Kopi Tubruk Indun Part 7




Part 7

            Irul merasa tak menjejak tanah, begitu Indun memutuskan kisah kasih mereka, dengan sepihak. Padahal hubungan mereka masih seumur jagung. Jelas, dia patah hati. Tak terima dengan perlakuan Indun. Rasa kecewa dan marah membungkus dirinya. Hhhhhh……Segitu kerdilnya pikiran Indun. Tidak semestinya dia begitu, masak hanya karena dia tidak menjawab permintaannya, terus dia ngambek dan meminta putus. Apa kata dunia, je! Irul mengepalkan tangannya.

            “Aku tidak mau putus denganmu!” Irul mendesah. Indun tenang memandangnya, sambil menyeruput cappuccino, yang masih hangat.

            “Itu pilihanmu, tapi..aku sudah memilih…kita selesai di sini. Maaf, harus ku bilang, aku menyukai Mas Irul sebatas kakak, sodara, sahabat, atau apalah itu…tak lebih.” Irul tetap tak terima. 


            “Ndun…..aku tak mengerti, hanya dalam semalam kamu bias berubah 180 derajat. Apa salahku, Kamu tak pantas memperlakukan, aku begini!!” anger management yang dipelajarinya selama ini, tak berlaku lagi. Irul mulai kalap.

            “Tolong….jujur padaku, Ndun…” Indun, terdiam. Ia tak mau menyakiti hati Irul. Dia baik. Tapi….ada sesuatu yang membuatnya, tak nyaman. Bila hubungan mereka terus lanjutkan, semua rasanya percuma. Dia butuh seorang Imam yang mau membantunya menjadi pribadi yang lebih baik. Selama ini, Irul seperti seekor bebek yang mengikuti apa kata majikannya. Susah sekali baginya untuk memutuskan sesuatu. Padahal, Indun sudah memintanya untuk lebih berani.

            “Please, Ndun….” Irul memohon. Indun menggeleng. “Maafkan, aku mas….” Indun menarik langkahnya keluar. Meninggalkan sayatan dalam di hati Irul.

***
            Setelah berhitung dengan cermat. Indun memutuskan untuk berhenti menjadi artis. Dan akan menggeluti warung kopi secara professional. Dia sudah memiliki design untuk warung kopinya. Minimalis dan bernuansa pedesaan. Indun memejamkan matanya, membayangkan warung kopinya. Pengunjungnya ramai dan menikmati hamparan padi menguning, suara cicit burung, dan sejuknya semilir angin. Tetapi…masalah utamanya. Tempat untuk warung kopinya di tengah kota! Gubrak!!! Lamunan Indun terhenti seketika.Ia cengegesan sendiri.

            “Ngelamun..lagi!!! Lanjutin sana! Terus kapan kamu kerja Ndun, dan memberi ibu banyak uang!!” Seperti seorang hantu, Ibu tiba-tiba nongol menjewer gemas telinga putrinya. Ibu memang sedang perlu uang. Dia di tawari berlian oleh temannya. Limited edition! Ibu sudah mencobanya, dan memperlihatkannya pada Indun.

            “Aduh…..jangan-jangan kepala Ibu isinya uang terus” Indun menyeringai. Ibu melepaskan jewerannya. Indun membuka lacinya dan mengambil sebuah cheque. Mata Ibu berbinar. Dan mencoba mengambilnya, tetapi..tangan Indun lebih gesit. “Eiitsssss….sabar bu.” Ibu menggeliti pinggang Indun. Indun tak tahan..dia meronta-ronta kegelian. 

            “Cepatlah, Ndun….Ibu harus segera menelpon tante Mira”
            “Okeh! Tapi…Ibu harus menyetujui semua keputusan yang Indun buat” Ibunya mengangguk cepat, dia tak peduli dengan keputusan Indun. Yang penting berlian yang di mauinya  bisa cepat ia miliki.

            Dan benar, Ibu tak bisa berkutik saat  terbangun dan melihat Indun mengubah penampilannya , menjadi lebih religious. Ia mulai mengenakan hijab!  

 Ibu memasang aksi tak suka dengan penampilan baru Indun. Wajahnya terus di tekuk. Indun menggodanya…supaya Ibu tertawa.

            “Kamu habis makan, sih, Nduuunnnnnnn…..dalam semalam, kamu sudah berubah! Kata ibu, tak tahan.

            “Habis makan jengkol. Indun menunjuk sepiring semur jengkol yang dimasak oleh Bik Mayang. Ibu manyun. 

            “Terus……bagaimana kariermu? Karirmu sudah redup, apalagi dengan gaya pakaianmu sekarang. Ibu tak mau kamu ikut-ikutan ngelmu yang aneh-aneh” 

            “Ibu..jangan mikir macam-macam. Indun hanya ingin menjadi muslimah yang bener! Indun terpaksa menyetop perkataan ibunya sebelum ngelantur kemana-mana. Mungkin ibunya terlalu banyak menonton televise, dan bermain medsos dengan teman sosialitanya. Membuat pikirannya terpengaruh informasi negative.

            Indun mendekati ibunya, dan memeluknya. “Ibu jangan khawatir, indun takkan macam-macam.” 

            “Beneran, Ndun? Tidak ada orang yang mencuci otakmu?” Indun tertawa terbahak-bahak. “ibu seperti, tak mengenal Indun saja!” Gantian ibunya yang tertawa. Anak semata wayangnya itu, wataknya keras. Bila bilang tidak ya tidak. Dia tak mudah dipengaruhi orang lain. Bisa rugi Bandar mereka.

            “ Oh ya…..Ibu lama tak melihat Irul, kemana dia…..?” Indun terbatuk.
            “Mungkin, sedang sibuk” jawab Indun sekenanya. Dia memang tak pernah menghubunginya lagi. Apalagi dia sudah berhenti menjadi managernya. Ups….dia lupa cerita soal itu pada ibunya.

            ***
            Indun mulai sibuk dengan pembuatan warung kopinya. Tiap hari dia berkeliling keluar toko bangunan, toko meubel, dan toko vintage, berburu barang untuk keperluan warung kopinya. Indun lega warungnya sudah 90 persen rampung. Tinggal finishing. 

            Saat Indun rehat disebuah rumah makan. Matanya tertumbuk pada seorang lelaki yang berjalan cepat, menggendong seorang perempuan tua.

            “Arsya….!!! Pekiknya tak sadar. Ia  berlari menghampirinya dan mencegat langkah pria itu.
            “Mau kemana?”
            “Nenek ini pingsan..aku akan membawanya ke Rumah Sakit!”
            “Tunggu disini, aku akan segera mengambil mobil…..” Indun segera berlari menuju parkiran. Dan langsung membawa nenek ke Rumah Sakit.
            “Siapa dia? Tanya Indun memecah kesunyian.
            “Tetanggaku…..” Sahut Arsya pendek. Arsya tak menyangka bisa bertemu kembali dengan Indun.

            “Tadi…aku sempat pangling melihatmu. Sungguh! Dengan hijab, kamu lebih cantik! Puji Arsya tulus. Pipi Indun merona merah. Hatinya di penuhi dengan kupu-kupu. Bisa saja dia bicara seperti itu disaat genting begini. Apa nggak malu di dengar nenek. Indun membathin.

            Ciiiiiiteeeeeeeeeetttttttttttttttttttttttttttt

            Indun menginjak rem kuat. Seorang ibu tiba-tba melintas di depannya. Ia menjadi gugup. Keringat dingin membasahi keningnya,

            “Sini..biar aku saja yang menyetir. Kamu yang memegang nenek.” Indun mengalah. Dan duduk di belakang bersama nenek yang tampak pucat.

            Dia duduk anteng. Baru kali ini dia bisa leluasa memandang wajah Arsya. Meskipun dari belakang.

           
           

           
           
                       

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken