Kopi Tubruk Indun Part 11




Part 11

            Atas permintaan Indun. Arsya mengantarnya ke tempat usahanya yang terbakar. Dia tak tahu apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu disana. Lelaki itu menemaninya.

Indun berdiri di depan The Nongkrong Waroeng miliknya. Melihatnya dengan pandangan pilu. Impiannya ludes, nyaris tak tersisa. Tangannya memegang dinding. Lamaaaaa sekali. Ia menarik nafas berat. Badannya mulai gemetar, teringat peristiwa malam itu.
Miawwww..miaw…rengekan Destiny menyadarkannya Indun membelai tengkuknya lembut. “Kamu lapar ya?” kata Indun pelan. Destiny mengeong keras. .Melihat mata bulatnya menatap penuh harap pada Indun. Gadis itu tersenyum simpul. Ia terkesima dengan mata birunya.  Melihat Destiny ia seperti memiliki kekuatan baru.

“Tunggu disini dan jangan kemana-mana” pinta Arsya.
“Mau kemana??”
“Mencari makanan untuk Destiny…?”

“Aku tidak kau tanya?” Timpal Indun. Mood untuk bercanda mulai kembali. Arsya menyungginkan senyumnya. Beban berat yang menindih hatinya terlepas, mendengar pertanyaan Indun. Ia lega luar biasa. Indun yang dikenalnya, telah kembali.

“Kamu mau apa?”

“Coklat Hersey. Itupun kalau kamu tidak keberatan” Arsya mengangguk, dan berlari cepat ke seberang jalan, ke sebuah minimart yang buka 24 jam. Tak berapa lama, diapun kembali menenteng belanjaan.

Indun terkejut, ketika tahu Arsya membelikan sandal buatnya. Pikirannya tadi memang kalut, sampai tak kepikiran untuk memakai sandal.

Mereka duduk di pinggir trotoar, menikmati manisnya coklat Hersey sambil melihat bintang. Malam itu cerah dan suasana sunyi, sehingga mereka bisa mendengarkan detak jantung mereka sendiri.

Disamping Indun, Destiny menyantap ikan sardennya rakus. Empat ikan di makannya dalam sekejap. Indun bahagia melihatnya.

“Aku akan membangun warung ini kembali” katanya pada Arsya. Pria itu, meliriknya tak percaya. Padahal beberapa jam lalu, dia amat rapuh  dan kini hadir sebagai super women, seolah tak terjadi apa-apa.

“Kamu, yakin?” Indun mengangguk, percaya diri. Seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Arsya, Gadis itu melanjutkan perkataannya.

“Segala hal yang terjadi, tentu ada alasan tertentu. Aku takkan melupakan itu. Setiap orang yang kita temui,setiap kejadian yang kita alami, pasti ada alasannya. Termasuk kehadiran kamu dan Destiny. Aku tinggal memilih, mengabaikannya atau mencari tahu alasan dan hikmah apa yang bisa kupelajari dari situ”

“Lantas….kamu memilih yang mana?” Tanya Arsya ingin tahu. 

“Aku ingin mencari tahu, dan saatnya untuk berubah, melupakan semua kejadian buruk yang menimpaku, dan menata kembali impian. Mungkin aneh, tetapi..Destiny telah mengembalikan semangat hidupku. Terimakasih, Sya. Kamu telah menyelamatkan hidupku. Aku berhutang banyak padamu.” 

“It’s okay……aku senang membantumu. Oh ya….aku mau mengunjungi Abah Nurul. Kamu mau ikut apa tidak?” Tentu saja, Indun mau, dia sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Dia membayangkan suasana damai disana. Hatinya di liputi perasaan bahagia.

***
Di rumah Ibu cemas, Bik Mayang memberitahunya Indun tak berada di kamarnya. Dia menunggu kehadiran bapak di ruang tamu. Hubungan mereka semakin membaik dan akrab. 

Bapak datang setengah jam kemudian. Sikapnya yang tenang, membuat Ibu merasa nyaman. “Kita cari kemana, Indun…?” lelaki itu menggeleng, menyeruput kopi yang dibuatkan Bik Mayang. Jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi. 

“Jangan khawatir, sebentar lagi mereka datang” dan benar saja, Indun dan Arsya datang setelah bapak berbicara begitu.

“Wah….panjang umur.” Teriak Bik Mayang senang. Dia memberitahu majikannya kedatangan mereka berdua. Ibu tergopoh-gopoh menyambut Indun.

“Kamu dari mana saja, Nak. Bikin hati ibu khawatir. Kamu tidak apa-apa kan?” Ibu Indun memeriksa badan anak perempuannya. Indun memeluk ibunya. “Maafkan Indun, bu. Tidak pamit pada ibu. Semalam Indun tak bisa tidur, kemudian meminta Arsya untuk mengantar Indun jalan-jalan.” Indun berbohong.

“Kenapa kamu tidak memberi tahu, Ibu. Ibu bisa menemanimu tidur” kata Ibu mencolek hidung bangir anaknya. Dan meminta Bik Mayang untuk membuatkan mereka sarapan pagi. Yah…meskipun waktunya terlalu dini untuk sarapan.

Arsya memohon pamit, namun di cegah oleh ibu dan Bapak. Dia di minta beristirahat di ruang tamu.

“Mas….anak itu, sepertinya cocok menjadi mantuku, bagaimana menurutmu?”
“Ia, sepertinya dia lelaki baik dan bertanggung jawab, tetapi…dia hanya sopir taxi. Apa kamu tidak malu memiliki menantu seorang sopir.” Bapak melempar pertanyaan pada Ibu.

“Selama Indun bahagia, aku turut senang. Aku tak mau memaksakan kehendakku lagi padanya.” Ibu menatap mesra bapak. Ia menjadi gugup kala mata mereka bertemu.

“Maukah kamu menjadi istriku kembali, Bu. Tak banyak yang bisa kutawarkan padamu, tetapi..aku ingin kita bisa menjalani hari tua kita bersama-sama, bersama Indun” kata Bapak tiba-tiba, membuat jantung Ibu terasa lepas. 

“Siiiippppppppppppppppp..Indun setuju” kata Indun dari balik korden. Senyumnya mengembang, lantas memeluk ibu dan Bapak. Ia sangat bahagia, keluarganya kembali utuh.


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken