Lunch Box Part 9




 Part 9
            Tak sampai seminggu, setelah kedatangan Lupita. Kesehatan Ernest berangsur pulih. Wajahnya mulai segar, dan nafsu makannya mulai membaik. Tak segan, ia khusus meminta pada ibunya untuk memesan makanan pada Lupita. Tentu saja, hal ini membuat keluarga tertama ibunya, senang sekali. Melihat semangat hidup Ernest kembali berkobar

Seakan tak menyia-nyiakan waktu. Ibu Ernest langsung meluncur kerumah Lupita. Semalam, dia berdiskusi dengan Ayah Ernest, akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anak kesayangannya itu. Sepanjang perjalanan, senyumnya merekah, ia begitu yakin, Lupita akan menerima tawarannya.

Di rumahnya. Lupita sedang mencari cara untuk bertemu dengan Pranaja. Dia kelabakan sendiri setelah Pranaja benar-benar serius dengan perkataannya. Dia tak sekalipun datang maupun sekedar berkirim sms pada Lupita. Tiap hari Lupita gelisah menunggu. Semakin dia berusaha mengalihkan perhatian. Wajah lelaki itu semakin nakal menghantui dirinya. Baru disadari, betapa dia terlalu malu untuk menyapanya terlebih dahulu.

Lupita diserang rasa kangen akut. Dia menjadi uring-uringan, tak nyenyak tidur  dan hilang nafsu makan. Dan merasakan dirinya seperti zombie. Lupita tersiksa sendiri. Lupita menggigit ujung bibirnya.

Tuhan, kalau memang dia jodohku, izinkan kami bersama
“Daddy…daddy” suara Kenzo mengagetkan lamunannya. Dia langsung berlari, sampai kakinya terantuk kursi kayu yang melintang di depannya.

Duk! Rasa nyeri menyerang jempolnya. Ia meringis sendirian.
“Pranaja mana!!” Bu Maryam menoleh dengan tatapan aneh padanya. Lupita kagok, ia sadar disana hanya ada karyawannya yang sedang menyuapi Kenzo.

“Mungkin Kenzo sedang kangen Bapak, mba?”
“Oh, Yaaaaa” Lupita menelengkan kepalanya. Ia mencium kening anaknya. Demamnya belum turun.

“Kenzo, apa kangen Daddy?” Bocah kecil itu, memalingkan wajahnya ke jalan, telunjuknya menunjuk tiap mobil yang berhenti. ”Daddy…daddy” katanya.

“Daddy sedang keluar kota, nanti pasti akan datang menengok Kenzo.” Lupita memeluk hangat putra semata wayangnya. Ia menyesal, beberapa hari terakhir hanya sibuk dengan urusannya sendiri.

“Bapak, apa lama keluar kota, Bu? Tumben nggak pamitan sama Kenzo.” Solehah menimpali. Bu Maryam, langsung menginjak kakinya. Membuat Solehah menjerit kesakitan.
“Aduuuuuh, sakittt tahuuu biiiiiiiii” Ia cemberut, mengusap kakinya.

“Bu Mar, tolong ganti baju Kenzo. Kita ke Dokter sekarang! Baru saja Lupita mau berganti baju. Solehah mengetuk pintu kamarnya dan memberi tahu Ibu Ernest sedang menunggunya di bawah.

Agak malas, Lupita menemuinya.
“Maaf, Bu, saya akan mengantar Kenzo  ke dokter” katanya tanpa basa basi. Mantan ibu mertuanya langsung mendelik. Tak suka.

“Nggak ada sopannya sama sekali. Kalau begitu, langsung saja ibu ngomong. Kami mau mengambilmu menjadi menantu ibu lagi. Enak tho, jadi istrinya Ernest lagi. Daripada kamu kerja pontang panting seperti ini. Lagipula, kami nggak senang, Kenzo…di rawat orang-orang kumal itu, hihhhhh…jijik” Dia mengibaskan saputangannya. Lupita melihatnya jadi hilang rasa.

“Lupitaaa..jangan dengarkan omongan wong edan ini. Sampai matipun, ibu nggak rela menerima Ernest kembali menjadi menantu ibu!! Lupita kaget, ibunya tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Kapan dia datang?

“Anakku sekarat, apa kamu tidak kasihan padanya. Bagaimanapun dia ayahnya Kenzo!!” mantan ibu mertuanya tak mau kalah.

“HHAHHHHAAAA, lucu sekali! Dulu kalian menendang anak dan cucuku. Tanpa belas kasihan, kenapa sekarang kami harus mengasihi kalian?” Lupita meredam amarahnya ibunya dan memintanya ke kamar, menemani Kenzo. Dia khawatir bila berlama-lama di situ penyakit darah tingginya kambuh.

Solehah datang, membawakan minuman. Minuman itu, hanya diliriknya sekilas. Mulutnya monyong, seperti takut terkena virus.

Melihatnya saja, Lupita serasa ingin muntah. Namun begitu, dia tetap menjaga tata karma sebagai tuan rumah.

Mantan ibu mertuanya, berdehem.

“Ernest adalah masa lalu saya bu. Kami sudah bahagia sekarang. Dan tolong, jangan ungkit-ungkit lagi soal itu.” Lupita berusaha setenang mungkin menjawabnya.

“Halah! Bahagia dari Hongkong? Kenzo itu cucu ningrat. Mana sudi kami membiarkannya hidup seperti ini.” Lupita tak terima, dengan cibiran mantan ibu mertuanya. 

“Ibu…..Saya kira cukup. Tolong pergi dan jangan pernah datang kerumah ini lagi!” Lupita berdiri dan mengusir mantan ibu mertuanya. Ia kesal dengan kesombongannya.

“Apaaaaa..kamu berani mengusir ibu??!!!!!” Semenit kemudian, lima orang lelaki bertubuh besar menerobos masuk.

“Ambil paksa anak itu” perintah ibu mertuanya. Mereka langsung masuk ke kamar Kenzo dan membawanya dengan paksa. Anak itu menangis histeris. Tapi Lupita, ibu, serta karyawannya seperti terhipnotis. Mereka cuma bengong. Barulah setelah mereka tidak ada, mereka tersadar. Semuanya menangis. Lupita luruh di lantai. “Kenzo…kenzo….”ratapnya memilukan hati.

Ibunya berlari, ke jalan, menyusul mereka. “Mereka bawa cucuku!! Dia berteriak histeris seperti orang kesetanan. Orang-orang yang melihatnya termangu.

Soleh yang baru dating dari mengantarkan makanan. Bingung melihat kegaduhan yang terjadi di LB Catering. Dalam hitungan detik, dia kembali melajukan mobilnya ke jalanan yang padat merayap. Satu yang di ingatnya. Kantor Pranaja!

 “Daddy…daddy”
Berulangkali, Pranaja terkesiap sendiri. Dia sepertinya mendengar suara Kenzo memanggilnya. Hatinya mendadak tak enak. Sakitkah dia. Dia mengambil telepon selulernya, beberapa saat kemudian, telepon itu di masukkannya kembali ke dalam sakunya. Pranaja gelisah. Ia berjalan mondar mandir.

“Pak….ada staff LB Catering, ingin bertemu bapak” kening Pranaja mengernyit. Dan memintanya untuk membawanya masuk. Soleh masuk dengan wajah pucat. Tangannya gemetaran.

“Soleh…..ada masalah apa?”
“Anu..pak…anu”
“Anu apa”
“Kenzo, pak….Kenzo…..” Pranaja tak sabar, dia cemas, dan langsung menyambar kuncinya diatas meja.

“Ayo….ikut bapak” lelaki itu setengah berlari ke tempat parkir.
“Mobil saya gimana, pak”

“Kamu ikut bapak, biar staff bapak yang mengantarnya nanti!!” Soleh, diam dan mengikuti perintah Pranaja. Selama perjalanan, dia sibuk menelpon Lupita, tetapi tak ada jawaban. Kecemasannya meningkat. Apalagi…mendengar Kenzo sedang demam. Kekhawatirannya terbukti, sekarang. Dia semakin kesal dengan keluarga Ernest yang selalu memaksakan kehendak mereka. Tanpa sadar, dia memukul kaca mobil dengan kuat. Untungnya kaca mobil itu tidak pecah. Soleh mengkeret ditempat duduknya.

“Pak……Ibu Lupita katanya menuju rumah Pak Ernest” takut-takut ia memberitahu Pranaja. Kata-kata Soleh, sedikit meredakan kepanikannya. Ia segera memutar haluan, menuju rumah Ernest.

***
Lupita dan ibunya berdiri cukup lama di depan gerbang. Namun satpam disana tak mengijinkan mereka berdua masuk.
“Tolong,Pak. Ijinkan kami masuk. Saya ingin membawa anak saya pulang.” Lupita mengiba.
“Maaf bu, ini sudah perintah bapak”
“Pak….dimana hati nuranimu, apa kamu tidak kenal Lupita” Amarah ibu Hesti sudah di ubun-ubun. Satpam itu bergeming.

“Kalau begitu….saya akan tetap berdiri disini.” Mata Lupita tajam menusuk mata pak satpam.

“Kenzo,,,,,,ini mama, sayang” teriak Lupita berulangkali. Ibunya menangis melihatnya. Ia lalu mengambil sebongkah batu tak jauh dari situ dan dengan segala kekuatan, dia melemparkannya ke salah satu jendela yang menjorok ke taman.

Prang
“Keluar kau perempuan ningrat!! Bu Hesti sepertinya tak punya rasa takut.

Ibu dan Bapak Ernest keluar dengan pongahnya. Dan memperbolehkan mereka masuk. Suara tangis Kenzo…lamat-lamat terdengar. Hati Lupita seperti tercabik-cabik mendengarnya. Dia mencari Kenzo, namun lelaki bertubuh besar, menghalanginya.

Bersamaan dengan itu, Pranaja datang bersama Soleh. Pak Lukman dan Kang Ahmad, sahabat Lupita turut di belakangnya. Kang Ahmad membawa tiga orang kawannya. Satpam yang melihat kedatangan mereka keder, dan mengabaikan perintah tuannya.

Saat melihat Lupita, tanpa sungkan, dia langsung merengkuh pundak perempuan itu. Tangis Lupita pecah, didada bidang Pranaja. “Mama…mama, Daddy…daddy” suara Kenzo terus memanggil. Pranaja memberi isyarat pak Lukman dan Kang Ahmad. Mereka mengangguk dan segera bertindak, memukul telak rahang lelaki besar yang menghadang mereka. Bapak dan Ibu Ernest, menyingkir,ngeri.

Pintu terbuka…
Dan…..

Semua terkesima disitu,
Tangan kecil Kenzo, mengusap-ngusap wajah Ernest yang tergeletak layu dilantai.
Lupita menciumi Kenzo dan segera mengendongnya. Sedangkan Pranaja langsung membopong tubuh Ernest keluar. “Ayo kita segera bawa mereka ke rumah sakit!!












           

Comments

Tulisan Beken