Kopi Tubruk Indun Part 5




Part 5

            Penciuman Ibu tajam, dia mengetahui ternyata Indun yang mengacaukan rencana pernikahan sirinya. Ibu marah besar! Dia berulangkali menghubungi Daniels, namun Daniels menolaknya mentah-mentah. Ibu tak hilang akal, dengan caranya sendiri, dia bisa menggaet seorang duda kaya dengan lima orang anak supaya mau menjadi Produser Indun. Ibu sudah membuat jadwal pertemuan antara Indun dan Leonard, di sebuah cafĂ©, di pinggiran kota.

            “Ibu..saja yang datang, aku tidak mau” sungut Indun kesal. Semua kekesalannya di pendamnya sendiri  dalam hati. Ia tak mau menuruti perintah Ibu.


            “Rewel sekali sih kamu, kamu sadar tidak, kariermu sudah meredup. Kamu perlu orang untuk menyokongmu bangkit. Ingat , Ndun….kita perlu uang. Kalau kamu tak bekerja, siapa yang akan memberi uang Ibu!! Ibu terlihat semakin emosi mengeluarkan kata-katanya. Dia geregetan dengan sikap Indun yang seakan tak peduli dengan apa yang ucapkannya. Ia malah asyik menyumpal teliganya dengan headset.

            Indun gusar. Selama ini Ia diam, tak pernah mempersoalkan berapa banyak uang yang dihabiskan oleh Ibu. Selama dia bisa, dia akan memberi ibu. Tetapi..Ibu semakin bertingkah. Apalagi semenjak ikut Geng sosialita nggak jelas. Bulan ini liburan ke Eropa, bulan depannya keliling Korea, belum lagi arisan disana sini, sehari bisa 7 kali. Kesibukannya melebihi Indun. Dan dia mulai keberatan, dengan gaya hidup Ibu.

            Beruntung, Irul bisa menenangkan kegelisahan Indun. Dengan bantuannya, Indun membeli tanah dan sawah, tanpa sepengetahuan Ibu. Berkas-berkasnya dia simpan di Bank.

            Diam-diam,  dia juga membelikan rumah dan modal kepada Bapak untuk usaha warung kopinya. Bapak sampai menangis, terharu. Dan itu pertama kalinya bagi Indun melihat wajah bahagia Bapaknya. Ibu tak tahu..Indun banyak menyimpan termasuk pertemuannya dengan Bapak. 

            Indun enggan menceritakan semua. Termasuk hubungannya dengan Irul.Sebab, ia tahu Irul bukanlah tipe suami yang Ibu inginkan.

            Sejak awal, Ibu terobsesi memili menantu anak orang kaya, atau setidaknya pengusaha kaya. Yang bisa menopang segala keinginannya. Sebab Ibu sudah capek hidup melarat, Dia ingin hidup Indun dan dirinya bahagia, tanpa perlu bekerja keras.

            HHAAAAHHHHHHHHHHHHH, kaya dari langit! Indun tertawa sinis.Dia lupa ibunya masih disana, dan sedang memperhatikannya.

            “Jadi….., keputusanmu apa? Ibu bertanya lagi
            “Tolong jangan desak Indun lagi, untuk bertemu lelaki pilihan ibu. Indun tak mau! Sekali tidak, ya tidak! Ibu tercengang. Tak menyangka Indun akan melawannya. 

            “Nonsense!! Pikiranmu pendek, Ndun. Cobalah berpikir panjang. Semua ini ibu lakukan untuk kebahagiaannmu?” Ibu mencoba melunak. Dia tak ingin melepas kesempatan emas untuk kedua kalinya.

            Indun bergeming….dia tetap pada pendiriannya. Membuat Ibu frustasi. Dan akhirnya memutuskan untuk menemui Leonard seorang diri.

***
            “Apakah kamu mencintaiku, mas?” Irul mengangguk. Indun adalah wanita yang disayanginya setelah Ibunya. Dia akan melakukan semuanya untuk membuat kedua wanita itu bahagia.

            “Kalau begitu, maukah kau menikahiku?” Indun tak malu lagi mengutarakan keinginannya. Toh itu memang tujuannya bertemu dengan kekasihnya. Semalaman dia sudah berpikir panjang untuk menikah muda. Dan siap dengan tekanan Ibu yang bakalan menolak mentah-mentah keputusannya. Ini hidupnya! Dia yang akan membuatnya bahagia atau tidak. 

            Sejenak…Irul ragu. Dia memang mencintai Indun, tetapi..untuk menikahinya dalam waktu dekat, Entahlah….bebannya masih banyak.

            Indun menunggu, gelisah…….
            Irul tak jua menjawab. Di hisapnya rokok dalam-dalam. Tak terasa….sampai 2 batang. Tanpa di beritahu, Indun mengerti. Dia berdiri dan berlalu dari hadapan Irul. Meninggalkan sisa lipstick di pinggiran es coffee yang dia teguk.

            Indun sekali lagi, kecewa. Irul tak berlari mengejarnya, seperti drama percintaan yang ia tonton. Air mata mengembang di kedua pelupuk matanya, Menggenang. Dan jatuh deras meluncur, di pipinya yang kemerahan.

            Sebuah taxi berdiri di depannya. Indun masuk.
            “Mau kemana,mba ….” tanya sopir Taxi, menghentikan tangis Indun.

            “Jalan saja, Pak” dari balik kaca spion, rupanya sang sopir memperhatikan Indun. Hatinya tiba-tiba bergetar. 

***
            Malamnya, Indun tak pulang. Ibu kebingungan dan memarahi Irul ketika lelaki itu tak dapat menemukannya. Seperti orang kesurupan, Ibu meraung-raung memanggil nama Indun. Seumur hidupnya baru kali ini, ia begitu takut, kehilangan anak semata wayangnya.

            “Apa sebaiknya kita lapor polisi, Rul…!!!!!! Ia nyaris berteriak. Pikiran jelek menyerbu otaknya. Ia makin panic. Bik Mayang menyabarkannya. Irul mencoba berulangkali menghubungi telepon seluler Indun. Sayangnya nomornya tidak aktif. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri.

            Gilang datang. Bersama Irul dia mengobrol di taman. Irul menceritakan permintaan Indun padanya.

            “Rul….kamu lelaki bodoh yang ku kenal! I” Gilang tahu, Indun  mencintai irul. Dia pasti sudah berpikir panjang sebelum mengatakannya pada sahabatnya itu. Andai dia Irul, tak mungkin dia menyia- nyiakan kesempatan emasnya.

            Irul bertambah galau. “Sudahlah..jangan banyak bicara!! Kita cari saja, Indun!! Irul menarik lengan sahabatnya kasar. Mereka berdua menuju motor masing-masing. Bik Mayang dan Ibu Indun menunggu di rumah.




           
                       

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken