Kopi Tubruk Indun Part 17



Part 17

            Ibu sudah tak sabar ingin mendengar cerita Indun soal makan malamnya dengan keluarga Arsya. Tetapi..sepertinya gadis itu lupa. Tiap hari dia sibuk, Bila ditanya ia selalu bilang ada urusan. Mungkinkah ia sedang menyiapkan perkawinan? Tapi….kenapa putrinya menyembunyikannya?Oh…mungkin mereka akan membuat kejutan? Ibu sibuk dengan pikirannya. Sambil merangkai bunga, wanita itu tersenyum sendiri membayangkan memiliki menantu anak seorang konglomerat. Pastinya menyenangkan., berharap kelak menantunya bisa mengajaknya liburan ke Dubai atau keliling London dan shopping di Harrods. Seperti artis-artis di televisi.

            “Lagi seneng ya bu?” kedatangan bapak membuyarkan lamunannya.ia heran melihat istrinya senyum sendirian.

            “Ibu sudah tak sabar, melihat Indun dan Arsya menikah.” Bapak berdehem sebentar, kemudian mengambil Koran yang ada di atas meja. Membacanya, tanpa merespons jawaban ibu.


            “Pak….apa Indun sudah memberitahumu soal rencana lamarannya. Belakangan ini, kami tak pernah mengobrol. Anak itu sibuk sekali” kata Ibu memasukkan potongan bunga sedap malam ke dalam vas. Suaminya tak menjawab.

            “Pak….kamu dengerin aku, nggak ….” Kata ibu jengkel.
            “Oh..eh…apa tadi bu….” Ibu mengulang pertanyaannya. Suaminya menggeleng. Mata lelaki itu menerawang. Ada sesuatu yang membuat hatinya resah.
            ***
            Indun tiba di rumah sebelum adzan magrib. Ibu sudah menunggunya di teras. Kecemasan tergambar jelas di wajahnya. “Kamu darimana saja, nak, Arsya mencarimu tadi…apa kalian bertengkar? Cecar ibu mengikuti anak gadisnya masuk ke kamar. Setibanya di kamar, gadis itu langsung merebahkan badannya di atas pembaringan. Ia kelihatan lelah. Bik Mayang datang membawakannya segelas minuman hangat.

            Ibu duduk di sampingnya. Indun memejamkan mata. “Ndun…..” ia menoleh. “Maaf ibu, aku capek sekali…”jawabnya. Lalu menenggelamkan wajahnya diatas bantal. “Baiklah….istirahatlah dulu…kami menunggumu untuk makan malam sebentar lagi.” Tanpa ingin mengusik, Ibu lantas meninggalkan putrinya di kamar. Dan menutup pintu kamar perlahan.

            Wajah anaknya terlihat pucat, ada garis hitam di bawah matanya, seperti kurang tidur. Ia mendadak gelisah.

            “Pak….cobalah berbicara dengan anakmu. Ibu yakin..dia menyembunyikan sesuatu dari kita…”
            “Ibu, seperti tak mengenal Indun. Semakin dia di desak, semakin kuat dia menyimpannya. Bersabarlah sebentar.” Bapak menenangkan.

            Mereka kemudian saling diam.

            Sedang di kamarnya. Indun mematut diri di depan cermin. Badannya segar setelah membersihkan diri. Diambilnya mukena, kemudian ia khusu’ menunaikan sholat maghrib. Setelah itu, barulah ia bermunajat PADANYA. Hingga airmatanya mengalir deras. Ketenangan mengaliri jiwanya. Ia sudah pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya nanti. 

            ***
            Setelah makan malam, Indun mengajak kedua orangtuanya ke gazebo. Malam itu, suasana begitu damai, langit terang tanpa setitik mendung. 

            “Lusa, Indun ke Florence, Italy….”kedua orangtuanya langsung shock mendengar kalimat Indun.

            “Appaaaaa…., ibu tak mengerti…lalu, hubunganmu dengan Arsya bagaimana. Dia mencintaimu, ndun. Dia bilang sendiri sama ibu?” Tanya ibu terbata-bata. Ia masih belum bisa menerima keputusan Indun yang tiba-tiba. Indun memang tak pernah bercerita. Sebelum ia membuka The Nongkrong Warung, ia sudah kursus Barista. Sebab ia sangat mencintai kopi. Hasratnya ingin membuat kopi enak, bukan hanya untuk keluarga dan temannya .tetapi juga buat orang lain. Dia ingin membahagiakan orang lain dengan kopi yang di buatnya. Kenapa dia

            “Tidak…tidak! Ibu takkan merestui kepergianmu
Indun membuang nafas, kesedihan menggelayut di matanya. Ia tertunduk. Semakin lama di sini, ia menderita. Tak mungkin ia berkata jujur pada ibu tentang permintaan Ibu Arsya. Ia tak ingin menyakiti hati ibu.

Orangtuanya tak tahu menahu, Indun telah menjual The Nongkrong Warung. Rencananya uang itu buat bekal selama dirinya di Italy.  Ia tak tahu akan berapa lama ia berada di sana.

Bapak memegang bahu anaknya. “Jujurlah sama kami, Nak…..” Pintanya setengah memohon. Ia sangat mengkhawatirkan keputusan Indun yang mendadak. Pasti ada sesuatu yang belum mereka ketahui.

“Indun hanya ingin melupakan masa lalu,pak. Indun ingin memulai hidup baru..tolonglah Pak..bu, restui kepergian Indun. Percayalah, Indun tak akan berbuat macam-macam.” Ia terisak merangkul kedua orangtuanya.

Ibu mendesak Indun..tetapi…gadis itu tetap bungkam. Tangisnya semakin keras.
Ibu dan bapak lunglai. Mereka tak tahu harus berbuat apa lagi untuk membujuk putrinya supaya membatalkan keinginannya untuk ke Italy.

***
Di tempat lain, hati Arsya tak tenang. Memikirkan sikap Indun yang tak seperti biasanya. Di hadapannya gadis itu selalu cerita. Namun…saat menatap matanya. Justru pancaran kesedihan yang ia temukan.

Sudah berapa hari, mereka tak bertemu. Teleponnya juga jarang aktif. Datang kerumahnya juga, ia tidak ada. Ia menjadi uring-uringan. Keluarga dan karyawannya sampai ketakutan.

Telepon genggamnya berdering, ia meliriknya sekilas. Hatinya berteriak gembira. Dari Indun.
“Ya sayang. Oke..kamu tunggu di situ. Aku segera menjemputmu!” Arsya langsung menyambar kunci mobil di atas meja dan membawa mobilnya seperti orang kesetanan. Ia sudah kangen sekali dengan Indun. Dan ingin segera menemuinya.

           
           
           
           

           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken