Memilih Takdir #1



gambar di ambil dari pinterest


Bagian 1
Gendis, berusaha menenangkan dirinya setelah menemukan foto tua di kolong lemari, saat membersihkan kamar mami.

Dipandangnya sekali lagi foto perempuan di sebelah mami. Rambutnya lurus, matanya bulat, hidung mungil yang bertengger manis diwajahnya yang oval serta kulit exotis.
Gendis melihat dirinya ke dalam cermin. Ia menjerit kecil. Mereka seperti dua orang kembar. Siapakah perempuan, dalam foto itu?

Umur Gendis memasuki 17 tahun, bulan depan. Di sekolah, teman-teman sering meledeknya bukan anak mami, sebab ia berbeda jauh dengan maminya yang blasteran. Maminya cantik, hidungnya bangir, rambutnya kemerahan dan kulitnya putih. 

Sedangkan dia, ouhhhhhhh. Persamaan satu-satunya adalah mereka sama-sama perempuan. Gendis sering protes ke mami, kenapa kecantikan maminya tak menurun padanya. Namun…jawaban mami selalu membuat dirinya luluh. “Kamu anak mami yang tercantik di dunia, mami malah iri dengan kulitmu yang halus, apa mau tukeran?” Gendis menggeleng. Kulit mami meskipun putih, tapi kasar,pori-porinya besar. 


Tenggorokannya kering, Gendis ke dapur, dan menuang segelas air. Dan di teguknya air itu tanpa sisa. Lalu, Ia duduk di bangku panjang sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Menunggu maminya pulang kerja dengan hati tak sabar.

Tin tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnn….suara bel motor mengagetkannya. Seorang lelaki bertubuh tegap membuka helmnya.
“Hiiii Gendis…..” sapanya ramah. Gendis melemparkan senyum kecil. Lelaki itu adalah tetangga baru, yang tinggal di seberang rumah Gendis. Namanya Prabhu Merdeka. Pada saat yang sama, Mami Gendis datang. Buru-buru Gendis turun dan membuka pintu gerbang. Mami melihat Prabhu sekilas. 

Deg…….wajah itu….mengingatkannya pada seseorang.
“Capek ya, Mi…..” Gendis mengamit lengan maminya manja. Mami mengangguk dan mereka berjalan beriringan masuk.


“Siapa laki-laki yang tadi menyapamu tadi, Gen…..” 

“Owh…kenapa. Ganteng yach, mi hehhehehe….” goda Gendis. “Namanya Prabhu Merdeka, dia tetangga baru kita. Mami, sibuk terus sih…..” timpalnya lagi.

“Dia dari mana, tinggal sama siapa, sekolah dimana?” Mami mencecarnya. Gadis itu bingung, dan mengangkat bahunya. Gadis itu menelisik wajah mami, gadis itu heran, kenapa maminya tiba-tiba ingin tahu soal Prabhu? Biasanya Mami orangnya cuek, aneh sekali. Kedua alis Gendis saling bertautan.

“Mi….Gendis lapar..….” Setelah membersihkan diri. Mami segera memasak untuk makan mereka. Menu sederhana, ayam goring dan lalapan terung. Gendis makan dengan lahap, ia menyukai ayam goring buatan mami, rasanya top. Gendis melirik mami. Mami hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya. “Mami sakit?” tanyanya heran. Mami menggeleng. Dan menyudahi makannya.

“Mami istirahat dulu ya, kepala mami pusing sekali.” Gendis mengangguk. Dan memandang punggung mami dengan tanda tanya. 

Sejak Bik Intan, memiliki cucu, dan kembali ke kampong. Mami tak menyewa pembantu lagi. Otomatis mereka tinggal berdua. Sedang ayah Gendis, menurut cerita mami, sudah meninggal sejak dia masih orok. 

Mami cantik, malah tergolong cantik untuk usianya yang hampir mendekati 45 tahun. Mami rajin merawat tubuh, sehingga tubuhnya bagus. Di tambah karir mami yang moncer. Teman mami banyak. Rasanya mengherankan, bila tak satupun dari mereka yang tidak jatuh hati pada mami. 

Gendis pernah menyinggung, dia ingin memiliki papi baru seperti teman-temannya. Tapi mami selalu menjawab dia ingin sendiri dan mencurahkan perhatiannya padanya seorang. Setelah itu, Gendis tak pernah bertanya lagi. 

Gendis memasukkan tangan ke saku celananya. Menyentuh foto yang tadi ia temukan. Tak mungkin ia bertanya pada maminya sekarang. Gadis itu menggigit bibirnya kecewa.

Di dalam kamarnya, Shinta membongkar peti kecil yang tersimpan di lemarinya. Di periksanya satu persatu foto tua. Matanya tertegun saat melihat foto seorang lelaki bersama perempuan muda. Lelaki di foto itu wajahnya seperti Prabhu Merdeka. Hatinya tiba-tiba berat.
***
“Shinta…tunggu!!!” Sayekti mengejarnya. Tubuhnya yang tergolong imut, kerepotan mengejar Shinta. Kaki Shinta panjang-panjang, sehingga jalannya cepat sekali. Nafas Sayekti sampai ngos-ngosan, dia menjulurkan lidahnya. Tenggorokannya kering sekali. Shinta tertawa melihatnya.

Shinta dan Sayekti merupakan dua sahabat. Mereka bertemu saat kedua orang tua Shinta mengajak ke Panti Asuhan. Sayekti tinggal di sana, bersama 200 orang anak-anak panti. Berulangkali Shinta mengajaknya tinggal bersama, namun Sayekti menolak, karena kasihan dengan Mak Siti, salah seorang rewang disana, yang sudah dianggapnya sebagai ibu.

“Aku haus banget nih, kita mampir dulu ke warung Mang Mamang yuk…” Tanpa menunggu persetujuan Shinta, Sayekti melenggang ke warung Kang Maman di sebelah kantor mereka. Saat memilih tempat duduk kakinya tanpa sadar menginjak sepatu seseorang. “Ups…maaf” katanya pelan, ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya.

Dia memilih tempat duduk di pojok. Shinta datang menyusulnya. Dan melihat pipi Sayekti merona merah. “Ehem….pasti ada sesuatu yang mengusikmu….?” Sayekti menunduk. Tak berani mengatakan apa yang terjadi pada Shinta. Rasa hausnya hilang. Ia ingin segera kembali ke kantor.

“No!!! Minumanku belum habis” Shinta menolak ajakan Sayekti dan meneruskan menyeruput es degannya dengan nikmat.

Pengalaman tadi, membuat hati Sayekti tak menentu. Ia begitu gugup saat tahu, kaki siapa yang di injaknya. Kaki itu itu milik Pak Armand, Manager mereka yang baru.




Comments

Post a Comment

Tulisan Beken