Kopi Tubruk Indun Part 14




Part 14
            Sepertinya matahari, masih ingin menyembunyikan sinarnya dan membiarkan mendung tipis menutupi langit.

            Bapak sudah bangun sedari subuh, dan kini bersama Ibu di kebun belakang. Setelah kejadian buruk menimpa Indun. Mereka memutuskan untuk kembali bersama. Bapak mencabuti rumput-rumput liar di sekitar tanaman tomat dan sawi yang dita           nam dalam polybag, sedangkan ibu terlihat termenung di bawah pohon lengkeng. 

            “Aku menyesal, Pak. Andai aku bisa menggantikan Indun. Aku mau. Kasihan anak itu…hu…hu” gumam ibu terisak. Bapak menenangkan ibu. 


            “Sudahlah…..kita pasrahkan semua pada aparat penegak hukum” Bapak sebenarnya juga geram kepada Irul yang berkomplot dengan Daniels. Irul sudah dikenalnya baik, dan dianggap sebagai anaknya sendiri. Ternyata malah merusak anak kesayangannya. Anak wedok nan ayu kebanggaannya. Hampir tiap malam hatinya sakit, mendengar suara lamat tangis Indun, di kamarnya. Di kuatkannya hatinya, untuk menghibur Indun.

            “Bu….ada mba Celine, mau bertemu” Bik Mayang memberitahu ibu kedatangan Celine. Mata Ibu berkilat marah. Emosinya naik. Dia mengetahui Celine memiliki hubungan dengan Irul.

            “Suruh pergi saja dia, Bik” jawab ibu dengan wajah galak.
            “Eh…jangan begitu, bu. Dia sudah jauh-jauh kemari.Kasihan…”

            “Mau ngapain dia coba Pak, apa bapak tak ingat perlakuan yang Irul lakukan pada anak kita! Sampai mati aku tak mati melihatnya lagi!! Oh..jangan-jangan, Bapak membela dia, gadis kinyis-kinyis itu!” kata-kata ibu makin ngawur. Bapak mengeleng-gelengkan kepalanya dan meminta Bik Mayang untuk menemui Celine.

            Indun yang baru saja turun dari kamarnya, mendengar keras, suara Ibu. Dia menoleh ke beranda dan melihat Celine berlari keluar dengan menutup mulutnya. Bik Mayang..mencoba mengejarnya, namun dia sudah naik taxi.

            “Ibu kenapa, Bik?” Bik Mayang menceritakan maksud kedatangan Celine. Indun memasang muka datar. Dia memang sudah memaafkan Irul, tetapi proses hukum tetap di jalankan. Kepalanya mendadak pusing. Indun memijit keningnya. Dan kembali ke kamarnya. Menyetel tivi, namun tak ada acara yang menarik hatinya. Lalu dia mematikannya, kemudian tangannya mengambil telepon genggam diatas meja rias. Melihat sebentar dan meletakkannya kembali. Arsya seperti di telan bumi menghilang tanpa meninggalkan jejak.

            Dia menarik nafas dan membuang muka, menghadap jendela. Seekor burung pipit singgah di balcony, bertengger manis di dekat kursi kesayangannya. Indun membuka pintu lebar-lebar. Angin sepoi-sepoi masuk menerpa kulit halus wajahnya. Dia menikmatinya. Burung pipit masih di situ.

            Andai dia menjadi burung pipit, dia bisa terbang kesana kemari, mencari tempat sejauh mungkin. Indun menatap iri. Kebosanan melingkupi hidupnya. Dia ingin pergi dan memulai hidup baru, agar bisa melupakan kenangan buruk yang menghantuinya tiap malam.

            Tok…tok
            Indun membuka pintu. Ternyata Ibu mengajaknya belanja.

***
Di pelataran supermarket, matanya menatap nanar wajah lelaki yang sangat mirip denga Arsya. Dia membantu seorang perempuan yang umurnya lebih tua dengan ibunya turun dari sebuah mobil mewah. Mungkinkah dia Arsya, yang dikenalnya? Indun kembali melihatnya. Penampilannya jauh perlente, dengan sepatu sneaker, kaos polo dan celana jeans.

“Bu….coba lihat lelaki itu?” Ibu mengikuti jari telunjuk putrinya.

“ Nak Arsya!” Ibu sekonyong-konyol memanggilnya. Lelaki itu menoleh. Betapa gembira hatinya, setelah mengetahui siapa orang yang memanggilnya. Dia berlari kearah mereka, dan mengajaknya untuk menemui ibunya. Indun dan Ibu saling pandang, mereka bingung dengan perubahan Arsya.

“Kamu habis menang lotere?” Tanya ibunya, tanpa basa basi. Arsya tersenyum. Indun menekuri lekukan batik yang menghiasi sepatu sandalnya, dia berpikir keras. Sejak awal dia curiga, Arsya bukanlah orang sembarangan. 

“Ceritanya panjang” jawabnya, matanya mengerling ke Indun. Hatinya gelisah memandang gadis yang berjalan di sampingnya. Mata dan senyumnya, yang selalu membuatnya ingin berlari, dan memberi bintang untuknya.

“Apa kamu lagi sariawan, Ndun? Kenapa diam dari tadi?” Indun kikuk. Dia akan menjawab, tapi….mereka sudah tiba di depan ibu Arsya. Sebuah perkenalan yang menyesakkan dada Indun. Hatinya tak nyaman, melihat tatapan mata ibu Arsya.

Arsya berinisiatif mengajak mereka makan siang, namun di tolak secara halus oleh Indun. 

“Kenapa kamu menolak rezeki?” Ibu mencubit lengannya.
“Masakan Bik Mayang lebih lezat” elaknya. Ibu kecewa dan mengikuti keinginan Indun. Selesai belanja. Mereka segera pulang.

“Sepertinya, Arsya menyukaimu” kata ibu, memecah kebisuan. Indun pura-pura tak mendengarnya. Matanya focus menatap jalanan yang ramai.

“Kamu denger kata-kata ibu, nggak Ndun?” ibu paling malas bila lawan bicaranya hanya diam saja.

“Hummm….” Jawab Indun pendek. Dia enggan membahas soal percintaan. Kenyataan akan dirinya, membuatnya sadar, dirinya bukan seperti yang dulu. Rasa percaya dirinya nyaris nol. Masihkah ada lelaki yang mau menerimanya, tanpa melihat masa lalunya?

Ibu seperti mengerti apa yang di pikirkan Indun. “Jangan khawatir, anakku. Kamu akan menemukan lelaki yang akan menerimamu apa adanya. Tolong jangan salahkan dirimu,nak. Terbukalah pada dunia, dan raih apa yang kamu impikan” ibu mengelus lembut lengan Indun.
           
           
           



Comments

Tulisan Beken