Pesona Riba

    MakPleng! Baru datang dari menjenguk mama, aku buka facebook dan lihat status ponakan bahwa mertua kecelakaan! Suami yang sedang ngopi, kaget poll saat kuberitahu. Dia baru ngeh, saat adiknya berulangkali ngeping dia. Feelingku....mulai tak enak #code. Ya Allah....kenapa berbarengan? Untuk berpikir jernih, rasanya mustahil. Pikiranku terbelah antara mama dan bapak mertua. tetapi.....aku tak bisa memikirkan mamaku saja. bapak mertua juga orangtuaku. Aku harus balance.

    Benar saja, bapak perlu operasi. Kepalaku langsung nyuuuuttttttttttttttttttttttttttt!!!!!! Sebagai bendahara rumah tangga. Aku mulai kebingungan. Sumprit dah....pengeluaran extra, seperti air mengalir, beberapa bulan terakhir. Tabungan di bank.... ahaa..jangan tanya. Nollllll!!!! Wkwkwkkwkw


   Suami gelisah, tanpa diberitahupun. Aku tahu dia ingin sekali menengok orangtuanya. Akupun akan begitu, bila orangtuaku sakit. Tetapi..dia tak enak hati, sebab...dia tahu kondisi keuangan yang tak memungkinkan.

"Berangkatlah, biar aku sama Key disini" 
"Emangnya, ayang ada pegang uang" 

"Ada" jawabku pede. Mbuh....bagaimana caranya aku dapetin uang.Otakku mulai bekerja. Tabungan rahasia, ada 500 ribu. cukup untuk bekal. tetapi...masak nggak ngasih mertua? aku ngomong sendiri.

Mulai deh, mengingat-ingat orang yang pinjam uang. Eitsssss.......kenapa ku ungkit. Toh aku sudah mengikhlaskan, saat mereka nggak ada niat balikin. Eaaaaaaa........aku mikir lagi...pinjam sama kakak. Nggak enak hati.....sebab aku tahu, dia ada plan untuk membangun musolla, lagian dia banyak pengeluaran untuk mama. Kalau aku ikut ngerecokin juga, opo nggak kebangetan.

"Pake aja, surat berharga yang ada di rumah. Kamu dapat uang, masalahmu selesai!!" Bisik setan kucrit. Aku melirik BPKB mobil.

"Jangan!!! Kamu sudah berniat, tidak menyentuh riba! Minta pertolongan Allah! Kata hatiku! Aku terpekur. Lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Aku mulai menangis.

Ya Allah..tolong lindungi hamba, dari hutang riba. Tolong beri aku jalan. Doaku dalam hati.






Tiba-tiba, aku teringat dengan seseorang, hubungan kami erat, seperti keluarga. Beberapa kali dia datang menengok kami di sini. Aku tak memberi tahu suami. Khawatinya dia malu. Aku mengiriminya pesan singkat. "kak....Aku perlu bantuan". Aku menunggu dengan gelisah.

Jujur, sangat sulit bagiku untuk meminta bantuan, terutama masalah finansial. "Kalau bisa, jangan sampai deh! Lebih baik, tangan kita diatas. Egoku begitu tinggi! Dan kini aku harus membuang ego dan rasa maluku. Dadaku makin sesak. Oalah...begini to rasanya, tertekan saat kita terdesak keuangan.

Sahabat kami menelpon, lidahku menjadi kelu.......susah sekali bilang. belum selesai bicara....Suamiku datang. Aku segera menutup telepon. 

kemudian, aku memberi tahu kakak. Dia langsung menawariku bantuan. Aku menolaknya halus....ntah..apa yang ada dalam pikiranku.

Mataku sembab....

Jam lima sore, hujan sedikit reda. tak disangka, kakak iparku datang. Rumahnya lumayan jauh dari rumahku. Sekitar 30 menit perjalanan. Dia datang, memberiku amplop."pakailah uang ini, dulu, jangan di tolak" begitu katanya. Aku tercekat. Airmataku brebes mili. Biarlah dianggap cengeng, nangis terus. Mungkin dia langsung berangkat, setelah kakak menerima teleponku.

"Tapi...mbak ...!!" aku masih bertahan dengan egoku.

"Sudahlah....jangan dipikirkan, kamu bisa membayarnya nanti..kalau ada rezeki lebih" 

 Selepas magrib. Suamiku langsung berangkat. Aku mengirimkan pesan pada sahabat kami tadi. Aku sudah bisa menyelesaikan masalah.

Alhamdulillah. Allah memberiku jalan, lewat kakak. Aku terhindar dari hutang riba. Subhanallah! Andaikata aku berpikir grusa grusu tanpa melibatkan Allah. Bisa jadi, aku akan bergelut dengan hutang riba! Dan akhirnya akan menambah masalahku saja. Berulangkali aku mengucap syukur. Allah melindungiku.

Sekarang....Bismillah, semangattttttt kerjaaaaaaaaaaaaaa!!!!!


#tulisanuntukpengingatdiri
#SayNoToRiba.












   

 

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken