Kopi Tubruk Indun Part 10




Part 10
            Setelah melewati tikungan terakhir. Gilang akhirnya menemukan rumah kontrakan Celine. Di ketuknya pintu berwarna ungu itu. Tak ada jawaban. Gilang mengetuk pintu lagi. Kemudian di dengarnya suara langkah kaki.

            Sreeeekkkkkk pintu terbuka. Gilang memandang Irul, penampilan sahabatnya amburadul, pakaiannya bau penguk. Yang mengejutkan, dia menumbuhkan brewoknya. Wajahnya yang manis, menjadi sangar. Tanpa di suruh, Gilang masuk dan langsung duduk di sofa. 

            Di edarkankannya pandangan. Asbak di atas meja, penuh dengan putung rokok putih. Kaleng-kaleng minuman, gelas kosong berserakan di lantai. Sebagian pintu kamar, terbuka, Gilang dapat melihat sebagian isi dalamnya. Sebuah telivisi layar lebar bertengger manis di dinding dengan wallpaper bermotif bunga-bunga.


            “Kamu….ngapain kesini?” Tanya Irul sinis. Dia mulai menarik dirinya dengan sahabat-sahabatnya.

            “Ibumu….sakit keras! Kamu tak pernah pulang. Kamu juga berhenti bekerja dengan Indun. Dan sekarang….lihat,keadaanmu malah begini. Ada apa sebenarnya Rul?” Gilang tak tahu, apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka berdua. Ibu Indun pernah bertanya padanya, kenapa Irul berhenti bekerja. Dan dia tak tahu harus menjawab apa.

            Mendengar nama Indun, emosi Irul naik.
            “Jangan sebut nama Indun disini!! Bentaknya marah. Gilang kaget tak menyangka akan reaksi Irul.

            “Nggak salah?? Bukannya kamu yang begitu mengidolakan dia. Apa kamu tahu, apa yang menimpa dirinya, HAHHHHHH?!!” matanya melihat kilatan amarah dalam diri Irul. Kecurigaannya semakin kuat. Irul berhenti, kemudian perkosaan dan kebakaran warung Indun, serta kebencian Irul pada sosok Indun yang dulu dipujanya. Gilang menoleh, pada Irul, pria itu duduk termenung di sofa. Wajahnya terlihat pucat. Gilang berdehem.

            “Lekaslah, ganti baju. Ayo tengok ibumu!” Gilang menepuk punggung sahabatnya. Jauh dari lubuk hatinya. Ia kasihan. Irul menurut.
            ***
            Malam sudah larut. Indun membuka pintu kamarnya. Pelan-pelan, kakinya berjinjit ke luar, khawatir membangunkan ibu dan Bik Mayang. Sampai di jalan, ia seperti orang linglung, menoleh ke kiri dan kanan. Suasana jalanan tampak lengang, tak banyak kendaraan yang hilir mudik. Dengan bertelanjang kaki, ia berlari menembus pekat dan dinginnya malam. Tanpa tujuan pasti.

            Indun terus  berlari, meskipun kerikil tajam menusuk telapak kakinya. Hatinya terlalu pedih untuk merasakannya. Airmata terus meleleh membasahi kerudung merah hitam yang dikenakan Indun.

            Lalu, Indun berhenti diatas sebuah jembatan.Dan melongok ke bawah. Sungai besar yang melintasi kotanya tampak berwarna keruh         . Sejenak ia ragu, melihat arusnya yang kuat. Keringat sebesar biji jagung menghiasi keningnya. Ia terduduk di pinggir jembatan. Ia menangis keras-keras. Indun amat membenci hidupnya kini. Selintas bayangan, Ibu, bapak, Arsya, Bik Mayang dan sahabat-sahabatnya melintas di benaknya. Ia semakin kalut. Kemudian Ia berdiri, dan memejamkan matanya……..dan menjatuhkan badannya. Namun….sebuah tangan menariknya dengan keras. Indun membuka matanya. 

Di hadapannya….Arsya terlihat menangis.
            “Apa yang kamu lakukan, adik kecil. Kenapa kamu begitu bodoh” suaranya parau. Indun gusar, ia kesal dengan Arsya yang terus menyelamatkan hidupnya. 

            “Biarkan aku mati, Sya!! Aku benci hidupku!! Tolong…jangan pedulikan aku!! Pergi..pergi…!!” Indun berteriak histeris.

            “Baik….ayo kita lakukan bersama-sama. Supaya aku tidak mengutuk diriku, membiarkanmu bunuh diri!! Dia mendorong tubuh Indun. Indun terperangah.

            “Kamu sangat egois,Ndun. Bukan kamu saja yang pedih. Ibu, dan bapakmu juga terpukul dengan kejadian yang menimpa dirimu. Tapi…mereka tak memperlihatkannya!! Indun semakin tertekan.

            Arsya mendekati Indun.
            “Masih ingin, bunuh diri, huh?” Indun diam saja, matanya sayu. Sesekali tangannya menyapu airmata yang masih berderai.

            Di tengah kegamangan Indun. Tiba tiba seekor kucing putih melintas, bersamaan dengan motor yang melintas cepat. Tanpa ampun roda depannya menggilas tubuh kucing itu. Indun menjerit tak tega. Si pengendara berhenti. Kucing itu berjalan terseok-seok. Dengan mulut masih membawa anaknya. Kucing itu rebah di depan kai Indun. Indun mengelusnya. Nafas induk kucing itu semakin payah, dan matanya melaz mentap Indun. Sedangkan sang anak terus mengeong di sampingnya. Suaranya lirih, menyayat hati. Kemudian kucing itu berhenti bernafas. Meow…meow..meow, anak kucing itu mencoba membangunkan ibunya. Namun…tubuh ibunya diam, tak bergerak. Anak kucing itu terus mengeong.

            Tak tega, Indun lalu membawa anak kucing itu ke dalam dekapannya. Barulah dia berhenti.

            Si pengendara motor membungkus tubuh induk kucing dengan selembar koran yang ia temukan. Lalu pamit pada mereka berdua.

            Melihat anak kucing dalam pelukannya. Meruntuhkan niat Indun untuk bunuh diri. Rupanya anak kucing itu mengerti, ia meringkuk manja dalam pelukan Indun. Indun tertawa senang. Arsya bisa bernafas lega. Sungguh..ia tadi amat takut dengan kenekatan Indun. 

            “Ayo..kuantar kamu pulang” ajak Arsya, sembari membantunya berdiri. Tanpa perlawanan. Indun mengikuti Arsya, dan tak membantah saat Arsya memintanya duduk di sampingnya.

            “Apa kamu akan merawat anak kucingnya?” Indun mengangguk menjawab pertanyaan Arsya. Ia menamainya “DESTINY”.
           
           
           
           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken