Kopi Tubruk Indun Part 6




Part 6

            Pelan-pelan, Indun membuka kedua matanya. Saat kepalanya, nyaris membentur kaca mobil. Sebuah jaket terjatuh dari pangkuannya. Ia terpekik, kaget. Menyadari ia  berada dalam taxi. Buru-buru dia memeriksa badan dan tas yang dibawanya. Ia khawatir, sesuatu telah menimpanya. Semua aman! Indun meringis sendiri. Tidurnya benar-benar lelap. Tetapi…dimana ini? Matanya celingukan mencari-cari keberadaan sopir taxi.

Indun melihat arlojinya. Masih jam 3 pagi. Indun menguap. Rasa kantuk, masih menyerangnya, namun….ia berusaha untuk melek dan waspada. Mencoba mengingat kejadian semalam. Tak banyak yang di ingatnya selain, meminta sang sopir untuk terus jalan. Ibunya pasti sangat mencemaskan dirinya. Di ambilnya telepon genggamnya. Disana, ada seratusan mis call baik dari ibunya maupun dari Irul. Indun memejamkan matanya sebentar. Sebelum jemarinya mengetik sebuah pesan untuk ibunya.

Indun bosan menunggu di dalam mobil. Kemudian ia memutuskan untuk merenggangkan badannya sambil mencari pengemudi taxi.

Di depannya ada surau kecil, berdinding bamboo, dengan halamannya yang cukup asri. Mata seakan di buai oleh banyaknya pohon dan aneka jenis bunga, termasuk kumpulan bunga Vinca yang sedang berbunga. Seorang lelaki berbaju koko putih dengan sarung coklat motif kotak, keluar dari dalam surau dan menghampiri Indun. Indun melemparkannya senyum ke arahnya. Bapak tua itu menyambutnya hangat. “Maaf….apa ada yang bisa Bapak bantu, nak?” Indun mengangguk. “Mmmmm…saya mencari, pengemudi Taxi, yang saya tumpangi, Pak. Itu Taxinya di depan.” Tanya Indun ramah. 

“Ohhhh, dia ada di dalam, Nak. Tuh orangnya?”  sahut lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Nurul,  yang merupakan pemilik surau tersebut. Rumahnya hanya beberapa depa dari tempatnya berdiri. Indun mengikuti jari telunjuk Pak Nurul, di sana ada seorang lelaki yang sedang duduk bersila. Indun ragu…..semalam dia tak begitu perhatian dengan wajah sang sopir.

Indun permisi, dan pergi ke sumur di sebelah surau untuk membasuh mukanya. Air dingin menyegarkan wajahnya. Adzan subuh, berkumandan. Suara muazzin begitu merdu, menyentuh urat nadi dan menggetarkan hati Indun. Untuk pertama kalinya hatinya luar biasa damai saat mendengarkan Adzan. Kedamaian yang selama ini dicarinya. Indun tergugu dalam tangis, haru. Ia baru menyadari, bahwasannya ia merindukan berdialog dengan Allah. Yang selama ini, selalu Ia abaikan keberadaan- NYA dan malah sibuk  bergelut mengejar duniawi. Sesuatu yang ternyata kosong.

Lantas ia masuk ke surau, dan mengambil sebuah mukena yang terlipat rapi di sebuah rak di sudut ruangan. Seruan adzan itu menggerakkannya untuk bersimpuh pada SANG ILAHI. Dan mengambil shaf terdepan. Ia tunaikan shalat subuh disana, dengan khusyu’ dan tenggelam dalam dzikir sampai kakinya terasa kebas.

Ouf, ia menyelonjorkan kakinya. Dan di pijitinya pelan-pelan.

Sebuah tangan keriput memegang bahunya. Indun menoleh, di sampingnya ada seorang nenek berjilbab abu-abu tersenyum menyapanya.

“Nak….mari sarapan dulu, di rumah” Indun tak menduga dengan tawaran yang memang sangat ia butuhkan saat itu. Perutnya memang lapar sekali. Sejak kemarin malam perutnya tak terisi apapun. Langsung saja, ia mengangguk setuju.

Kemudian mereka bersama-sama menuju rumah Pak Nurul. Si sopir Taxi ternyata berada disana. Bersama tuan rumah sedang meminum secangkir kopi. Sepiring pisang goreng terhidang juga di meja.

Bu Nurul membawa nasi beserta lauk pauk untuk para tamunya. Indun menawarkan diri membantu. Sarapannya berupa nasi jagung, pecel, tempe dan ikan asin., dan kerupuk singkong Tak sadar, Indun menelan air liurnya. Si sopir melirik, ia mesem. Memperlihatkan lesung pipinya yang manis.

Mereka makan dengan lahap.Indun sampai malu-malu untuk meminta ijin untuk nambah, barang sepiring. Bu Nurul dan nenek tertawa senang. dan menambahkan banyak nasi serta lauk pauk ke piring Indun.

“Wah…..wah..wah….banyak juga makannya” ledek sang sopir. Indun melihat si sopir. Mata mereka saling bertatapan, untuk seperkian detik. Tetelolet…..si sopir, salah tingkah, ia menunduk malu. Dan Indun, cuek, kemudian sibuk menyuapkan nasi ke mulutnya. Dua piring nasi ludes. Indun meraba perutnya yang kekenyangan. Ia benar-benar puas, dengan masakan Bu Nurul. Mulutnya tak henti memujinya, sampai Bu Nurul malu.

Sebagai rasa terimakasih, Indun menawarkan diri mencuci peralatan makan. Nenek dan Bu Nurul tentu saja menolak. Tapi Indun memaksa. “Tadi bapak tersentuh sekali dengan suara adzan nak Arsya. Subhanallah, merdu sekali”  Di dapur, pujian Pak Nurul pada Arsya, sang sopir taxi, terdengar jelas di telinga Indun. Ia sampai menghentikan pekerjaannya. 

Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Indun pamit pulang. Dan meminta alamat dan no telepon Bu Nurul. Ia berencana mengirimkan sesuatu untuk mereka, sekembalinya nanti.

“Sudah siap berangkat, bu?
“Kapan aku jadi ibumu…? Sahut Indun, membuka pintu mobil. Arsya memegang keningnya. lucu juga nih orang. Ia berjalan riang. Dan dari kaca spion dia melihat Indun sekilas. Semalam gadis itu terlihat putus asa, tapi sekarang, dia sudah kembali riang, seolah-olah tak terjadi apa-apa.

“Kita kemana sekarang?”
“Pulang…..” Indun memberikan alamatnya.

Kring…..

Indun melirik teleponnya, Ibunya menelpon, Indun menjawabnya sebentar. Kemudian…teleponnya berbunyi lagi. Dari Irul…… Tapi Indun malas menjawabnya. Semalaman dia berpikir, ternyata cintanya pada Irul, hanya sebatas sahabat. Tak lebih! Dan dia beruntung, Irul tak menyanggupi permintaan konyolnya. Indun menyesali kecerobohannya.

            Setibanya, di rumah, Indun berencana menemui Irul. Setelah itu, ia akan berbicara dengan Ibunya, dan mengutarakan semua keinginannya. Ia tak mau menyesal di kemudian hari.




           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken