Memilih Takdir #2




Part 2

“Mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Shinta yang sedang bermimpi bertemu sahabatnya, langsung terbangun setelah mendengar teriakan putrinya. Ia lari keluar, dan mendapati Gendis sedang berdiri di atas kursi dengan membawa sapu di tangannya.

“Miiiii.. ada anak cicak di bawah” ucap Gendis ketakutan. Shinta menepuk jidatnya. Melihat anak cicak di lantai. Bukannya menolong, ia malah duduk di kursi persis di samping Gendis. “Ih…sudah besar, masak takut sama anak cicak sih, besaran mana kamu sama anak cicak itu, Nak…..” kata Shinta sabar.


“Tapi..Miiiiiii, Gendis geli” Shinta terkekeh, mendengar jawaban putrinya. “Ayolah turun, dia bukan godzila yang akan memakanmu.” Ledek Shinta seraya mengerling kearah Gendis. Gadis itu, kemudian turun dengan muka cemberut Percuma juga meminta pertolongan pada maminya. “Eitttssss….sini, peluk mami dulu” Gendis ogah-ogahan mendekati mami. Mereka berpelukan. Aroma lavender yang mami pakai, membuatnya nyaman. Gendis menyukainya, dan memeluk maminya erat. “I love you, Mi…..” Shinta mencium kening anak perempuannya.
“Mumpung mami, libur. Kita shopping yuk…”

“Tidak bisa, Mi. Gendis ada kerja kelompok di rumah Prabhu…” Mendengar nama Prabhu, mata Shinta langsung melotot.

“Owh..seperti itu. Tidak!! Kamu tak boleh kesana. Kamu harus temani mami Shopping. Dan mami tak mau mendengar alasan lagi. Titik!! Gendis mengernyitkan kedua alisnya. Tidak biasanya mami begitu. Dan Gendis tahu apa yang harus di lakukannya. Setelah membereskan semua pekerjaannya. Ia melihat mami di kamar, sedang sibuk di depan laptop. Gadis itu tersenyum nakal. Dia mengambil CD milik Rihanna dan menyetelnya keras di ruang tengah. Kemudian, segera berjalan keluar dengan kaki berjinjit. Pelan-pelan di bukanya pintu gerbang. Dan berlari ke seberang jalan. 

Shinta melirik jam weker, di sebelah mejanya. Jam 11 siang. Cukup lama juga dia membalas email Steven. Partner kerjanya. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum rapat besok. Perempuan itu berdiri lalu melakukan gerakan peregangan, melemaskan otot-otot yang kaku.
“Oh….Gendis pasti sudah menungguku, sejak tadi.” Ia mencari Gendis. Dan kecele,  saat tahu ia hanya sendirian di rumah. Ia menggerutu kesal dan mengambil ponsel di kamar dan di tekannya sebuah nomor yang ia hapal di luar kepala.

“Gendiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiss!!!!!!!!!! Pulanggggggggg!!!!
Ia begitu murka, sampai dadanya sesak. Gendis sudah berani membantahnya. Ia berdiri di depan pagar tanpa memakai alas kaki, menunggu anaknya pulang! Seperempat jam kemudian, Gendis datang di antar Prabhu. “Gendis…masuk rumahhhh!! Perintahnya marah. Gadis dihadapannya itu menolak. “Mi….Gendis ada kerja kelompok. Gendis nggak ngapa-ngapain. Kalau mami tak percaya…ayo ikut. Dan lihat…apakah Gendis berbohong atau tidak.” Gendis balik menjawabnya dengan nada kesal. Shinta tertegun sejenak, mendengar jawaban Gendis. Ia tak menyangka Gendis berani membantahnya. Di hadapan orang lain lagi. 

Shinta tak ambil pusing, di tariknya lengan anak itu keras, dan membawanya masuk ke dalam rumah. “Tante…tolong jangan marah, Gendhis belajar kelompok di rumah. Ada banyak anak kok.” Shinta tak memperdulikan Prabhu yang menghalanginya. “Hey anak muda, jangan ikut campur. Pergilah! Katanya kasar, mengusir Prabhu. Gendis menangis. Dan langsung masuk kekamarnya dengan membanting pintu. Ia sangat kecewa dengan mami.

Selama ini, ia tak pernah mengeluh, Mami sibuk terus di kantor. Ia mengerti dan tak pernah mengeluhkan soal kesepiannya. Semua ia telan sendiri. Kemudian, Prabhu datang, menawarkan persahabatan. Rasanya menyenangkan sekali, memiliki teman berbincang secara nyata. Apalagi Prabhu teman sekelasnya. Sehingga, tak butuh waktu lama merekapun akrab.

Shinta mematung di depan kamar Gendis. Hatinya turut luka mendengar tangisan putrinya. Ini pertama kalinya mereka bersebrangan. Selama ini Gendis anak penurut.  Shinta terduduk lesu di depan tivi. Melihatnya dengan tatapan kosong. Shinta sadar, dirinya memang kelewatan telah melarang Gendis, tanpa memberinya alasan yang kuat. Ia tahu itu. Dan ia merinding, saat memikirkannya.

***
Shinta merapatkan jaket ke tubuhnya. Belakangan ini, cuaca semakin tak jelas. Kadang panas, lalu tiba-tiba di guyur hujan lebat.  Dan kini, ia sedang di landa flu. Parasetamol yang di minumnya semalam, belum menunjukkan reaksi yang signifikan. Kepalanya masih pusing, dan hidungnya mampat, Sebenarnya ia ingin meringkuk dalam selimut di kamarnya yang hangat. Sambil menikmati sup ayam lezat buatan mama. Namun…karena masih ada pekerjaan kantor, yang belum rampung. Ia paksakan untuk bekerja. Padahal mama sudah teriak-teriak menyuruhnya untuk libur.

Suasana kantor masih lengang. Shinta duduk santai sambil mencatat apa yang akan ia kerjakan nanti. Teguh, salah seorang staff Office Boy membawakannya teh hangat. Ia menyeruputnya beberapa teguk, teh itu menghangatkan tenggorokannya.

“Apa kamu melihat Sayekti datang?” Teguh menggeleng, dan meneruskan pekerjaannya. Mengantar minuman ke staff lain.

Shinta mendesah.

Mereka jarang bertemu, semenjak karir Shinta melesat. Ia banyak di tugaskan untuk menangani proyek baru. Dan sering keluar kantor, untuk bertemu dengan clients. Sedangkan karir Sayekti biasa saja. Ia masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya sebagai admin, di bawah pengawasan Armand. Belakangan ini, mereka hampir tidak pernah bertemu. Meskipun satu kantor. 

Rasa kangennya membuncah. Ia menelpon sahabatnya. Sayangnya …sampai beberapa kali telpon. Sayekti tak menjawab telponnya. Kemana dia, sakitkah dia? Shinta menunggu…dan kemudian, memutuskan mengunjungi tempat kos Sayekti, setelah tak bisa bertemu dengannya di kantor.

***
Dalam perjalanan menuju tempat kos Sayekti. Shinta menyempatkan berhenti di sebuah Toko Roti, langganan mereka. Dan membeli beberapa  potong cheese cake kesukaan sahabatnya. Shinta tersenyum kecut, menyalahkan dirinya sendiri. Karena kesibukannya, dia jarang menelpon ataupun sekedar mengirim pesan singkat. Bisa di bilang, sekitar 4 bulan mereka putus kontak.

Sesampainya di tempat kos Sayekti. Shinta menelponnya. Masih tak ada jawaban. Kamarnya tampak gelap dari luar. Shinta mengetuk kamar Veni,di sebelah kamar Sayekti. Dia bekerja sebagai kasir di salah satu mall. Dia mempersilahkannya masuk. Shinta mengangguk setuju, Dari Veni, Shinta tahu, Sayekti sedang dekat dengan seorang laki-laki. Dia menunggu cukup lama disana. Kemudian memutuskan untuk pulang. Dan memberikan buah tangannya pada Veni.

Saat dia menuju ke mobilnya, Sebuah sedan metallic masuk ke pelataran dan memarkir mobilnya tak jauh dari tempatnya berdiri. Meskipun lampu di tempat itu, tak terlalu terang, namun ia tahu lelaki yang turun dari mobil itu adalah Armand. Dan matanya nanap memandang, saat mengetahui siapa perempuan yang dibukakan pintu oleh Armand. Dia adalah Sayekti!! Ia mengucek matanya beberapa kali, berharap penglihatannya salah.
Wajah Sayekti kelihatan sumringah. Senyumnya terus mengembang, lengannya erat menggandeng Armand. Mereka berjalan cekikikan. Shinta ingin menyapa mereka, namun lidahnya kelu.



Comments

Tulisan Beken