Kopi tubruk Indun Part 18




Image result for kopi tubruk indun
Part 18
            “Sya..cepat kerumah sakit. Adikmu anfal!” lelaki itu bimbang, mana yang harus di dahulukan. Menemui Indun atau pergi ke Rumah Sakit. Keduanya sama-sama berharga dalam hidupnya. Kemudian….ia membanting stir, memutar arah. 

            Nyonya Mira, Ibunda Arsya cemas di kamar VIP. Ia ditemani Fatimah, salah seorang assistan di rumah. Wajah adiknya pucat seperti kapas. 

            “Gemma, kenapa, bu….?” Tanya Arsya.
            “Dia pingsan setelah latihan menari tadi” ujar Ibu sambil terisak. Gemma adalah anak bungsunya, yang hadir di tengah-tengah mereka saat usianya mendekati manopouse. Gemma menjadi pelita, keluarganya menyebutnya sebagai Princess Joy, sebab kehadirannya selalu membawa kebahagiaan.


            Arsya duduk disamping ibunya. Ia ikut cemas dengan keadaan adiknya. Adiknya memang bermasalah dengan jantungnya, ia tak boleh terlalu capek. Karena keadaannya, keluarganya memperlakukannya special. Semua serba di bantu. Gemma berontak. Ia tak ingin menjadi benalu.

            Diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya. Dia ikut berlatih menari di sanggar milik kakek Retno, salah seorang sahabatnya. Bakatnya kuat, sehingga tak sulit baginya mempelajari tarian kontemporer. Badannya begitu lentur mengikuti alunan music. Ia menjadi sangat berbeda bila berada diatas panggung. Semua orang terpesona dan hanyut oleh tarian yang dibawakannya. Melihat antusias Gemma yang begitu besar. Keluarga akhirnya menyetujuinya sebagai penari. Mereka ingin Gemma bahagia.

            “Lantas, kata dokter bagaimana….?”
            “Gemma, harus menjalani transplantasi jantung!” ibunya menatap ubin dengan perasaan sedih.
            Deg…..

***
            Bik Mayang yang sedang menyiram tanaman kaget melihat kedatangan Arsya. Perempuan paruh baya itu tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang untuknya.

            “Lho…Mas Arsya apa tidak mengantar Mba Indun ke Bandara...?” Tanya Bik Mayang bingung. Majikannya sudah berangkat semenjak subuh, dan belum kembali

            “Bandara …?? Indun mau kemana,Bik..?
            “Italy….”Arsya terduduk lunglai. Kepalanya mendadak pusing. Ia belum mengerti alasan Indun pergi tanpa memberitahunya. Kemarin, ia memang tak menepati janjinya. karena sibuk mencari donor jantung untuk Gemma. Hingga ia lupa menelpon dan membatalkan janji. Tapi…kenapa Indun tak menelponnya? Sekarang…gadis itu malah pergi. Lelaki itu membuang nafas, kecewa. Dan menunggu orangtua Indun pulang.

            Orangtua Indun datang kemudian. Mata Ibu Indun terlihat bengkak. Arsya menyapa mereka. “Maafkan, kami Nak, kami tak bisa mencegahnya” kata Bapak Indun. Lidah Arsya kelu. Dia masih shock dengan keputusan Indun. Ibu Indun masuk dan memberikan sebuah bingkisan padanya. Arsya menerimanya dengan penuh tanda tanya. Kemudian, Arsya pamit, membawa sekeping luka di hatinya.

            Kembali ke kantornya yang sunyi, Arsya membuka bingkisan dari Indun. Di dalamnya ada sebuah flashdisk dan kotak perhiasan, hadiah dari ibunya. Kenapa Indun memberikan padanya? Seribu pertanyaan menggantung.

            Alex menyalakan computer, dan mengambil flashdisk dari Indun. Ia mengamati benda mungil itu sejenak dengan ragu, dan akhirnya memasukkannya ke colokan.
            Senyum Indun muncul di layar. Arsya tersenyum melihatnya. Rasa kangennya membuncah melihat wajah gadis yang amat di cintainya itu.

            “Assalamualaikum, Mas” kata Indun yang menatap lurus kearah Arsya.
            “Tahu nggak, ini pertama kalinya aku merekam diri sendiri. Rasanya aneh.” Kata Indun kikuk. Ia memperbaiki posisinya. Di lihat dari latar belakangnya. Indun merekamnya di Gazebo. Tempat favoritnya. “Mungkin, setelah melihat video ini, aku sudah terbang menuju Italy. Aku menunggumu semalam, mas. Sampai aku tak bisa tidur. Aku takut terjadi sesuatu denganmu. Namun, anehnya….aku takut untuk menelponmu.” Indun menarik nafas panjang.dan menggigit bibirnya pelan. Kemudian, mata gadis itu berkaca-kaca. Airmatanya menetes. Arsya tercekat. Setelah cukup tenang. Indun melanjutkan lagi. “Betapa beruntungnya aku. Lelaki sebaik dirimu mau mencintaiku. Apakah kau tahu mas, aku juga mencintaimu. Aku ingin menjadi istrimu.” Gadis itu menyunggingkan senyum. “Tapi… aku malu. Diri ini seperti pendosa.yang tak layak menerima cintamu. Kamu terlalu suci untukku, mas” Indun memalingkan muka sejenak. Airmataya kembali menetes. “Bagaimana bila kita menikah nanti. Mampukah aku melindungi dari segala macam caci maki yang ditujukan kepadamu. Tidak! Aku tak mau membuatmu sengsara. Mas. Dan mungkin cara inilah yang ku ambil. Cara tolol dengan pergi menjauh darimu. Supaya aku bisa menghindarimu. Tidak! Bukan menghindarimu, tapi menghindari perasaanku sendiri. Perasaan yang telah kau aduk-aduk. Supaya aku lebih mudah melupakanmu. Yach…mungkin aku egois. Tapi ini untuk kebaikan kita semua. Kamu lelaki hebat, mas! Kamu bisa mendapatkan segalanya yang kau inginkan. Indun yakin, kamu akan segera menemukan penggatiku,” Indun terdiam, ia menangis tergugu memeluk Destiny. Wajahnya muram, terlihat senyum samar di bibirnya. Gadis itu merenung. Dan menghembuskan nafas berat “Terimakasih, sudah mencintaiku” katanya bergetar, Sebelum menyudahi videonya.
            Arsya memejamkan mata sementara setetes airmatanya jatuh bergulir. Dadanya terasa sakit. Demi Tuhan, Ia ingin segera memeluknya dan memberitahunya ia tak menuntut apapun. Tidakkah gadis itu mengerti, ia menerimanya dengan tulus. Mengetahui Indun tak ada disisinya. Rasa sakit didadanya semakin menjadi..Seperti anak kecil ia menangis. 

***
            “Mas Arsya, Mba Indun nggak kesini..?” Gemma menyentuh lengannya. Adiknya tampak sehat, setelah menerima transplantasi jantung beberapa minggu yang lalu. Arsya menggeleng, membuat Gemma kecewa. Kakaknya jauh lebih kurus sekarang.

            “Gemma melihat Mbak Indun menangis, setelah dari kamar ibu….” Timpalnya. Ia memakan kue cheesecake yang di belikan Arsya. Mendengar nama Indun, hatinya bersorak. Ia sangat merindukan gadis itu. Tiap hari dia menunggu berita darinya. 

            “Kapan……?” Tanya Arsya. Indun tak pernah bercerita sebelumnya.
            “Waktu kalian makan di rumah. Sewaktu Gemma mau ke kamar, tak sengaja Gemma mendengar percakapan ibu. Ibu meminta, Mba Indun melupakan mas.” Arsya terperangah. Mungkinkah kepergian Indun ada sangkut pautnya dengan ibunya. Sekeping puzzle mulai terkuak. Sebongkah kenyataan pahit menusuk tenggorokannya. Kenapa kamu tak bercerita padaku, ndun, kenapa kamu menelannya sendiri? Lelaki itu bergumam.
            Dia lalu mencium adiknya lembut.         
           

           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken