..sepertinya masih sibuk dengan LB Catering”

            “Apa kamu perlu bantuanku, untuk membujuknya” Pranaja menggeleng, lalu menepuk pundak sahabatnya. Dia tahu, Ernest masih menyimpan harapan untuk Lupita. Itu di ketahuinya, saat tak sengaja membaca catatan Ernest yang tercecer saat menjenguknya di Rumah Sakit.

            Pertumbuhan Kenzo semakin pesat. Celotehannya ngangenin banyak orang. Kehadirannya seperti malaikat kecil, penghibur jiwa-jiwa kosong. Seperti hari ini, ditemani sang mama, dan Daddynya. Dia bertemu dengan Ernest, di taman, tak jauh dari rumah mereka. 

Awalnya, Lupita sempat gugup, saat membawa Kenzo untuk pertama kalinya bertemu dengan mantan suaminya. Akankah dia akan memperkenalkannya sebagai ayah Kenzo atau sebagai temannya. Dia tak ingin membuat Kenzo bingung nantinya
Namun bagaimanapun juga, Ernest adalah ayah biologisnya. Dia berhak untuk mengetahui. Suatu hari nanti. Pranaja mencairkan suasana. “Ayo, nak, cium tangan ayah dulu” Pranaja membawa Kenzo ke hadapan Ernest. Bocah itu itu tersenyum ,tangan mungilnya langsung mencium tangan Ernest!

Deg…..
Ernest terkesima untuk beberapa detik. Mengamati seraut wajah imut di depannya. Matanya berkaca-kaca. Dipeluknya anaknya dengan erat. Rasa cinta dihatinya semakin tumbuh. Semangatnya untuk sembuh, kembali. Dia ingin melihat buah hatinya tumbuh besar.

“Ini…ayah…Kenzo. Maafkan..Ayah..nak….” Kenzo, bengong, dia menatap mamanya. Tak mengerti. Diam-diam….Lupita menyusut airmatanya, haru.

“Main bola,yuk” Pranaja melempar bola di dekat Kenzo. Dia melepaskan pelukannya. Anak itu tertawa dan kakinya menendang bola yang ada di dekatnya.

Ernest menepi, dan duduk bersama Lupita. Melihat keceriaan kenzo dan Pranaja bermain bola.

“Terimakasih, kamu beri aku kesempatan, bertemu dengannya. Dia ganteng yah, mirip aku.” Lupita mengangguk. Tanpa kehadiran Kenzo, dia tak tahu bagaimana hidupnya.

Ernest menghembuskan nafasnya pelan. Angin semilir, menjatuhkan daun kering, dan jatuh di rambut Lupita, tanpa ia sadari. Ernest mengambilnya. Daun itu di simpannya dalam saku bajunya.

“Aku iri dengan Pranaja, apalagi hubungan kalian bertiga begitu dekat” Lupita menoleh.
“Apa yang ada dalam pikiranmu, mas….” dilihatnya, mata Ernest jauh menerawan, melihat Pranaja yang mengangkat Kenzo tinggi ke udara. Tiba-tiba rasa cemburu menyerangnya. 

“Lupita….tidak adakah, kesempatan buatku lagi?” Dia lupa dengan janjinya sendiri. Mata Lupita mendelik, Ernest menatapnya.

“Aku tidak bohong! Bahwa aku masih cinta kamu! Bathinku tersiksa, melihat kebahagiaan kalian bertiga…..! ucapnya terengah-engah,

“Cukup….mas!!! Hubungan kita sudah berakhir. Cintaku sudah hilang, semenjak kamu memilih Farah! Lalu dia mengemasi barangnya dan mengajak Kenzo pulang. Tanpa pamit pada Ernest dan Pranaja. Pranaja, melihat ada sesuatu yang tak beres. Dia mengejar mereka. Tetapi….terlambat, Lupita dan Kenzo sudah naik taxi.

“Kenapa Lupita, apakah kamu menyakiti dia lagi?” cecarnya pada Ernest.
“Maaf, aku tak bisa kehilangan mereka. Sama sepertimu, Lupita dan Kenzo adalah nafasku. Kita sekarang, bersaing.” Pranaja tersenyum kecut, menyadari tipu daya Ernest yang memukau beberapa waktu lalu.

“Terserah kau saja, dan aku tak takut dengan cara licik yang biasa kalian pakai.” Dia meninggalkan Ernest sendirian.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Lupita memikirkan kata-kata Ernest. Dan memandang buah.” Apa Kenzo sayang daddy?” Putranya mengangguk, semangat. Lupita menciuminya. Kebahagiaan Kenzo, segala-galanya bagi Lupita.

Lupita mengambil telepon genggamnya. Dia menelpon seseorang.

Di tempat lain, Pranaja begitu gembira, dia melonjak-lonjak senang, seperti orang mendapat lotere.”Yes!! Yes!! Yes!! Teriaknya berulangkali. Orang-orang di jalan, menatapnya aneh. Pranaja mengabaikannya. Kabar gembira membuatnya lupa.

***
Lupita dan Pranaja sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Lupita ingin, perkawinan keduanya ini, sederhana. Hanya di hadiri oleh keluarga inti dan sahabat dekat. Tetapi…ibu Lupita, ingin perkawinan anaknya di adakan di sebuah hotel berbintang lima  dan mengundang banyak orang. Termasuk client Lupita di LB Catering. Tentu saja Lupita menolaknya mentah-mentah.

Daripada uangnya di hambur-hamburkan untuk pesta. Lebih baik untuk tambahan modal usahanya. Hubungan mereka sempat tegang. 

Pranaja berusaha mendinginkan keduanya, dia berinisiatif memberikan voucher belanja dan liburan selama 3 hari ke Luar Negeri pada calon mertuanya. Dan membujuknya supaya memenuhi keinginan putrinya. Cara Pranaja berhasil. Ibu Lupita memberikan restunya tanpa rasa kesal.

Lupita yang tahu belakangan, menjadi kesal dengan cara Pranaja. Dia tak suka ibunya menjadi matrealistis, nantinya. Tetapi jawaban Pranaja membuatnya tak berkutik. “Sesekali menyenangkan hati orang tua, boleh kan?” Dia mengelus tangan Lupita lembut. Hati Lupita melunak. Diakuinya, Pranaja memang pintar mengambil hati.

Kring…..
Lupita mengangkat telepon. Wajahnya berubah menegang…..lalu dia memberikannya pada Pranaja. Ibu Ernest menangis tergugu, memberitahu, Ernest dalam keadaan kritis.
Mereka berdua saling berpandangan.

“Ayo….kita kesana…jangan takut” Lupita mengangguk, lemah. Hatinya tak enak.
Ayah Ernest menunggu mereka di teras. Wajah tuanya tak dapat menyembunyikan gurat-gurat kesedihan yang jelas tampak. Matanya berkaca-kaca, memeluk Pranaja, Lupita. Saat melihat Kenzo…..tangisnya pecah. Di peluknya, cucunya. Airmatanya mengucur deras.

Ibu Ernest datang, tangisnya juga pecah. Lupita dan Pranaja gelisah. Lalu mereka, mengajak keduanya ke kamar Ernest. Ada beberapa orang yang sedang mengaji. Dokter juga tengah memeriksa Ernest. Matanya tertutup, dan nafasnya tampak lemah. Lupita tak tahan melihatnya. Pranaja memegang jemarinya, memberinya kekuatan. Mereka berdua kehilangan kata-kata melihat kondisi Ernest. 

“Mas….aku dan Kenzo di sini” airmata Lupita tumpah seketika. Teringat masa-masa indah dulu. Dia menyentuh lengan Ernest. Ernest membuka matanya, pelan.

“Mana …Kenzo” suaranya lirih, nafasnya terlihat berat. Sakit melihatnya. Pranaja membawa Kenzo ke dekat Ernest. Lupita meminta Kenzo mencium ayahnya. “Ayahhhhhhhh……”Senyum Ernest mengembang. Semua orang di situ tak dapat menahan tangisnya.

“Pranaja….aku titip Kenzo” suaranya semakin melemah. Pranaja mengangguk.
“Aku menjaga mereka, Nest..kamu tak usah khawatir. Cepatlah sembuh” Ernest menggeleng.

“Aku…iiiingin puulaaaanggggggg…..” nafasnya semakin berat. Dokter meminta Ernest untuk beristirahat. Ayah Ernest memanggil Pranaja. Lelaki itu mengeluarkan surat dari Ernest. Pranaja membacanya. 

“Tolonglah, nak….mungkin itu yang di inginkan Ernest. Bapak tak tahan melihatnya begini” Lelaki itu kembali terisak.

Pranaja terdiam.
“Baiklah, Pak….tapi….saya akan rundingkan dulu dengan Lupita”
“Segeralah, Nak….bapak akan mempersiapkan semuanya”

Pranaja mencari Lupita di kamar Ernest. Wanita yang dicintainya turut mengaji, Ia duduk di sebelah Ernest. Berulangkali, ia menyeka airmatanya. Sedang Kenzo duduk anteng, dipangkuan omanya. 

Lupita mengikuti Pranaja ke taman belakang. Hati Lupita menjerit. Tempat itu membuka kenangan manis saat bersama Ernest.

Pranaja membiarkan Lupita menikmati waktunya untuk beberapa saat, sebelum ia memberikan surat yang di tulis Ernest.

“Ernest menunggu kita.” Lupita belum ngeh, apa yang di maksud Pranaja. Ia mengernyitkan dahinya, tak mengerti.

“Bacalah”pinta Pranaja. Pikirannya dari tadi sibuk bagaimana mencari solusi. “Apakahhhh…Mas Ernest menginginkan kita segera menikah? Tanya Lupita terbata. Pranaja mengangguk. Ia mengerti kebingungan Lupita, tapi….mereka harus berpikir cepat.
“Bagaimana menurutmu, mas….?”

“Aku…tak akan memaksamu, sayang, meskipun aku ingin membahagiakan Ernest. Mungkin dengan ini, jalannya menjadi mudah” sahut Pranaja, kalem.

“Baiklah…..mari kita lakukan” Pranaja terkejut dengan jawaban tegas Lupita. Mau sekarang..lusa..atau tahun depan, sama saja. Hatinya sudah memilih Pranaja!
“Yakin…..”Pranaja kembali menegaskan.Lupita mengangguk.

Hati Pranaja langsung plong. Mereka berdua kemudian menemui Ayah Ernest. Lupita segera menelpon ibunya. Meskipun sedih, ibunya merestui. Seperti berkejaran dengan waktu, mereka mempersiapkan semuanya. 

Tanpa di duga, semua urusan dilancarkan. Paman Prapto, Bu Maryamah, Soleh, Solehah, Kang Ahcmad dan Bang Lukman, serta Mama dan Papa Pranaja datang. Mereka kumpul di ruang tengah. Dalam perjalanan, Bu Maryam tadi sempat membeli aneka kue buat di suguhkan pada tetamu sambil menunggu Haji Komar, yang akan menikahkan mereka.

Sebuah keajaiban. kondisi Ernest membaik. Dia memberi isyarat pada dokter Dia ingin berkumpul bersama di ruang tengah. Dokter mengijinkannya. Pranaja mendudukkan tubuh ringkih Ernest di sebuah kursi roda. Dia ingin duduk di samping Lupita dan Kenzo. Lupita menawarinya makanan dan minuman. Ernest mengangguk. Lupita menyuapinya. Kenzo terus memandangi wajah ayu Lupita, yang  memakai  baju kebaya putih, rambutnya di cepol ke belakang dengan hiasan bunga melati yang diambilnya dari taman. 

“Kamu….cantik” ucap Ernest lemah. Bu Maryam, Solehah dan Ibu Ernest, yang duduk tak jauh dari situ, terlihat menahan tangis. Semua orang terdiam.

Tak berselang lama Haji Komar datang.
Pranaja lancar mengucapkan ijab Kabul. Dia tak menyangka sama sekali, hari ini Lupita sah menjadi istrinya. Batas rasa bahagia dan sedih tipis sekali. Suasana melingkupi rumah Ernest. Dia memandang wajah sahabatnya yang  tersenyum.

“Ernest….!!!! Pranaja memburu kearah Ernest. Lelaki itu tumbang setelah Pranaja menyentuh badannya.

“Innalillahi wa inna ilahi rojiun” ucapnya bergetar. Dia mencium kening sahabatnya untuk terakhir kalinya. Semua orang tersadar. Ibu Ernest langsung pingsan, menyadari anak lelakinya telah berpulang mendahuluinya. Ayah Ernest tampak lebih sabar. Lupita menangis di samping jenazah Ernest. Kenzo yang melihat mama dan daddynya menangis, ikut menangis.

“Selamat jalan mas, berbahagialah kau disana. Aku berjanji akan menjaga Kenzo” bisik Lupita ke telinga Ernest. Dia tahu Ernest sedang memandangnya.













Comments

Tulisan Beken