Kopi Tubruk Indun Part 8




Part 8
            Sepasang mata penuh amarah itu, terus mengikuti kemana perginya Indun. Berkali-kali, mulutnya mengeluarkan kata-kata sumpah serapah. Ia menyulut rokok putih dan menghisapnya dalam-dalam.

            Serangan nyamuk, mulai menyerang bagian badannya yang tidak tertutupi baju. Lelaki itu jengkel, dan mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir nyamuk. Sialan!! Rutuknya. “Boss…apa kita masuk sekarang?” Lelaki yang di panggil boss itu mengangguk. Dan meminta anak buahnya untuk mengenakan topeng. Mereka turun dari mobil. 

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Suasana di luar  lumayan sepi. Saat musim hujan begini, banyak orang enggan untuk keluar rumah. Sekali lagi, Indun memeriksa persiapan untuk grand opening The Nongkrong Waroeng, miliknya, besok pagi.


 Semua sudah siap. Gelas, piring, sendok, garpu tampak bersih mengkilap.Sehingga ia bisa melihat wajah manisnya, di situ.  Menu dan buku tamu serta souvenir yang akan dibagikan kepada tamu juga sudah tertata rapi. Ia tersenyum puas. Melihat pekerjaan ketiga karyawannya, Ayu, Cakra, dan Nilam.

            Ia menyeduh kopi dan duduk, di sebuah sofa panjang, dan menyetel music. Suara Christina Perry - A thousand Year, mengalun lembut di telinganya. Perlahan, disesapnya kopi. nikmat sekali rasanya di tenggorkannya! Ia memejamkan matanya, menikmati moment kesendirian.

Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid
To fall
But watching you stand alone
All of my doubt
Suddenly goes away somehow

            Sreeeekkkkkkk, srekkkkkk. Telinganya mendengar mendengar suara langkah kaki. Ia menoleh ke belakang. Matanya terbelalak. Ia tak berkutik saat lelaki bertopeng yang menyerupai kura-kura ninja, membekap mulutnya dengan lakban, dan  mengikat tangannya lalu menyeret tubuhnya ke toilet. Indun berusaha melawan, kakinya menendang tak karuan mengarah ke badannya. Lelaki itu menyeringai. Dua orang berbadan besar datang, yang satu membawa jerigen besar. Dan menumpahkan isinya ke semua ruangan. Bau bensin, menusuk keras, indra penciuman Indun.

            Disaat situasi genting begini, rasanya susah untuk berpikir positif. Dan Indun berusaha, Otaknya bepikir keras, bagaimana bagaimana melepaskan ikatan dan melawan mereka. Perlawanan 1 banding 3! Dua orang bertubuh seperti algojo itu memandangnya. Indun membalasnya! Ia tak boleh takut.

Indun membabi buta. Ia mulai kalap, meyerang, lelaki yang berada yang membekapnya sejak tadi. Tendangan Indun mengenai alat vitalnya. Lelaki itu melenguh, kesakitan!  Lelaki itu tak sabar dan memukul rahangnya. Indun tersungkur di lantai. Dengan beringas, lelaki itu menarik paksa bawahan yang dipakai Indun. Indun panic….tak berapa lama kemudian, Iapun pingsan, 

***
Hati Arsya tak tenang. Ia membawa taxinya seperti orang di kejar debt collector. Indun tadi menelponnya, namun..hanya suara tidak jelas yang ia dengar. Ia takut terjadi sesuatu dengan Indun. Dan benar saja. Saat sampai di depan The Nonkrong Waroeng. Dia melihat wajah-wajah panik melihat lidah api menyulut pasti, melumat pongah barang-barang yang ada di dekatnya. Sekerumunan orang, berusaha memadamkan api, dengan peralatan seadanya, sambil menunggu petugas pemadam kebakaran datang. Arsya berusaha menerobos masuk.

“Jangan mas, terlalu berbahaya di dalam” teriak salah seorang dari mereka.
“Ada orang didalam!! Ia tak menggubris seruan mereka, dan menerjang pintu masuk. Melawan asap tebal yang didalam. Matanya perih. Ia berusaha sekuat tenaga bertahan. Ia berjalan membungkuk, menyisiri semua tempat yang sekiranya Indun berada disana. Dan langkahnya terhenti di depan sebuah pintu. Dengan sekali terjangan, pintu itu terbuka. Sesosok tubuh terkulai tak berdaya di lantai ubin. Arsya melihat sekeliling, dan melihat sebuah handuk besar tergantung di sebelah shower. Tanpa berpikir panjang, dia membasahi handuk itu dengan air yang ada di dalam ember. Dan menutupi tubuh Indun dengan handuk tadi. Kemudian membopong Indun keluar.

Di luar, semua orang cemas menunggu. “Itu mereka!” jerit salah seorang ibu menunjuk Arsya yang membopong Indun. Petugas pemadam kebakaran sudah datang bersamaan dengan ambulance. Arsya dan Indun segera diberi pertolongan.

***

Ibu Indun syok mendengar kejadian yang menimpa anaknya. Dia menangis sesenggukan memanggil-manggil nama Indun yang tak kunjung sadar. Bapak Indun, Gilang dan Arsya juga berada di sana.

Bapak tak dapat menyembunyikan kesedihan hatinya, melihat impian anak kesayangannya terenggut dalam satu malam. The Nongkrong Waroeng luluh lantah oleh api. Ia tadi melihatnya dengan Arsya, pria yang dikenalkan oleh Indun padanya sebagai teman baiknya. Sedianya pagi ini, mereka bersuka cita. Catering dan bunga-bunga yang sudah di pesan. Tak mungkin di kembalikan lagi. Arsya berinisiatif membagikan makanan itu ke panti asuhan, dan orang-orang yang membantu mereka semalam. Mereka turut bersedih dan mendoakan Indun supaya lekas pulih.

“Mereka biadap! Apa salah anakku..hu hu..hu..hu” badannya terguncang,. Dia menangis sesenggukan. Arsya menenangkannya. Sekarang, bukan saatnya untuk mengeluh. Mereka harus tegar menghadapi, dan menghibur Indun supaya tetap bersemangat.

Tangan Indun, bergerak. Dia membuka matanya. “Indun..kamu sudah siuman, Nak…?? Kata Ibu dan Bapak bareng. Keduanya memegang tangan Indun. Indun memaksakan badannya untuk bangun.

“Ibu…aku harus ke Warung. Hari ini acara peresmiannya. Ini surprised untuk ibu!” kata Indun semangat. Matanya berbinar, tangannya menghapus airmata di pipi ibunya. Ibu Indun berlari ke kamar mandi, Ia tak sanggup mengatakan apa yang terjadi.

“Istirahat dulu, Nak. Kamu masih sakit?” bujuk Bapak menenangkan. Indun melihat Arsya dan Gilang bergantian. Dia mencium sesuatu yang tak benar. Kemudian….dia teringat sesuatu. Dan…..dia menjerit histeris.

“Tiiiiidaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!” Bapak memeluk Indun.
“Tenanglah, nak, bapak dan Ibu disini” Indun menangis dalam pelukan bapak. Dia merasa hidupnya tak ada gunanya lagi.



Comments

Post a Comment

Tulisan Beken