Kopi Tubruk Indun Part 15




Part 15

            Indun berjalan melewati deretan bunga krisan yang berjejer rapi di taman depan. Bunga itu sengaja di tanam bapak, karena anak dan istrinya sangat menyukai bunga Krisan. Bunganya warna warni, ada yang putih, merah, dan kuning. Semenjak ada Bapak, tamannya jauh lebih indah. 

            Indun merenggangkan badannya, kemudian duduk di gazebo yang beralaskan matras dengan bantal-bantal besar. Disekelilingnya terdapat kolam ikan koi dengan air mancur yang berbentuk kendi. Gazebo itu, salah satu tempat favorit Indun, selain di kamarnya. Suara gemericik air, kecipak ikan yang berenang berikut tempatnya agak tersembunyi, membuatnya betah berlama-lama di situ. Biasanya dia menulis atau membaca sambil mendengarkan music. Ia kemudian mengambil makanan ikan dan melemparkannya ke bawah. Ikan-ikan koi saling berebut, kelaparan.

            Meow…..Destini mencarinya.”Sini” kucing itu lantas naik dan bergelung manja, di samping Indung. Tangan kirinya memegang buku sedang tangan kanannya membelai Destiny. Dengkurannya terdengar jelas. 

            Bahagia itu sederhana. Sesederhana ia menikmati waktu sore sendirian.
            “Assalamualaikum” Indun melihat sekeliling, tak ada orang. Matanya kembali membaca buku.

            “Assalamualaikum” suara itu terdengar kembali. Ia menoleh. Masih sama seperti tadi. Hiiiii..jangan-jangan ada mahluk halus yang sedang menggodanya. Tapi….hari gini mana ada hantu sore-sore, kecuali hantu jadi jadian. Ia ngomong sendiri.

            “Wkakakakkakaaka…….” Indun terbelalak, melihat Arsya nongol dari balik bunga alamanda yang tumbuh subur. Ia mengelus dadanya senang. Ternyata hantu jadi-jadian itu Arsya.

            “Haish..dasar penakut, hayo ngaku..kamu tadi takut kan?” Ia menggodanya.
            “Ihhh..sapa juga yang takut. Tadi aku bacain cerita buat Destiny kok. Kucingku ini hebat lho..dia paling suka dengerin cerita” bualnya. Membuat Arsya makin tergelak. Indun, gadis unik yang ditemuinya. Ia tak pernah sok jaim, bahkan terkadang kolokan.

            “Ngomong-ngomong, ada minuman nggak? Aku hampir mati kehausan,nih” Arsya menjulurkan lidahnya. Lelaki itu, duduk di sebelah Indun, dan menyelonjorkan kakinya santai.

            “Tuh, di tungguin ikan koi di bawah, sekalian berenang sambil minum air” Indun balik menggoda. Dia tersenyum girang melihat Arsya bengong.Dan Indun berlari menuju ke arah dapur sebelum Arsya menjahilinya lagi.

            Bik Mayang sedang menggoreng pisang goreng. Indun membuka kulkas, di ambilnya satu botol pocari sweat. Sedangkan buat dirinya, ia membuat segelas teh melati yang ia petik dari kebun.

            Lalu di bawanya sendiri ke gazebo. Arsya menunggunya tak sabar. Kemudia ia langsung mengambilnya dan menghabiskannya, tanpa sisa. “Mau nambah?” Tanya Indun ramah. Asrya menggeleng. Kemudian ia menatap mata Indun lekat.

            “Aku ingin menikahimu, Ndun” kata Arsya kalem, Indun tersedak saking kagetnya. Mimpi apa ia semalam. Indun mencoba mengingat-ingat.

             “Ndun……” pangil Arsya. “Indun cantik….” Barulah ia menoleh dan mendongak dengan alis terangkat tak percaya menatap mata bulat Arsya.

            “Kamu mendengarkan perkataanku, kan?” Indun mengangguk cepat. Ia benar-benar gugup. Berkali-kali tangannya mempermainkan ujung jilbabnya.

            “Kamu mau kan, jadi istriku?” Ulang Arsya. “Aku tak mau pacaran. Dan…aku sudah tahu apa yang akan kamu tanyakan. Kamu sudah mengambil hatiku, sejak kita pertama bertemu. Dan aku akan terima kamu apa adanya. Sebab…aku benar-benar sayang kamu. Mungkin ini jawaban yang kamu cari.  Kenapa aku selalu terlibat dalam dalam hidupmu. supaya akumenjadi pelindungmu.” Ucap Arsya panjang lebar. Indun mendesah panjang.

            Diakuinya ia memiliki perasaan yang sama pada Arsya. Namun….hatinya terlalu takut. Banyak kekhawatiran yang bersliweran dalam kepalanya. Tapi….untuk menolak Arsya….rasanya dia tak sanggup. Lelaki itu banyak membantunya melewati masa-masa kritis dalam kehidupannya.

            “Ijinkan aku istikharoh dulu, mas” Arsya mengangguk setuju.  Hatinya lega. Secercah harapan menunggunya.

            “Apakah ibumu sudah mengetahui rencana ini?” Tanya Indun was-was. Dia teringat dengan pertemuan mereka beberapa waktu yang lalu. Tatapan tajam dan dingin ibu Arsya, membuatnya tak tenang.

            “Rencananya, baru nanti malam aku akan memberi tahu ibu.” Arsya yakin, ibu akan menyetujui keinginannya. Sudah lama beliau ingin melihatnya naik ke pelaminan. Arsya anak laki-laki satu-satunya. Dia memiliki dua adik perempuan. Yang masih duduk di sekolah menengah atas.

***
            Keluarga Arsya termasuk golongan atas. Ayahnya memiliki beberapa perusahaan property dan tambang. Arsya yang sedari kecil di gadang untuk menjadi penerus perusaahaan ayahnya. Malah membuat usaha sendiri. Dia memiliki perusahaan Taxy Smile. Yang kini memiliki sekitar seribu armada yang tersebar di beberapa kota.

            Untuk meningkatkan mutu pelayanan, seringkali Arsya terjun langsung. Kadang dia menyamar sebagai penumpang atau pengemudi Taxy. Dengan begitu dia bisa mendengar apa keinginan kliennya. Caranya yang tak biasa, telah terbukti berhasil. Semakin hari usahanya makin berkembang. 

            Saat menyamar sebagai pengemudi itulah. Dia bertemu dengan Indun. Wanita pertama yang membuat hatinya bergetar. Ia menjajaki kehidupan Indun. Semakin mengenalnya ia makin jatuh hati. Indun tak pernah resek soal materi dan pekerjaannya. Hal langka. Sebab..kebanyakan perempuan yang di kenalnya hanya mengincar kekayaan saja. Mereka ingin melesat, tanpa mau mengikuti proses.
           
           
             
           
           
           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken