Kopi Tubruk Indun Part 13




Part 13
        

Indun menutup buku diarynya. Tak banyak kegiatan yang ia lakukan selain menulis dan berkebun. Sebab ibunya masih tak mengijinkannya keluar rumah sendirian. Kecuali dengan bapak dan Ibu. Padahal banyak yang harus ia kerjakan untuk membangun kembali The Nongkrong Warung miliknya.
            Indun lalu bergerak menuju dapur. Cuaca dingin begini, perutnya sering lapar. Rasanya enak menikmati segelas coklat hangat dan setangkup roti isi tuna. Ruangan tengah sepi, biasanya jam segini, ibu dan bapak asyik menonton sinetron India. Kemana mereka berdua? Matanya celingukan mencari. Sedang Destiny, meringkuk hangat di sofa, sebagian matanya terbuka melihat kearah Indun.
            Bik Mayang masuk lewat pintu samping, membawa bungkusan. Dan memberikannya padanya. Aroma ayam gepuk menyeruak menggelitik penciumannya.
            “Tadi Mba Celine mampir dan memberikan ayam gepuk untuk Mbak?” Indun mengernyitkan keningnya. “Buat bibi saja, aku sudah buat ini” dia menunjukkan segelas coklat hangat dan sandwich tuna yang baru selesai di buatnya.
            “Makasih, mba” Bik Mayang sumringah. Celine berusaha mendekatinya. Dan terus membujuknya untuk datang menghibur Irul. Suatu permintaan yang nyaris tak bias di lakukannya.
            “Mas Irul….katanya dibawa ke rumah Pak Kyai, yang katanya bisa mengobati orang stress. Dia akan di obati disana” Kata Bik Mayang, sambil menyuapkan ayam gepok ke dalam mulutnya. Indun tak mengindahkan omongannya, dan sibuk mengigit sandwich tuna dalam satu gigitan besar.
            “Waktu bibik kesana, badannya kurus sekali, tiap orang datang, selalu memanggil nama mba terus…nggak tega,lihatnya.” Dia memukul dadanya, wajahnya menjadi muram. Mereka punya kedekatan tersendiri, laiknya ibu dan anak. Selama bekerja di rumah Indun. Irul sering di buatkan makan siang, Bik Mayang sampai hafal kesukaan Irul.
 Sandwich tuna bagaikan duri dalam mulut Indun. Dia tersedak dan batuk beberapa kali. Bik Mayang tergopoh-gopoh menyodorkan air. Indun menolaknya dan memilih coklat hangat untuk mendorong makanannya.
“Tengoklah dia, mba, dia pernah bekerja di sini, dan pernah akrab dengan mba…..” pinta Bik Mayang dengan suara berat. Indun meremas tangannya. Bik Mayang benar, bagaimanapun juga, mereka pernah memiliki hubungan. Dan Irul sering membantunya.
“Oke….tolong temani saya, Bik. Dan rahasiakan soal ini kepada ibu”
“Siap mbak….” Bik Mayang langsung memeluk majikannya, gembira.
15 menit kemudian merekapun pergi kerumah Irul. Mumpung ibu dan bapak keluar.
***
Begitu tahu, Indun dan Mayang akan datang. Celine dan Gilang menunggu mereka di mulut gang. Antara bahagia dan khawatir, Bik Mayang hanya berpura-pura soal kedatangan Indun. Barulah setelah melihat Indun menepikan mobilnya. Kekhawatiran mereka sirna.
“Ya Tuhan…Mba Indun, beneran datang” Celine langsung mencium kedua pipi Indun. Kedua matanya basah oleh airmata. Indun hanya membalas dengan senyuman.
Mereka berempat beriringan ke rumah Irul. Seperti sebuah reuni, Indun menyalami orang-orang yang menjadi tetangganya dulu. Ada yang masih bersikap baik ada yang tidak.
“Jeng..itu Indun yang menjadi artis kan, yang dulu tinggal di sini, dan beberapa waktu lalu di perkosa, kasihan yah. Kurusan dia yah.”
“Huss!!! Jaga mulutmu, Yuk! Gilang memarahi salah seorang ibu-ibu yang bergerombol sambil menyuapi anak mereka. Indun menggigit bibir bawahnya. Di tahannya airmata yang akan tumpah. Bik Mayang memegang jemarinya, menguatkan. Dia mengerti alasan, kenapa ibunya melarangnya keluar.
Tak banya perubahan di rumah Irul. Saat masih sehat Ibu Irul, menolak untuk pindah dari sana. Kenangan bersama ayah Irul, begitu melekat dalam ingatannya. Celine memanggil nama Irul.
“Sayang, keluarlah…ada Indun disini” suaranya sedikit tercekat saat menyebutkan namanya. Lelaki itu membuka pintu kamar. Kondisi Irul sangat memprihatinkan. Matanya cekung ke dalam, rambutnya berantakan, dengan tubuh kurus ceking seperti tengkorak berjalan.
Mata mereka bertemu. Irul tak dapat menahan luapan rasa bahagianya.Wanita yang sangat dicintainya, datang kerumahnya, kewarasannya muncul. Dia langsung bersimpuh di hadapan Indun. Menangis sambil memohon ampun. Terbata-bata dia mengungkapkan suatu kebenaran yang membuat orang-orang yang berada di situ, tertegun. Beban yang menghimpitnya, menguap. Dia sudah siap dengan resiko yang akan di terimanya nanti.
“Maaaaafffffkaaaaaan aku, Ndun.” Dia mengucapkan kata-kata itu berulang kali.
“Kamuuuu jahat sekali, Rul” Gilang menendang kursi plastic yang berada didekatnya. Dia sudah menduga, ada Irul di balik semua kejahatan yang menimpa diri Indun. Seandainya tak ada ketiga perempuan di dalam rumah itu. Dia pasti sudah membuat perhitungan dengan Irul. Irul yang dikenalkan kalem selama ini, ternyata bajingan jahat bermuka lelaki baik-baik.
Bik Mayang memeluk Indun, dia menyesal telah meminta Indun datang. Celine menegang. Gadis itu sesenggukan di samping Irul.
Udara terasa semakin panas dalam ruangan berukuran 4x4 meter itu. Indun tabah mendengar penuturan Irul. Serpihan-serpihan luka yang dibalutnya susah payah, kini kembali terbuka. Sekelebat bayangan hitam yang menghantui tidurnya muncul, mencibir Indun dengan penuh kemenangan. Indun menekan dadanya pelan. I wish it just a dream. I wish I could wake up and not remember any of this. Sayangnya semua adalah penggalan hidupnya yang harus ia jalani. Semua sudah terlanjur, dan tak bisa diputar kembali. Meskipun berat, ia harus bisa bangkit. Dan berjalan gagah menatap indahnya pagi.

                                               

Comments

  1. Hadir, Mbak Fidia, menyimak cerita Indun.
    Tapi saya membacanya terpotong -potong, he he. ..

    ReplyDelete
  2. Hadir, Mbak Fidia, menyimak cerita Indun.
    Tapi saya membacanya terpotong -potong, he he. ..

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Beken