Lunch Box Part 4




Part 4

                        Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seperti itulah, nasib Lupita. Ernest menggugat cerai, dan malah menuduh balik Lupita, bahwa bayi yang dikandungnya hasil dari bermain serong dengan lelaki lain. Ibu Lupita, sampai shock anak perempuannya di tuduh seperti itu.

            Lupita menanggapinya dengan santai. Ia tak butuh pengakuan dari Ernest. Ibunya sampai menangis membujuk Lupita supaya membela hak bayi dalam kandungannya. Tapi Lupita sudah keukeuh dengan pendiriannya. “Percuma,bu! Matanya sudah dibutakan oleh cinta. Ibu tidak usah khawatir. Aku bisa membesarkan anak ini” jawabnya tegar. Ia sudah memiliki banyak rencana untuk masa depan mereka berdua.

            “Tapi, nduk. Dia butuh ayah, dia butuh pengakuan. Kamu jangan menuruti emosimu!!”
            Suara Lupita melemah. Ia hanya ingin masalahnya cepat selesai. Dan menghapus Ernest dari hidupnya. Ia sudah capek dengan terror yang terus di terimanya.


            “Untuk apa,Bu! Aku tidak mau memaksa orang yang sudah jelas-jelas tidak mau mengakui bayi ini” Ibu Lupita menyerah. Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putrinya. 

***
Lupita terduduk lesu di sebuah emperan toko souvenir. Matanya sedikit sembab, menatap sekumpulan anak-kecil yang membeli boneka. “Nak…..jangan takut, mama akan selalu bersamamu!” bisiknya lembut, mengelus perutnya yang mulai membuncit. 

            “Aw” jeritnya mengejutkan pejalan kaki yang lewat. Lupita tertawa bahagia. Bayinya merespon perkataannya.

            “Ayo tendang lagi, Nak” sedetik dia mendapat dua tendangan sekaligus. Lupita tertawa sekaligus menangis. Dia tak perlu lagi bersedih, sebab bayinya akan selalu membuatnya tegar menhadapi permasalahan hidup. Perceraian tak boleh membuatnya tumbang. Dia harus bangkit demi anaknya. Lupita melecut dirinya sendiri.

            Lupita lebih percaya diri sekarang. Dia mengikat rambutnya yang masai kusut dan melangkah ringan ke sebuah toko baju. Lupita memborong pakaian. Setelah itu, dia pergi ke salon, tempat yang tak pernah di injaknya. Yang sudah selesai ya selesai, dia membathin,penuh kemenangan.

            Bu Maryam, Soleh dan Solehah, menunggu Lupita cemas. Berkali-kali Bu Maryam berjalan mondar-mandir di depan ruko. “Aku bisa mati berdiri, kalau begini Solehahhhhhhhhhh!” katanya panic sambil mulutnya tak henti mengunyah kerupuk ikan. Soleh dan Solehah tertawa berbarengan melihat tingkah Bu Maryam.

            “Wadohhhhhh, Mas Soleh, amankan kaleng krupuknya, ntar di habisin sama Bu Maryam!!” Solehah merebut kaleng krupuk di dekapan Bu Maryam dan menyerahkannya pada Soleh. Kakaknya langsung mengamankannya ke dalam. Bu Maryam manyun. 

“Ayolah,ngerti dikit. Aku kalau stress ya begitu, mulutku tak bisa ku ajak diam, maunya makan melulu” dia protes ketika Soleh menaruh kaleng krupuknya diatas rak yang sulit ia jangkau.

            “Yaelah, alesan doang, bilang aja kalau doyan sama krupuk. Bunga mawar tuh banyak di depan” 

            “Emangnya Bu Maryam ini kuntilanak apa!”

            Saat mereka bertiga sedang rebutan krupuk. Lupita dating membawa banyak belanjaan.

            “Eeee…ada apa ini, rame sekali” dia tertawa sumringah. Bu Maryam dan Solehah saling pandang. Melihat Lupita yang kian cantik dan elegan dengan potongan rambutnya yang baru. Lupita tak memperlihatkan wajah sedih. Dia justru makin cantik dan elegan dengan pilihan busananya. Keduanya langsung memeluk Lupita.

            “Whoaaaaa…ibu tambah cantik, seperti Kate Mideltong bener kan Bu Mariam?” tangannya menyikut lengan Bu Mariam yang masih takjud dengan perubahan drastis Lupita. Lupita tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan anak buahnya. Rasa sedihnya hilang berganti sukacita. Mereka sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.

            “Oh ya, tolong bersihkan semua pakaian, tas, sepatu atau sandal saya di almari. Kalian boleh pilih yang kalian suka. Sisanya, tolong di bagi ke tetangga atau teman kalian yang mau” mata ketiganya berbinar. Ini seperti mendapatkan durian runtuh. Selain itu, Lupita membawakan mereka berbagai macam makanan untuk dinikmati bersama-sama.

            “Mba, tadi ada telepon dari Ibu Hesti, beliau sepertinya mengkhawatirkan keadaan mba” Lupita mengangguk, telepon genggamnya sengaja dia tinggal. Supaya dia bisa menikmati keheningan setelah hakim mengetok palu perceraiannya. Dia tak mau di pusingkan dengan beragam kalimat kasihan yang ditujukan padanya. 

            Lupita baru saja akan menelpon ibunya. Ternyata perempuan bersahaja itu sudah ada di depan pintu. Dia diantar Pakde Prapto.

            “Oalah…..ayu banget kamu, nduk” Puji bu Hesti memeluk putrinya. Hatinya yang tadi gelisah, takut anaknya bertindak bodoh, hilang seketika melihat wajah cerah Lupita. Dia sebenarnya ingin menemani Lupita saat perceraiannya. Namun putrinya itu menolak. Dia tak mau melihat ibunya sedih.

            “Ibu sih, selalu saja tak percaya dengan Lupita” selorohnya manja, memeluk ibunya. Mereka kemudian tertawa bersama-sama. Dia tak perlu khawatir sekarang. Anaknya tumbuh jauh lebih bijaksana diatas perkiraannya.

            Kedamaian menyelimuti hati Lupita. Mereka semua bersuka cita menyambut hari baru esok dan melupakan semua kesedihan yang mereka alami.

***
            Hujan di awal November, sedikit banyak membatasi gerak Lupita. Bu Maryam dan Solehah sangat cerewet apabila melihatnya bermain-main dengan air hujan. Padahal itu yang disukai Lupita. Dia yang dulunya membenci hujan, sekarang malah sebaliknya. Dia seperti anak kecil yang kegirangan menyambut datangnya hujan. Dan sengaja dia keluar untuk bermain hujan-hujanan. Hebatnya lagi, dia tak pernah sakit flu. Bayinya kuat dan sangat mengerti keadaan ibunya. Apa ini bawaan orok? Pikirnya tak mengerti. Orang-orang mencoba memaklumi, kebiasaan barunya.

            Dua bulan setelah perceraiannya. Pembantu Ernest membawa undangan. Seperti dugaannya, Ernest dan Farah menikah. Ibu dan keluarganya besarnya marah, dan meminta Lupita untuk mengabaikan undangan itu. Namun…..Lupita bersikeras untuk datang. Toh…tak ada cinta lagi di hatinya. Lupita tak suka menghindar. Lebih baik datang dari pada bersembunyi dan menyimpan dendam tak berkesudahan.

            Pranaja menelponnya. Dia mengajak datang bersama, setelah mengetahui Lupita diundang. Dia ingin Lupita semakin sedih. Lupita menolak. Dan memilih, untuk bertemu disana. Dia menjaga nama baik Pranaja, supaya tak menjadi gunjingan orang orang.

            Perkawinan Ernest dan Farah di gelar cukup mewah di sebuah hotel berbintang. Saat dia masuk, semua mata tertuju padanya. Dia sempat mendengar ibu-ibu yang berbisik, menaruh iba padanya. Lupita acuh, dia berjalan dengan tenang, menyalami pengantin. Ibu dan ayah Ernest tampak kikuk menyambut uluran tangan Lupita. Mereka berusaha menyembunyikan wajah pias dengan senyuman yang tampak aneh bagi Lupita. Pranaja memperhatikannya dari jauh. Dia semakin mengagumi perempuan itu.

            Pengantin perempuannya memakai kebaya modern berwarna tosca, dengan potongan leher rendah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang makin sintal. Dia tak memperhatikan Ernest, yang tampak kaget dengan penampilan barunya. Mata lelaki itu terus melihat ke Lupita. Kehamilannya membuat aura kecantikannya semakin memancar. “Sadar, bro. Dia sudah bebas sekarang” Ernest menunduk, malu.
           
           
           
           
           
           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken