Lunch Box Part 6




Part 6
            Kedatangan Farah di kediamannya membuat suasana hati Lupita kacau. Dia marah begitu tahu apa maksud kedatangannya. Tega nian wanita itu! Ingin mengambil Kenzo dengan konpensasi uang 1 Milyar! Sebodoh-bodohnya dia, tak bakalan rela memberikan buah hatinya pada perempuan yang sudah menusuknya dari belakang. 

            Luka hatinya yang mulai mengering, kini berdarah lagi. Dia tak mengerti, kenapa Farah harus kembali mengacak-acak hidupnya. Tidakkah cukup baginya, mengambil Ernest dari kehidupannya, kemudian menyebarkan rumor bahwa Ernest bukanlah ayah dari anaknya. Tapi sekarang….kenapa dia malah mau mengambil Kenzo dari hidupnya? Lupita menangis sesenggukan, memeluk lututnya.


            Telepon genggamnya berdering. Dari Pranaja!

            Lupita mengusap airmatanya dengan punggung tangannya.”Iya, mas” suaranya serak, menahan tangis.

            Pranaja meminta sopir taxi untuk mempercepat laju. Dia tak tenang, mendengar suara Lupita. Kemudian dia menelpon Bu Maryam, dari Bu Maryamlah dia tahu, masalah apa yang menimpa Lupita. Giginya gemeretuk menahan amarah. Ernest dan Farah sepertinya tak senang melihat Lupita bahagia.          
 
             Lupita dan bayinya menyambut kedatangan Pranaja dengan sukacita. Buktinya, Kenzo yang sedang tidur, matanya langsung tmelek setelah Pranaja mencium pipi montoknya. Bayi yang usianya belum genap seminggu itu menatap wajah Pranaja dengan mimic lucu. Mata bulatnya mengerjap-ngerjap indah, serta tangan mungilnya menggapai-gapai seperti meminta di gendong. Lupita tanggap, dia mengambil Kenzo dan membedongnya cepat. Lupita Hati-hati memberikannya pada Pranaja. Takut-takut lelaki itu, membawanya ke pelukannya.

            Rasa takjub dan nyaman membuncah memenuhi hatinya. Sesuatu yang luar biasa indah menghentak sanubari Pranaja. Kenzo memberikan senyum menawan untuknya. Dia terpesona dan langsung jatuh hati pada bayi mungil itu.

            “Kenzo..ini Daddy” Lupita termasuk Bu Hesti yang berada di situ spontan kaget dengan ucapan Pranaja.

            “Apa bisa di ulangi lagi mas, kalimat yang tadi? Tanya Lupita penasaran. Ibunya menyikut perut Lupita. Pranaja mau menjawab, namun kedatangan Bu Maryam menghentikannya. Dia datang membawa masakan istimewa kesukaan Pranaja. Semur Jengkol!

Bau harum masakan semur jengkol, menusuk penciuman Pranaja. Lelaki berwajah indo itu, berulangkali menelan air liurnya. Perutnya sungguh lapar, dan tak sabar  ingin segera memuaskannya dengan masakan Lupita yang lezat 

            Untuk sementara, pembicaraan mereka terhenti disitu. Lupita masih menyimpan rasa penasaran Mereka menikmati suasana makan malam dengan canda tawa. Lupita membiasakan untuk makan bersama karyawannya. Duduk lesehan, saling cerita. Pranaja menikmati suasana akrab diantara mereka. Kenzo, sepertinya ingin bermanja-manja dengan Pranaja. Dia menangis ketika Lupita mengambilnya dari dekapan Kenzo.

            “Hayo,sama mama sayang, biarkan Om Naja makan dulu” Tangisan Kenzo tak berhenti. Anehnya dia menolak, saat Lupita mau menyusuinya. Tumben, dia menangis seperti itu. Bu Maryam dan Bu Hesti bergantian, menghiburnya, tapi tangis Kenzo tak mereda, malah semakin menjadi. Mereka turun dengan perasaan tak nyaman.

Selera makan Pranaja hilang, dia cemas. Lantas, meminta ijin pada Ibu Hesti untuk melihat Kenzo di atas. Setelah Pranaja ke atas, seketika tangis Kenzo berhenti.

            Bu Maryam dan bu Hesti saling pandang, dan berbicara  tanpa kata           .
***
            Acara aqiqah Kenzo di sebuah Panti Asuhan berjalan indah. Anak-anak senang sekali menerima hadiah dan uang saku dari Lupita. Tak segan mereka duduk di pangkuan Lupita. Bagi Lupita sendiri, ini bukan sekedar berbagi kebahagiaan, tetapi lebih dari rasa syukur dia bisa melewati masa-masa sulit hidupnya. Melihat wajah-anak-anak panti, memberikan dia kekuatan untuk terus hidup dan melihat sisi baik ujian yang diberikan oleh Allah padanya.

            Pranaja tak melewatkan acara ini. Dialah, orang yang sibuk mengabadikan momen- momen bahagia dalam hidup Kenzo. 

            “Apa kamu tak memikirkan mencari suami lagi, nduk” Bu Hesti melirik putrinya. Hatinya sudah sreg sejak melihat Pranaja. Lelaki itu sepertinya cocok untuk menjadi ayah bagi cucunya. Dia sayang dan bertanggung jawab.

            Lupita tak menjawab, pertanyaan ibunya. Malah sibuk membersihkan sisa gumoh di mulut Kenzo.

            Beberapa hari lalu, saat membuka kado Pranaja..Sebuah boneka Pooh, dan amplop coklat terbungkus rapi di dalamnya

            Lupita…….
            Aku senang dengan kehadiran Kenzo
            Dan berdoa semoga kelak, dia menjadi lelaki yang dapat melindungi ibunya
            Ps. Pakaiah uang ini untuk keperluan Kenzo.

            Lupita terkesiap dengan jumlah uang yang ada di dalamnya. 10.000 ribu Dollar! Dia mencubit pipinya. Aww! Pekiknya kecil

            Bu Hesti…..yang berada tak jauh dari situ, ingin tahu. Lupita memberikan secarik kertas yang dibacanya pada ibunya. 

            “Sepertinya, ibu  pernah  melihat tulisan seperti ini, sebelumnya. Tapi…dimana ya?? Lupita berlari ke kamarnya dan membuka sebuah kotak bermotif ukiran diatasnya. Dimana dia menyimpan surat yang selalu di terimanya dalam kotak makanan. Dia membukanya pelan. Dan mengambilnya satu,lantas mencocokkannya. Kepingan puzzle terkuak.

            Degup   jantungnya tak berirama. Berarti selama ini, dia berhubungan dengan Pranaja! Dia baru mengerti….semua tuduhan Ernest padanya! Anehnya dia tak marah. 

            “Malah melamun di pojok” canda Pranaja mengagetlan Lupita.  Perempuan itu mengambil dua buah es cincau dan memberikannya satu pada Pranaja.

            “Mana Kenzo?” Tanya Pranaja, memecah kebekuan. 

            “Tuh, disana, sedang bobo” Lupita  merasakan lidahnya kelu. Mereka berdua sama-sama kikuk. Kemudian Secara bersamaan, mereka ingin berbicara.

            “Kamu duluan” Pranaja mempersilahkan Lupita. Lupita memberikan dua surat pada Pranaja. Dan menunggu reaksi lelaki itu. 

            “Kamu memang payah!” Suara Pranaja dibuat-buat mirip Mr. Bean.
            “Maksudnya”
            “Aku menunggumu sangat lama”
            “Maksudnya” Lupita bertanya lagi

            “Alamak!!! I Love you, Lupita! Izinkan aku menjadi bagian hidup kalian” Lupita semakin bengong dengan perkataan Pranaja.Dia menelengkan kepalanya, berusaha mencerna. Kenapa otaknya menjadi OON sekarang? Tak sadar dia memukul kepalanya dengan jemarinya. Pranaja tertawa terbahak-bahak.

            “Jangan di jawab sekarang, Oke?????” Lelaki itu melenggang santai ke Kenzo. Kemudian sibuk memotret pangeran kecil yang sudah memenuhi kepalanya.

            Lupita melihatnya dari jauh, dengan perasaan tentram.

           



           
            .

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken