Lunch Box Part 7




Part 7
            Dari balik rerimbunan  palem merah, lelaki kurus bersama seorang perempuan yang sudah berumur, memperhatikan seorang anak laki-laki yang baru belajar berjalan. Pagi itu, dia memakai kaos berwarna biru bergambar minion, berpadu dengan celana jeans dan separu boots  coklat. Amat serasi dengan kulit putihnya. Sebelumnya, dia menyanyikan lagu balonku, sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.Di ikuti suara tepuk tangan ibunya. Aduh! Suaranya yang cadel lucu sekali. Lelaki itu tersenyum, mendengarkannya.

Balonku ada lima
Lupa lupa walnanya

            Lantas si ibu, mengambil boneka Tyrex, Bocah itu tertawa, dia berdiri untuk mengambil boneka kesayangannya. Ibunya melangkah mundur, beberapa langkah. Supaya anaknya mendekatinya. Ragu-ragu, anak itu diam menatap ibunya. Ibunya terus menyemangatinya. Seperti ibu anak lelaki itu, lelaki kurus juga gugup saat melihat kaki kecilnya melangkah satu persatu. Tanpa sadar, kedua tangannya ke depan seperti ingin menangkap sesuatu. “Ayo terus, Nak” katanya bersemangat. 


Buk......anak itu terjatuh, dia menangis. Sang ibu, memeluknya dan membantunya berdiri, dia menenangkannya. Bocah itu kembali tertawa. Dia berdiri dan mencoba melangkah lagi. Lelaki itu mesem. Anak itu kembali melangkah…kali ini dia lebih percaya diri. Selangkah….dua langkah…tiga langkah…dan….banyak langkah! Sang Ibu bersorak kegirangan, dia menciumi wajah dan perutnya. Anak itu tertawa geli. Lelaki itu turut senang.

            “Dia mirip sekali,denganmu” ucap perempuan tua, senyumnya mengembang mengingat masa lalu. Kemudian dia membuka tas kulitnya, dan mengambil sebotol jus jeruk segar, yang di perasnya tadi pagi.“Minumlah!” lelaki kurus yang ternyata anaknya, menolak halus. Matanya terus memperhatikan tingkah lucu anak itu, tanpa berkedip.

            Seseorang datang

            “Daddy….daddy…” teriak bocah itu, menghampirinya. Dia memperlihatkan jalannya yang seperti robot. Dan dia mengangkat tubuh bocah itu tinggi-tinggi dan menaruhnya diatas pundaknya. Tangan anak itu di rentangkan. Mereka lalu berlari-lari kecil sambil tertawa bahagia. 

Pemandangan di depannya, menghujam hati lelaki kurus. Matanya mulai panas. “Ayo, kita pulang,Ma ….”ajaknya lesu. Sang Ibu mengikuti anaknya dari belakang. Hatinya ikut terluka, dan menoleh sekali lagi. Kasihan kau, Ernest. Tatap ibunya iba.

***
“Mba, tadi saya tak sengaja, melihat Pak Ernest,di Rumah Sakit, dia kuuuruuuuuusssss sekali. Kasihan lihatnya”. Lupita menghentikan pekerjaannya. Dan bertanya kepada Bu Maryam. 

Cerita Bu Maryam, membuat Lupita teringat Ernest, bagaimanapun, mereka pernah saling mencinta. Ada kekhawatiran dalam benaknya mungkinkah, Ernest sakit? Semenjak berpisah, mereka tak pernah bertemu. Meskipun tinggal dalam satu kota. Farah pernah sekali datang padanya, selang beberapa bulan ibu Ernest yang menemuinya, dan terus membujuknya supaya menyerahkan Kenzo. Namun, keinginan mereka di tolak keras oleh Lupita.

Lupita memandang paras Kenzo yang tertidur lelap. Dia kelelahan setelah bermain di taman. Semakin besar, dia semakin mirip Ernest. Lupita menciumnya lembut, Kenzo menggeliat, tersenyum, seraya memperlihatkan enam gigi kelincinya. Lupita terpana. Ntah apa yang diimpikan oleh Kenzo.

Ia berbaring di samping buah hatinya. Matanya menerawang, menatap foto Pranaja dan Kenzo. Hubungan mereka sangat dekat, seperti ayah dan anak. Pranaja sangat menyayanginya. Kadang Lupita iri, dengan kedekatan mereka. Dan dia tak bisa berbuat apa-apa saat, Kenzo memanggilnya Daddy. Pranaja memang hebat. Lupita teringat pujian ibunya, padanya. 

Bukan hanya Kenzo yang terpikat, Ibu dan karyawannya juga jatuh cinta pada sosok Pranaja yang lembut, dan kebapakan. Sikapnya yang ramah, dan mudah membantu memudahkan dia bergaul dengan siapa saja di LB Catering miliknya. Mereka sering membicarakannya, dan berharap Pranaja sering datang. Sebab tak segan dia membawakan oleh-oleh Martabak Markonah yang terkenal.

