Lunch Box Part 8




Part 8
            Bersama Pranaja, Lupita menjenguk Ernest di rumah sakit. Kakinya terasa berat saat menyusuri lorong Rumah Sakit. Dia berhenti sebentar. Mengatur nafasnya yang tak karuan. Bayangan bersama Ernest sekelebat mata, menari-nari di pelupuk mata Lupita. Tak dapat dipungkiri, luka hatinya belumlah kering sempurna. Kini….mampukah dia datang menjenguknya? Dan benar-benar memberinya maaf? Dia mendesah pelan. Pranaja, sepertinya mengerti kegelisahan wanita kesayangannya itu.

            “Kalau memang berat, lebih baik kita pulang saja” katanya bijaksana, menghibur Lupita. Dia merasa bersalah, telah meminta Lupita untuk menjenguk Ernest.


            “Kita sudah disini, mas” Lupita menjawabnya senyum yang dipaksakan, menutupi kegelisahan hatinya. Mereka membicarakan Ernest,  semalam. Lupita tak tahu, apakah dia harus kasihan padanya atau senang dengan apa yang menimpanya. Lupita percaya karma. Kelakuan buruk yang dulu di terimanya, kini menimpa Ernest, Farah yang dulu dia puji selangit, malah pergi bersama lelaki lain saat keadaannya memburuk.

            Sedangkan, mantan ibu mertuanya. Yang dulu bermulut tajam dan memandang remeh padanya. Kini malah sikapnya berubah baik. Perubahannya sangat drastic dan mencolok. Seringkali dia mampir ke rumahnya. Membelikan Kenzo banyak  hadiah. Sayangnya, semua yang dia lakukan tak membuat bocah itu tertarik. Sikapnya menjadi rewel dan buruk.

            “Kenzo….ini oma, sayang” mencoba membujuk Kenzo yang ketakutan. Dia bersembunyi di kolong meja, memeluk boneka dinosaurusnya. Bu Maryam yang melihatnya, terenyuh. Anak kecil tahu mana cinta yang tulus dan tidak. Kenzo baru keluar, setelah di bujuk Lupita.

            “Ayo, sini, nak. Mama punya sesuatu buat Kenzo” dia mengeluarkan mobil-mobilan dari kaleng bekas yang di buatnya bersama Pranaja. Anak itu mengambilnya dan dimainkannya dengan suka cita. Mantan ibu mertuanya, mendekati Kenzo lagi. Anak itu memalingkan mukanya, dan kembali asyik bermain. Si Nenek menjadi kesal di cuekin, di ambilnya mainan kenzo dan dibuangnya ke tempat sampah. Dia menggantinya dengan mainan kereta api yang dibelinya. Kenzo menolak. Anak itu menangis…mencari Lupita. “Mama….mama…”

            “Tolong, jangan dipaksakan,bu…” Si Nenek sewot, dan langsung pulang.
            “Kalau ada maunya, baru deh ngaku cucu” celetuk Bu Maryam, mengagetkan Lupita. Dia mengangkat alisnya.

            “Maaf mba, saya kesel sekali sama Ibunya Mas Ernest…” timpalnya gemas. Lupita mengerti, sebab Bu Maryan, sudah lama bekerja dengannya, sehingga dia mengerti watak mantan mertuanya.

            “Itu kamarnya” Lupita menutup lamunannya dan mengikuti telunjuk Pranaja. Kegelisahannya makin bertambah. “Kamu ikut ke dalam, mas. Aku nggak mau menjenguknya sendiri” pinta Lupita pada lelaki yang selama ini teramat perhatian padanya. Pranaja mengangguk setuju.

            Pranaja membuka pintu pelan. Ernest sedang disuapi oleh ibunya. Ernest terkejut dengan kehadiran Lupita. Dia tampak gugup. Sedangkan Lupita, tampak kaget dengan perubahan drastis Ernest. Badannya yang dulu atletis, kini jauh menyusut. Dengan selang infus di lengan kurusnya. Dada Lupita sesak melihatnya.

            “Apa kabar, mas…” suara Lupita terdengar begitu lembut di telinga Ernest. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Lupita. “Maafkan aku, Lupita! Aku sangat bodoh telah mencampakkan kalian berdua. Padahal kamu begitu berharga!” tangisnya memecah kesunyian di ruang itu. Ibu Ernest dan Pranaja pamit keluar.

            Kenapa kau campakkan aku, bila aku begitu berharga bagimu. Lupita membathin. Dia membiarkan Ernest mengeluarkan isi hatinya.

            “Sudahlah mas, itu masa lalu. Tak usah di pikirkan lagi, aku sudah memaafkan kamu” kata Lupita tiba-tiba. Hatinya menjadi ringan setelah memaafkan Ernest.

            “Bolehkah aku, bertemu Kenzo” Ernest benar-benar mengharap. Lupita mengangguk. Tentu saja, kau adalah ayah kandungnya.Dia membathin lagi. 

            Mereka tak banyak bicara. Lupita dan Ernest sama-sama kikuk. Untunglah Pranaja datang.

            “Kalian nggak ngomongin aku, kan? Candanya. Membuat Ernest dan Lupita tertawa. Mereka berbincang cukup lama.

            Mata Ernest tertohok, oleh mata Pranaja yang begitu memuja Lupita. Dia cemburu. Haruskah aku merebutnya kembali. Ernest memalingkan mukanya.

            “Segeralah sembuh, mas. Apakah kamu tidak ingin bermain bola dengan Kenzo” kata Lupita sebelum pamit pulang, tanpa menunggu Ibu Ernest.

            “Apa kamu yakin, akan membiarkan Ernest bermain dengan Kenzo? Apa kamu yakin keluarga Ernest tidak bakalan merebutnya darimu” Lupita terkesiap dengan pertanyaan beruntung yang di lontarkan Pranaja. Dia menoleh pada lelaki disampingnya.Dan mengangkat bahunya pelan.Kenapa jadi complicated begini!

            Lupita melupakan siapa keluarga Ernest. Mereka akan berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Bagaimanapun caranya! Lupita tak mengindahkan instingnya, supaya berhati-hati dengan mantan ibu mertuanya! Bagaimana seandainya dia dipisahkan dari Kenzo? Di singkapnya pikiran buruk yang tiba-tiba menyerangnya.

            “Selama ada mas, aku dan Kenzo tenang” dia mengerling manja pada Pranaja.pranaja tersenyum. Dan menggenggam lembut tangan Lupita.

            “Kapan aku boleh melamarmu?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Lupita menegang, dan segera melepaskannya tangannya dari tangan Pranaja.

            “Aku belum siap, mas…..” jawabnya lirih. Pranaja menepikan mobilnya. Dan menatap wajah Lupita lekat.

            “Aku mengerti, mungkin aku egois. Tetapi..sungguh,  setelah bertemu dengan Ernest tadi. Aku begitu takut dia akan merenggut harapanku untuk memiliki kalian berdua” kata Pranaja, setengah putus asa.

            “Tak mungkin! Ernest sekarat sekarang, buanglah perasaan cemburumu!” kata Lupita. Pranaja tersenyum kecut. Dia menggeleng. “Kamu lupa, aku sudah mengenal keluarga Ernest bertahun-tahun” Lupita menangkap kegalauan lelaki yang berada disampingnya.

            “Beri aku waktu, mas. Sabarlah sebentar”
            “Sampai kapan ??????? Tanya Pranaja setengah mengerang.
            Bukannya menjawab, Lupita malah menyanyikan lagu kapan-kapan milik Koes Plus. Pranaja marah, dia merasa di permainkan.

            “Lupita…..please….aku seriussss” Lupita langsung terdiam, saat mendengar suara Pranaja.

            “Bukannya aku tak mau, mas….tapi….aku..takut…kamu akan melukaiku seperti Ernest” jawab Lupita terbata-bata, tertunduk, tak berani menatap wajah Pranaja.

            “My God! Aku bukan Ernest! Tolong, sekali saja beritahu aku, bagaimana caranya supaya kamu bisa mempercayaiku, Lupitaaaa!! Dia frustasi dengan sikap Lupita. Lupita tidak tahu, bahwasannya Pranaja sudah mencintainya semenjak dia bertunangan dengan Ernest! Dan itu salah satu alasan, kenapa sampai sekarang dia masih sendiri. Sebab dia terlalu cinta pada Lupita. Pranaja menghembuskan nafas berat. Dia merasa lelah sekarang.

            “Mungkin, lebih baik kita tak bertemu dulu. Supaya kita bisa merenung, langkah apa yang sebaiknya kita ambil” Lupita ingin protes. Namun, mulutnya terkunci. Dia hanya menatap sedih wajah datar Pranaja.
           
           
           
           
           
           
           

           
           
           
           
                       
           
           


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken