Kopi Tubruk Indun Part 16




Part 16
            “Sya….kenapa musti gadis itu. Kamu tahu…banyak gadis-gadis yang antre menunggumu. Contohnya, Nesya, anaknya Om Wien, dia cantik, pintar dan lulusan luar negeri. Dia selevel dengan keluarga kita. Sya…..” Ibu Arsya mencoba membujuk anaknya. Dia cemas dengan gadis pilihan Arsya, apalagi setelah mendengar cerita dari Karso, anak buahnya yang dimintanya untuk menyelidiki siapa Indun. Hasilnya membuatnya dadanya sesak. Sebagai Ibu, dia ingin melindungi image keluarganya, terutama putra kesayangannya.

            “Ibu..belummengenalnya. Dia gadis baik. Arsya nyaman berada di sampingnya. Dan dia tidak neko-neko.” Jawab Arsya jujur. Dia mulai eneg, dengan para gadis yang di kenalkan oleh ibunya.Sayangnya, Arsya tak suka. Mereka semua memang cantik. Tapi hasil oplas. Sampai dia susah membedakan mana mannequin yang asli dan bukan. Mereka memang kaya dan pintar tetapi kurang sensitive dengan keadaan sekitar. Pemuda itu menghembuskan nafasnya keras, sebelum berbicara kembali.


            “Arsya berencana mengajak Indun nanti malam kesini, tolong bersikap baiklah padanya.” Arsya memohon, sambil mencium tangan ibunya. Hati Ibu mana yang tidak meleleh, diperlakukan begitu oleh anak kesayanganya. Ibu mengangguk setuju. Meskipun dalam hatinya menolak keras. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak lelakinya. “Terimakasih, bu” Hatinya lega. 

***
“Jadi…Arsya melamarmu?” Indun menggangguk pelan, menjawab pertanyaan ibunya. ”Lantas…apa yang merisaukanmu, dia anak baik, agamanya taat, anak konglomerat pula. Kamu harus menerimanya, Ndun. Jarang lho, ada lelaki nilainya mendekati perfecto gitu. Setengah memaksa, Ibu Indun ingin anaknya segera menerima  lamaran Arsya. Ia begitu khawatir, sampai-sampai tak nyenyak tidur. Ini kesempatan emas dan langka.

            “Tapi…..ibunya..terlihat..menyeramkan” Indun bergumam, suaranya hamper tak terdengar.Seketika matanya berubah cemas. Ia teringat tatapan mata ibu Arsya yang seolah-olah ingin menelannya, utuh. Gadis itu menelan ludah. “Dia belum kenal kamu, percayalah, ibu Arsya orangnya baik.” Kata Ibu Indun berapi-api. Meskipun dalam hatinya timbul keraguan.

            Kring..kring
Telepon dari Arsya. “Halo” gadis itu mengangkatnya, dan mereka berbicara sebentar. Ibu mengamati anaknya.

“Kenapa, apa ada masalah” tanyanya langsung. Indun mengangkat bahu. Ibu menjadi gusar. Ia tahu ada sesuatu yang dipikirkan oleh putrinya.
“Arsya mengajakku bertemu dengan ibunya malam ini.” Membayangkan saja, membuat dirinya tertekan.

“Ayolah, Nak….bergembiralah. Ini kesempatan emasmu. Berikan sikap yang baik padanya. Ibu yakin….dia akan jatuh cinta padamu.” Hidupnya terasa terlempar dalam penggorengan panas. Perasaannya tak enak mulai menyergap hatinya. Sesuatu yang membuat dadanya berat hingga membuat nafasnya sesak. Indun keluar mencari udara segar. 

Bapak yang baru datang, tertegun melihat Indun yang duduk termenung di teras. Ibu menyambutnya.

“Mestinya ibu, tak usah turut campur. Berikan anakmu kebebasan memilih. Dia yang paling tahu apa yang menurutnya baik. Karena dia yang akan menjalaninya.” Kata bapak bijak, setelah mendengar cerita ibu. Alih-alih mendapat dukungan bapak. Ibu malah di salahkan. Perempuan itu lalu berbalik dan menuju dapur. Mengambilkan kopi dan ketela goring buatnya.
Bapak mendekati putrinya. Gadis itu masih termenung.

“Ibu barusan cerita sama bapak, keputusan semua di tanganmu, nak. Bapak akan mendukungmu, apapun keputusanmu” Indun mendongak, memandang bapaknya. Matanya mengerjap, gadis itu menyunggingkan senyumnya. “Iya, Pak.” Sahutnya pendek. Di bandingkan Ibu, Bapak jauh lebih mengerti dirinya.

***
Arsya tiba tepat jam 7. Senyum tipisnya mengembang melihat Indun. Tatapan Arsya menjalar hangat ke hati Indun. Pipinya bersemu merah. Indun tertunduk. Setelah meminta izin pada kedua orangtuanya. Merekapun berangkat.
Lexus hitam meluncur mulus di jalanan.
Sejenak, mereka tertawan dalam keheningan. Arsya berdehem, Ia begitu gugup, sampai mulutnya susah mengucapkan kata. Untuk meredakan ketegangannya, ia lalu mengambil permen di dashboard. “Kamu mau” Indun menolak. Arsya mengambil satu dan mengunyahnya pelan.

“Kamu cantik sekali, mala mini” Indun tersipu menerima pujian Arsya.
“Terimakasih”
“Hanya itu….?” Arsya merasa aneh dengan jawab pendek gadis disampingnya. Biasanya, dia akan berbalik menjahilinya.

“Terus….aku harus jawab,apa?”Indunbalik bertanya.
“Apa sajalah. Swear….aku kangen dengan kejahilanmu…” ia melemparkan senyumnya. Dalam hati, Indun membathin, bagaimana bisa dia bisa jahil dalam situasi menegangkan seperti ini.

Tanpa di duga, Arsya menepikan mobilnya.
“Kenapa berhenti?” Tanya Indun heran. Lelaki itu menatap Arsya. Dia tahu kegelisahan Indun. “Jangan takut, aku bersamamu” kata-kata Arsya sedikit membuatnya tenang. 

30 menit kemudian, mereka sampai di rumah Arsya. Rumah besar bergaya minimalis. Ibu Arsya langsung mengajak mereka keruang keluarga, yang berdampingan dengan meja makan. yang menghadap ke kolam renang dengan taman mungil bergaya jepang di sampingnya.

Setelah assistant rumah tangga selesai menata meja makan. Ibu Arsya mengajak mereka makan. Tak lama kemudian Ayah dan adik perempuanya datang bergabung.

Ayah Arsya, seorang lelaki ramah. Pun begitu dengan adik Arsya. Sesekali dia membuat celotehan yang membuat mereka semua tertawa. Indun langsung menyukai mereka. Diam-diam Ibu Arsya memperhatikan anak lelakinya dan gadis itu. Dari mata anaknya, terpancar jelas, rasa cintanya yang besar pada gadis itu. Sikap gadis itu sopan. Matanya teduh, dengan polesan riasan sederhana, membuat auranya semakin terpancar. Wajar saja. Arsya tergila-gila padanya.

Makan malam selesai. Assistant rumah tangga membawakan mereka apple pie sebagai pencuci mulut. Mereka pindah ke ruang keluarga.

Arsya menarik tangannya. Mengajaknya ke dapur. Dia memintanya membuatkan kopi. Indun tak membantah. 

Kopi terhidang. Bapak menyesapnya pelan. “Hmmmm….apa kamu yang membuatnya, Ndun…?” Indun mengangguk

“Kopi apa ini….?” Tanyanya lagi. Upanya bapak penasaran. Arsya tersenyum.
“ Kopi yang biasa Bapak minum. Memang kenapa pak…., jangan bilang bapak jatuh cinta dengan kopi yang di buat Indun….”

“Rasanya, nikmat sekali…”Kedua pria itu terkekeh, lalu Bapak mengajak Arsya bermain catur. ISaat mereka asyik bermain. Ibu Arsya mengajak Indun ke kamarnya. Perut Indun mulas.
“Duduklah…..” Indun menurut, dan duduk di kursi dekat meja rias. Ibu Arsya mengambil sebuah kotak di dalam laci. Kotak kecil berwarna hitam di berikannya pada Indun. “Ambillah….” Indun menolak secara halus. Ibu Arsya memaksanya.

“Ndun…ibu tahu, Arsya adalah anak lelaki kami satu-satunya. Dia penerus bisnis kami. Kami tahu..dia sangat menyukaimu,tapi….melihat latar belakangmu. Rasanya kami tak sanggup melihatnya nanti menderita. Maafkan Ibu, Ndun. Kamu nanti akan mengerti setelah menjadi ibu.” Indun tercekat.








           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken