Lunch Box Part 3




Part 3
            Lupita tak pernah menyangka, perkembangan LB Catering miliknya secepat meteor. Ia sekarang butuh tempat yang luas dan assistant yang bisa membantunya. Prioritasnya adalah ibu rumah tangga atau anak remaja yatim dari kalangan tak mampu. Wajahnya ceria ketika bertemu dengan anak kembar, Soleh dan Solehah atas rekomendasi bu Mariam. Juru panggul langganannya di pasar. Usianya terpaut 10 tahun dari Lupita. Dia perempuan cekatan, gesit dan suka melucu. Lupita sering mengajaknya makan siang atau menikmati segelas es cendol saat cuaca panas. Hubungan mereka terbilang akrab.

            Sedangkan, Ayah si kembar, meninggal dunia setahun yang lalu karena stroke. Dengan 5 orang anak, sangat sulit bagi ibu si kembar untuk memberi kehidupan yang layak bagi mereka. Apalagi pekerjaannya hanya sebagai penjual gorengan.Sehingga Soleh dan Solehah sadar diri, dan berhenti sekolah. Soleh bekerja sebagai juru panggul di pasar, sedangkan Solehah menjadi buruh cuci di rumah tetangganya. 


            Kesibukan pindahan dan menata ruko yang disewa untuk LB Catering, membuat Lupita melupakan masalah rumah tangganya. Setelah pertengkaran hebat minggu lalu. Ernest semakin jarang pulang kerumah. Lupita berusaha untuk tetap tenang, meskipun ia sudah lama mengendus aroma perselingkuhan suaminya. Ia tetap focus bekerja mengembangkan LB Catering. Dan berusaha untuk mandiri, tanpa bantuan Ernest.

            ***
            Seminggu ini, badan Lupita suka meriang. Ntah sudah berapa kali, dia meminta bantuan Bu Maryam untuk mengeroki dirinya.

            “Apa nggak ke dokter saja, Mba” Bu Maryam memberi saran Lupita. Dia cemas dengan keadaan Lupita yang semakin kurus.

            “Tidak apa-apa, paling juga kecapean” Elaknya.

            Anak buah Lupita    menaruh kasihan dengan nasib majikannya. Meskipun majikannya tak pernah bercerita, namun mereka  bisa merasakan rumah tangga Lupita sedang bermasalah. Dan mereka kagum, Lupita tegar dan mampu memilah masalah antara pekerjaan dan pribadi.

            Lupita masih sibuk membuat catatan belanja untuk Solehah. Soleh bisa mengantarnya ke pasar. Sedang Bu Maryam masih sibuk membuat gulai cincang daging di dapur.Tiba-tiba, pandangan Lupita gelap. Dia jatuh terkulai di lantai. Bu Maryam menjerit, dia panic mengetahui Lupita pingsan. Tergopoh-gopoh dia keluar ke jalan mencari pertolongan.

            Pranaja yang sedang lewat di situ, terkejut. Dia langsung membopong Lupita ke mobilnya dan membawanya ke rumah sakit.

            “Saya ikut, ya pak” pinta Bu Maryam sesenggukan. Ia tak tega meninggalkan Lupita sendirian.

            “Biar saya saja, Bik. Bibi di rumah,selesaikan masakannya, kasihan orang yang sudah pesan lunch boxnya nanti” Pranaja segera menghidupkan mobilnya. Dan melajunya dengan cepat.

Ya Allah, semoga Lupita tidak apa-apa. Doanya dalam hati. Waktu terasa berjalan lamban.

***
            “Selamat Pak, Ibu Lupita hamil” Dokter Shahrul memberinya selamat. Pranaja mematung.Tak percaya dengan apa yang di katakana dokter.

            “Haaaaamiillll……” gumam Pranaja. Ia mendadak linglung. 

            “Usia kandungannya, sudah berjalan16 minggu. Dan tolong, supaya ibu Lupita menjaga kesehatannya.” Pranaja hanya mengangguk-angguk saja. Dia belum bisa menguasai rasa terkejutnya.

            Lupita tersadar, dia bingung, menyadari dirinya terbaring di ruangan sebuah Rumah Sakit. Ada gelang infus menancap di pergelangan lengan kirinya. Siapa yang membawanya kesini?

            Pranaja mendekati Lupita.
            “Syukurlah, kamu sudah sadar” senyumnya merekah melihat Lupita. Dia mengambil sesuatu diatas meja dan menyerahkan pada Lupita.

            “Makanlah bubur ayam dulu. Mumpung masih hangat” Lupita menggeleng.
            “Aku belum lapar, mas”

            “Makanlah, ini hanya bubur, kamu tak perlu susah payah mengunyahnya” bujuk Pranaja tak mau kalah. Lupita menyerah, dia memakannya pelan-pelan. Tiba-tiba ia teringat dengan Ernest. Airmatanya tumpah. Dia menangis sesenggukan. Pranaja iba melihatnya.

            “Kata dokter, aku sakit apa, mas?” Tanya Lupita kemudian, setelah menguasai emosinya. 

            “Selamat! kamu hamil, usia kandungannya 16 minggu” jawab Pranaja tenang, sambil menyodorkan sebotol air mineral ke arahnya. Mulut Lupita terkunci.Perasaannya campur aduk.

            “Ku kira aku sedang stress, ternyata aku hamil” Ia bergumam sendiri. Ketika dia sudah pasrah, tidak berharap hadirnya seorang anak, malah dia hadir sekarang, saat rumah tangganya terguncang. Rasa haru menyelimuti dirinya. Pelan, dia mengelus perutnya.”Baik-baik kau di dalam ya,sayang” Pranaja terpukau dengan pemandangan di depannya. Di sudut lain, hatinya kelu. Dia tadi sempat menelpon Ernest, memberitahu bahwa istrinya tergolek lemah di Rumah Sakit. “Aku sedang sibuk sekarang” jawab Ernest ketus. Dibelakangnya ada suara perempuan sedang tertawa. Pranaja dongkol.

            “Boleh pinjam telponnya, mas, aku mau menelpon Ernest”
            “Aku sudah mengirimkan pesan untuknya” jawab Pranata datar.

            “Kalau begitu, aku ingin menelpon Bu Maryam” pikirannya sibuk memikirkan, bagaimana anak buahnya ribet mengurus pesanan orang-orang.

            “Sesekali, biarkan mereka mengerjakan sendiri. Dengan begitu kamu tahu apakah mereka bertanggung jawab apa tidak” Pranaja seakan tahu yang dipikiran oleh Lupita. Perempuan itu mengangguk, mengiyakan. Betul juga apa yang dikatakan oleh Pranaja. Karena dia tak mungkin mengawasi pekerjaan mereka terus-menerus. Setelah itu, pikirannya lebih santai.

            “Mas Naja, apa tidak kembali ke kantor” lelaki itu menggeleng. Dia ingin menemani Lupita dan memastikan dia baik-baik saja. Urusan kantor sudah ia delegasikan dengan sekretarisnya.

            Lupita, menginap semalam di Rumah Sakit. Keesokan harinya, dia pulang di jemput Bu Mariam. 

            Sepanjang perjalanan, Lupita banyak tertawa. Ia berharap kehadiran calon bayi di perutnya bisa memperbaiki hubungannya dengan Ernest. Tiba-tiba lidahnya ingin memakan sesuatu yang asam. Lupita teringat, Mang Jaja, penjual rujak manis di dekat rumahnya. Ia meminta Pak sopir kesana sebentar.

            “Mba…..sepertinya bapak ada di rumah” Lupita meminta Pak sopir melaju taxinya pelan saat melewati rumahnya. Mobil suaminya terparkir disana.

            “Tolong berhenti,Pak!” kata Lupita. Dan dia tak tahu, kenapa dia meminta sopir itu untuk menunggunya.

            Pintu gerbang terkunci. Lupita berdiri di depan gerbang, dan memencet bel di tembok. Pintu terbuka, Seorang perempuan keluar. Bukankah itu Farah. Lupita mengenali perempuan itu, sebagai sekretaris Ernest. Mereka pernah bertemu dalam sebuah kesempatan. Rasa cemburunya menyeruak, mengetahui Farah berada di rumahnya, saat dia tak ada sana.

            Farah membuka pintu gerbang, namun ia menghalangi langkah Lupita. “Tolong, mba, minggir. Saya ingin masuk kerumah” kata Lupita sopan. Farah memandang Lupita dari atas kebawah. Senyumnya mengejek. Dada Lupita penuh dengan amarah. Kalau tak ingat bayi dalam perutnya. Mungkin dia sudah mencakar wajah Farah. 

            Lupita masih berdiri di depan gerbang.

            Ernest datang membawa dua kopor besar milik Lupita. Dan memberikannya pada istrinya yang masih kelihatan lemah.Lupita dan Bu Maryam saling pandang.

            “Apa kamu mengusirku, mas? Apa salahku” kata Lupita setengah terisak. Dia tak menyangka Ernest bisa sekejam ini padanya.

            “Shhhhhhhhh, pergilah. Aku tak sudi melihatmu lagi” Ernest merangkul pundak Farah. “Aku sudah mengganti semua kunci rumah ini, percuma kalau kamu mau masuk tanpa seijinku” Lupita menekan dadanya. Khayalannya buyar sudah. Dia tak mengenal Ernest lagi!

            Di seberang jalan, Pranaja memperhatikan kejadian itu sejak tadi. Diam-diam dia membuntuti taxi yang di tumpangi oleh Lupita. Sepulangnya dari Rumah Sakit, sengaja mampir ke kantor. Memeriksa pekerjaan untuk besok. Lalu tanpa sengaja dia mendengar percakapan Ernest dan Farah.
 
            Buk

            Ernest terhuyun dengan mulut berdarah. Pranaja memukul wajahnya.”Bajingan, kamu,Nest! Farah menjerit. Lupita tegang.

            “Bukannya, nemenin istri di Rumah Sakit, kamu malah senang-senang di sini!!, Dan kamu, Farah, tega banget lu ya, ingat dia juga perempuan, sama kayak lu! Pranaja menuding  Ernest dan Farah bergantian. Dia kelihatan marah sekali.

            “Naja!! Ini bukan urusanmu, kalau kamu suka dengan dia, ambil sono!!   

 “Nes..apa kamu tahu dia sedang …..” Lupita memotong perkataan Pranaja. Amarah Lupita tak bisa di bendung lagi. Dia tak terima dirinya di injak terus oleh Ernest. Dengan suara lantang, dia menantang Ernest.

            “Oh…begitu ya, baiklah! Kita lihat saja nanti siapa yang paling merugi aku atau kamu, Ernest!!!!! Semua terkejut dengan ketenangan Lupita. Bu Maryam sampai merinding melihatnya. Atas perintah Lupita Bu Maryam mengajak sopir taxi untuk mengangkat kopor milik majikannya. Lalu mereka pergi.
           
           
           

Comments

Tulisan Beken