Kopi Tubruk Indun Part 19



 Image result for kopi tubruk indun
Part 19
“Ibu….bila ibu terus menekanku menikah dengan gadis pilihan ibu, lebih baik aku sendiri” lantas Arsya meninggalkan ibunya yang mematung sendiri di kamar. Suara Arsya cukup keras, hingga ayah yang berada di ruang kerjanya, bisa mendengarnya. Lelaki tua itu terdiam sejenak, laku keluar, mencari anak lelakinya itu. Dan menemukannya di ruang baca. Tempat yang paling di sukai Arsya.

“Bisakah kita bicara sebentar” Arsya meletakkan buku yang di bacanya di atas meja, dan menggeser kursinya supaya bisa berhadapan dengan bapak.


“Bapak, mendengar pembicaraan kalian tadi. Tolong, kamu jangan marah, nak. Mengertilah posisi ibumu. Bagaimanapun, seorang ibu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan bapak, mengerti kamu sangat mencintai Indun. Dia gadis yang baik, dan menurut bapak, sangat layak diperjuangkan. Sebaiknya, kamu jangan patah semangat. Cari dia. Perkara ibu, biar bapak yang menangani….” Arsya melongo.

“Bagaimana soal masa lalunya….?” Bapak menepuk pundak Arsya. “Siapapun punya masa lalu, tinggal bagaimana kita mau menyikapinya, apakah tetap mau tenggelam atau bangkit. Dan percayalah, bila kalian berjodoh, sekeras apapun rintangannya, kalian pasti akan bertemu” Arsya lega setelah mendengar wejangan bapak. Ia memang tak boleh menyerah. Ia akan sabar menunggu Indun, meskipun gadis itu tak pernah membalas pesan darinya. 

***
Dua tahun berlalu.

Di kantornya yang cozy, seorang gadis cantik merapikan, kertas-kertas yang berserakan di atas meja.Tepat di bawah jendela di samping tanaman lidah mertua, seekor kucing meringkuk manis di atas sofa. Matanya setengah terbuka, menatap tuannya yang sibuk. Badannya menggeliat, sampai menyentuh ujung sofa. Ia berusaha menarik perhatian majikannya. “Sabarlah, aku sedang sibuk sekarang.” Gadis itu berbicara dengan kucingnya. Bibirnya  menyunggingkan seulas senyum tipis. “Miawwwwwwww…..” kucing itu menggeliat lagi, kembali ke posisi semula.

Tok…tok….
“Masuk…!!”Teriaknya. Seorang perempuan masuk, membawa nampan berisi kopi dan sepotong kue mocca. “Celine, makanlah bersamaku disini. Ibu tadi membawakan aku makanan” Gadis itu menunjuk sebuah tas karton di atas meja, disamping sofa. Gadis yang dipanggil Celine itu menurut, dan duduk anteng di samping Destiny, menunggu bossnya selesai. 

Kemudian mereka makan bersama. Lauk ayam goreng bumbu rujak, menyeruak ke seluruh ruangan kantor yang tak begitu luas itu. Samar-samar, kedua mata Celine mengembun. Masakan itu, mengingatkannya pada seseorang.

“Maaf…..aku tak tahu, Ibu membawakanku ini. Kamu boleh pergi, kalau tidak mau makan. Tidak usah sungkan.”

“Nggak mba….lagian perutku lapar, dan aku sudah lama tak makan ayam goreng bumbu rujak.” Celine menggigit ayamnya. Di kunyahnya pelan-pelan. Saat almarhum suaminya hidup, ia senang sekali dengan ayam goreng bumbu rujak bikinan Bik Mayang. Yach, Suami Celine adalah Irul. Mereka menikah saat Irul di penjara. Sayangnya, 1 bulan kemudian, Irul meninggal karena tersedak. Ternyata cinta Irul pada Indun tak berubah. Dalam kesepiannya berada dalam penjara, ia banyak menuangkan soal kegelisahan, penyesalan dan harapannya pada gadis itu, dalam sebuah buku diary bersampul biru. 

Sehari sebelum kematiannya, dia menulis wasiat yang di titipkan pada pak Sipir, yang ia kenal baik. Dalam wasiatnya, ia menulis, ia mendonorkan jantungnya pada orang yang membutuhkan. Supaya tetap menjadi pelindung Indun. Dan apakah kalian tahu, siapakah penerima donor jantung Irul. Dialah Gemma!! Adik Arsya. 

“Mas..Arsya, menunggu mba, apa mba tak kasihan melihat dia menunggu tiap hari…” Indun menyudahi makannya. Dan memakan kue mocca sebagai makanan penutup. Kening gadis itu mengernyit.

Mungkin, dia memang keterlaluan. Semenjak kedatangannya sebulan lalu, dia selalu menghindar tiap kali Arsya datang. Dia seolah tak peduli. Semakin dia keras menghindar, Arsya semakin teguh mengejarnya.

“Mas Arsya cinta mati sama mba, Gemma sering bercerita padaku.” Indun tersudut. “Apa ibu dan bapak tidak bercerita, selama mba di Italia, Mas Arsya tiap hari datang kerumah mba, hanya untuk memastikan mereka baik-baik saja, jarang lho mba, laki-laki setia seperti mas Arsya itu.” Timpal Celine lagi. Indun menunduk menatap ubin. Hatinya kian bimbang. Ibu tadi juga kesini, sengaja membujuknya untuk menemui Arsya. Sebelum ia arisan dengan ibu Mira, ibunda Arsya. Mereka telah menjadi akrab. Sesuatu yang tak pernah di duga oleh Indun. Indun memainkan sendok di tangannya. Lantas ia bangun, dan melangkah keluar tanpa bilang apapun pada Celine. Gadis itu mengejarnya. Dan langkahnya terpaku saat melihat Indun mendekati meja dimana lelaki yang dikenalnya duduk di situ.

“Hi mas….” Ia langsung duduk di hadapan lelaki yang membuat dadanya berdegup kencang. Lelaki yang sedang membaca buku itu kaget, dan langsung berdiri, setelah tahu siapa yang duduk di depannya.

“Indun…kamu benar Indun kan?” Indun tertawa, memamerkan deretan giginya. “ Ya iyalah mas, masak Pairun sih.” Arsya tergelak. Lelaki itu senang luar biasa, Indun akhirnya mau menemuinya.

“Ibu sudah banyak bercerita kepadaku. Terimakasih…sudah menjaga mereka untukku. Mengenai permintaanmu. Kalau kamu tak keberatan, aku akan menjawabnya sekarang” Ia diam. Arsya menunggu tak sabar. Kedua orangtuanya sudah bertemu dengan kedua orang tua Indun. Dan sekarang tinggal menunggu keputusan Indun.

“Jadi….maukah kau menjadi istriku, Ndun….”Arsya semakin gelisah, menunggu Indun meneruskan kalimatnya. Ia semakin gemas melihat, gadis dihadapannya tersenyum, ia seolah-olah sengaja mempermainkannya.

“Oke, dengan satu syarat”
“Syaratnya apa”jawab Arsya semangat.
“Aku ingin kita umroh, bukan hanya kita, tetapi keluarga kita, dan semua karyawanku di sini. Oh ya…dan tolong di catat, bisakah mas Arsya ganteng yang suka menolong dan sabar serta rajin menabung menikahiku dua hari lagi, tepatnya hari Jum’at di Masjid An-nur tak jauh dari rumahku?” Arsya tercengang mendengar jawaban spontan Indun, hingga tak bisa berkata apa-apa lagi saking terharunya.

“Bisa..kan mas, sebelum aku berubah pikiran.” Senyum Indun menggelitik hati Arsya.
“Iyyyyyaaaaaaa….aku bisaaaaaa, jangankan dua hari, saat ini juga, aku mau menikahimu, cintaaa!! Jawab Arsya keras. Semua orang yang mendengarnya tersenyum. Membuat pipi Indun merona, malu.

The end














Comments

Post a Comment

Tulisan Beken