Ibu bahkan berulangkali memintanya untuk segera menerima pinangan Pranaja. Lupita bergeming. Jauh dalam hatinya, ketakutan itu masih ada. Ketakutan akan di khianati! Dia ingin menstabilkan dirinya sendiri. Supaya bisa menerima Pranaja seutuhnya.

Soal cinta Pranaja. Tak usah diragukan. Dia lelaki yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk Lupita dan Kenzo.  Pernah suatu hari, dia membatalkan semua rencana rapatnya, gara-gara Kenzo sakit flu. Sampai Lupita geleng-geleng kepala. Pranaja sabar, saat menangani kerewelan Kenzo, dia juga tak marah saat baju kerjanya terkena muntahan Kenzo. Saat weekendpun Pranaja memilih, bermain petak umpet dan main bola di taman bersama Kenzo, dan Lupita asik membaca buku, sambil menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka. Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia!.

***
Di sudut lain, di sebuah Rumah Sakit. Ernest terbaring lemah. Tubuhnya semakin kurus, matanya cekung, dan rambutnya tinggal beberapa helai akibat kemoterapi.

Mengetahui Ernest mengidap kanker leukemia. Farah pergi meninggalkannya. Daripada menjadi babysitter Ernest! Stress tinggi, membuat penyakit Ernest bertambah parah. “Aku menyesal, Naj! Lupita sangat berharga bagiku, kenapa aku malah menyia-nyiakannya!!!! Dia histeris menyesali kebodohannya pada Pranaja yang menjenguknya hari itu. Airmatanya keluar deras. Pranaja menepuk- nepuk pundaknya.

“Dan aku benci padamu, Naj. Kenapa kamu yang dipanggilnya Daddy! Kenapa bukan aku! Aku ayahnya, bukan kamu! Semua uneg-uneg yang selama ini dipendamnya, dikeluarkannya. Namun, tak membuat rasa bersalah pada anaknya, berkurang.

Pranaja menghela nafas panjang. Dan Iba melihat sahabatnya. Ia memang sangat mencintai Lupita, terutama pada Kenzo. Sebab, Ia teringat masa kecilnya yang suram. Ia tak ingin Kenzo seperti dirinya, yang memendam kerinduan akan sosok ayah. Dia ingin kehadirannya, bisa membuat Kenzo merasa di cintai sebagi anak, dan menemukan figure seorang ayah padanya. Meskipun sampai kini, belum ada jawaban dari Lupita. Tak masalah baginya. Sebab, dia tahu, dia menemukan kebahagiaan saat bersama mereka.

 “Umurku, tak panjang, Naj. Aku ingin sekali berdekatan dengan Kenzo.Tolonglah aku. Tolong bujuk Lupita untukku” kata Ernest penuh harap, tangannya memegang tangan Paranaja erat. Ibunya yang mendengar percakapan mereka dari luar, tak dapat menahan tangisnya.

Pranaja mengangguk pelan. 

Sepulangnya dari Rumah Sakit. Pranaja langsung menemui Lupita. Kenzo yang sedang bermain sepeda, bersorak girang saat melihatnya. Anak itu langsung berjalan ke arah “Daddynya” dan memintanya mengangkatnya tinggi-tinggi. Dia sangat menyukainya! 

Lupita mengamati raut muka Pranaja, yang tak seperti biasanya. Dia lebih pendiam. Dan menyeruput kopi buatan Lupita pelan-pelan. Lupita menunggu sabar. 

“Kenapa tak bertanya?” Tanya Pranaja pada Lupita. Lupita tertawa kecil. Tangannya menyodorkan sepotong Cheese cake padanya. Pranaja mencicipinya.

“Aku menunggu, ceritamu?”
“Aku tadi menjenguk Ernest di Rumah Sakit!”

Deg……
Lupita tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.”Seriuskah sakitnya?” Pranaja mengiyakan. Lupita terduduk lemas, Seperti orang linglung dia mendengarkan ceritanya. Pikirannya mendadak linglung.

“Aku tak mau memaksamu, tapi…cobalah mengerti kondisinya. Tolong..maafkan dia. Dia ingin bertemu dengan anakmu..Kenzo!” Butuh beberapa waktu untuk Lupita mencerna semua perkataan Pranaja. Dia tak mengiyakan atau menolak. Dia hanya duduk saja, memegang piring yang berisi Cheese Cake.

Pranaja bangkit, berjalan memutarinya. Sampai di belakang kursi Lupita.
Tiba..tiba…..
Cup…..sebuah kecupan mendarat manis di pipi kanan Lupita. Membuat otaknya sadar! Seperti sebuah mimpi.
“Mas!!” pekiknya kecil, tangannya mengusap pipinya lembut.
“I Love You” kata Pranaja di telingan Lupita. Pipi Lupita merona merah. Seiring Lagu jodoh pasti bertemu milik Afgan yang mendayu lembut.

Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmuJ
ika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu







Comments

Tulisan Beken