Lunch Box Part 5





Part 5
            “Soleh, tunggu! Ibu ikut.” Lupita membuka pintu mobil box yang biasa di gunakan oleh Soleh untuk mengantar makanan. Dia duduk anteng di samping Solehah. 

            “Jangan bu, sebaiknya ibu dirumah saja. Biar saya dan Solehah yang mengantar cateringnya” Solehah mengamini permintaan kakakknya. Mereka khawatir, sebab ada demo besar hari ini. Bu Maryam berdiri di samping mereka dengan cemas.

            “Sudah, jalan saja. Insyaallah aman.” Lupita menyapukan merapikan anak poni yang menutupi sebagian matanya dan tersenyum lebar pada anak buahnya. Ketiganya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Bu Maryam, segera masuk kedalam dan membawa tas jinjing hitam dan memberikannya pada Soleh. Lupita yang melihatnya heran.


            “Untuk apa itu, Bu Mar, bayi ini belum waktunya lahir”

            “Buat jaga-jaga” perempuan itu mengedipkan matanya pada Lupita.

            Benar saja, jalanan yang mereka lalui mulai macet. Ratusan orang berjalan penuh semangat membawa spanduk besar dan meneriakkan yel-yel. Soleh pelan-pelan mencoba menerobos kemacetan. Seorang lelaki brewok dan beberapa temannya menghadang mobilnya. Dia berteriak meminta Soleh turun. Tapi Lupita melarangnya, dan memintanya tetap tenang di belakang kemudi. Lupita turun. Si lelaki bertampang seram itu, sontak terkejut melihat perempuan dengan perut buncit, jalannya seperti bebek dan berteriak nyaring kepadanya. Suaranya mengalahkan teriakan orang-orang di sampingnya. Semua orang terlihat diam, dan memperhatikan mereka berdua.

            “Minggir,Pak. Tolong beri kami jalan, kami sedang melaksanakan tugas penting” Lelaki itu tak percaya. Dia melotot melihat ke Lupita. Soleh dan Solehah gemetaran di dalam mobil.

            “Omong kosong! Sana pulang! Kalian apa tidak bisa melihat disini sedang ada demo besar!!” Lelaki brewok itu berjalan angkuh memegang lengan Lupita, memaksanya masuk ke dalam mobil. Lupita mengibaskan tangan kasarnya, dan menatapnya tajam. Dia balik menyeret lengan lelaki itu dan memperlihatkan sejumlah catering yang harus di antarnya. Bersama Solehah, Lupita menurunkan 100 kotak kue beserta 3 kardus air mineral dan memberikannya pada lelaki itu. Lelaki itu terdiam.

            “Bukan hanya bapak yang punya butuh makan, saya dan mereka juga. Tolonglah kalau demo jangan membuat susah orang.” Lelaki itu langsung mengangguk dan meminta teman-temannya untuk memberi mereka jalan.

            Saat Lupita membuka pintu mobil. Dia menjerit kesakitan. “Ough!!” Solehah dan lelaki itu menoleh. Lupita terlihat sedikit membungkuk, sambil memegangi perutnya. Air ketubannya merembes di sela-sela kakinya. Soleh dan Solehah panic. Lelaki itu bengong. “Kenapa dia” dengan wajah bingung.
 
            “Sepertinya dia mau melahirkan,Pak!”

            “HAAAAHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Dia langsung cepat tanggap. Sebagian orang-orang yang berdemo ikut mengerumuni Lupita, gugup. Tak tahu harus berbuat apa- “Cepat panggil Polisi dan ambulance” teriak mereka kacau.

            Lupita sekuat tenaga bersikap relax, dan mengingat-ingat pelajaran Lamaze yang dia ikuti. Berkali-kali dia mengatur pernafasannya. Intensitas kontraksi semakin pendek. Tak sadar, dia meremas lengan Soleh dan Solehah yang berada di sampingnya. Dalam keadaan gawat seperti itu, dia masih memikirkan pelanggannya.

            “Solehhhhhh!!! Kamu sebaiknya segera pergi, jangan buat pelanggan kecewa. Ibu bisa mengatasi ini.” 

            “Tapiiii…Bu…. ?!! Soleh terlihat bimbang. Solehah menengahi.
            “Kakak, berangkat saja, biar aku bersama ibu disini.” Dia beberapa kali menemani ibunya melahirkan adiknya. Dengan berat hati, Soleh mengiyakan.

            Tak di duga, lelaki brewok yang tadi terlihat menyeramkan, menawarkan dua anak buahnya ikut membantu mengirimkan catering. Soleh meminta pertimbangan. Lupita mengangguk.

            Seorang Polisi di bantu orang yang akan berdemo membantu membopong tubuh Lupita ke sebuah taman, tak jauh dari situ, menunggu mobil Ambulance datang. Duduk berjongkok di sebuah pohon perdu. Dia pernah melihat orang melahirkan seperti itu di channel yitube. Lupita berusaha melahirkan bayi yang dikandungnya.

            “Pak..sepertinya bayi saya mau lahir” Lupita meringis kesakitan, merasakan kepala bayinya mendesak keluar. 

            “Kita bawa saja ke Rumah Sakit, Pak!” lelaki brewok berusaha menyetop taxi.
            “Huaaaaa, nggak keburu, ini bayinya sudah di ujung” Solehah menyingkap kain panjang yang menutupi sebagian tubuh majikannya.

            “Iiiiiyaaaaa, beeeenaaaaar, pak” kata Solehah terbata-bata, menyadari Lupita akan melahirkan. “  Pak Polisi, yang bernama Lukman, mencoba mengingat apa yang dilakukan oleh Bu Bidan dulu saat membantu persalinan istrinya. Semua yang berada di situ gugup. Suara Pak Lukman yang hangat memberikan energi pada Lupita. Sedangkan Lelaki brewok dengan wajah pucat, merelakan lengannya terus di cakar oleh Lupita. Ia sabar di samping Lupita.

            “Ayo dorong yang kuat, bayinya sudah mau keluar” Lupita menarik nafasnya. Dua kali mengejan, bayi lelakinya keluar, dengan mudah. “Oeee..oeeee..oeeee” tangisnya melengking nyaring. “Alhamdulillah” kata-orang-orang bersamaan dan memberikan selamat pada Pak Lukman dan Lupita. Lelaki brewok itu pingsan. Tak tahan melihat darah. Badannya yang besar jatuh, menimbulkan bunyi gedebuk di samping Lupita yang bahagia menggendong bayinya.. Sedikit kegaduhan terjadi.

            Ambulance datang. Lupita bersama bayinya langsung di bawa kerumah sakit untuk menjalani perawatan.

***
            Kenzo Sakha Abqari Runako Arsenio. Bayi Lupita setampan namanya. Dia begitu lucu dan menggemaskan. Membetot seluruh dunia Lupita. Wajahnya sumringan, tak henti menciumi bayi kecilnya. Begitu pula ibu Hesti, sangat bangga dengan kelahiran cucunya. Apalagi, kelahirannya sangat luar biasa. Sampai stasiun televisi datang mewawancari Lupita secara exclusive. Pak Lukman Dan Bang Achmad, lelaki brewok yang turut membantu persalinannya turut ikut. Hubungan mereka bertambah akrab laiknya saudara.

            Pranaja yang diberi kabar oleh Bu Maryam, tentang kelahiran Kenzo. Tampak gelisah ingin segera pulang ke tanah air. Dia sedang berada di Jerman menengok orangtuanya. Dengan menggunakan video call dia menelpon Lupita.

            “Hello….Om Naja” Lupita memperlihatkan wajah ganteng bayinya ke Pranaja. Hatinya berdegup tak karuan, melihat keceriaan Lupita dan bayinya yang lucu. Pipinya yang montok, membuat gemas Pranaja. Lelaki itu ingin segera berlari kearah mereka. Tak tahan. Malam itu dia memutuskan untuk pulang ke tanah air.

            Kenzo membawa keberkahan. Hadiah untuknya datang membanjiri kamar Lupita. LB Catering, juga semakin terkenal. Membuat Lupita berpikir untuk mencari tenaga tambahan. Dia  kasihan  dengan ketiga anak buahnya yang kelelahan. Bekerja lebih dari 13 jam tiap harinya. Meskipun Lupita memberikan mereka uang lembur dan  extra bonus. Tapi dia tak mau memforsir tenaga mereka secara berlebihan.

            Ibunya menyarankan supaya Lupita membuka Restaurant di samping LB Catering. Dia melihat animo masyarakat yang ingin merasakan kelezatan masakan Lupita. Dia memang ada niat  melebarkan bisnisnya kesitu, namun karena modalnya masih belum cukup. Ide itu di endapnya dalam hati.

            “Ibu akan memberimu modal” kata ibunya santai mengagetkan Lupita. Darimana ibunya mendapatkan uang. Matanya menyelidik melihat ke ibunya.

            “Juallah rumah Ibu, itu sudah hakmu” Lupita merangkul ibunya. Dia menolaknya halus. Tak elok rasanya, membuang kenangan indah masa kecilnya, terutama kenangan bersama ayahnya di rumah mereka yang luas dan asri. Bila dia kangen ayahnya, dia akan duduk berlama-lama di ayunan, menatap ikan yang meliuk lincah di kolam. Tempat favorit mereka berdua.

            Dia ingin Kenzo merasakan kebahagiaannya berada disana.
            Bu Maryam, datang. Memberi tahu ada tamu untuknya.
            Lupita merapikan bajunya. Dan keluar menemui tamunya. Tapi…dia kaget, farah sudah menerobos masuk, Bu Maryam terlihat kesal, di belakangnya.

            “Tolong tinggalkan kami berdua” perintahnya ketus. Sekilas dia melihat wajah Kenzo yang di gendong neneknya. Amboi, wajahnya tampan sekali . Dia melihatnya iri. “Ini, rumah anakku. Apakah kamu tidak bisa berlau sopan di rumah orang” kata Bu Hesti sewot. Lupita mengedipkan mata pada ibunya. Dia tak ingin Kenzo kecil mendengar perdebatan mereka.

            “Duduklah” Lupita bersikap sopan, dan menawarinya minum. Farah menampik. Dia membuka tas yang berharga puluhan juta, dan mengambil selembar cheque, lalu memberikannya pada Lupita. Mata Lupita melotot melihat deretan nol yang ditulis diatas cheque tersebut.

            “Langsung saja, biarkan kami merawat Kenzo! Kamu bisa bebas dan bersenang-senang dengan uang ini” Dia menyilangkan kakinya, dan tatapannya begitu merendahkan Lupita.

            “Pergilah!!! Dia meminta Farah keluar dari rumahnya. Bu Maryam dan Bu Hesti yang menguping di luar, tak dapat menahan emosinya.Dengan membawa semangkuk garam Bu Maryam menabur-naburkannya ke tubuh Farah.

            “Perempuan nggak tahu malu, masih mau saja merecoki hidup Mba Lupita!!” teriaknya garang. Farah menjadi takut dan berlari masuk ke mobilnya.

            “Awas kau kalau kesini lagi!!!”
           
           


           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken