My Journey, Kembali Ke Allah #2

Alhamdulillah, ini sudah tahun kedua aku menggunakan hijab. Rasanya menyenangkan. Allah tetap memberiku kekuatan supaya tetap istiqomah. Aku tersenyum sendiri, teringat ceramah KH Sanusi. biarlah kecantikan untuk suami saja. Di luar di tutup rapet, sedangkan di dalam rumah open house 24 hours. hahahahahhahaah......itu juga sebagai goyonan dengan anak wedok saat kami di rumah. Sebab..di dalam rumah aku kembali,menggunakan apa yang ku suka.

Saat mengetahui aku berhijab, ada pro dan kontra yang ku terima, dari sahabat dekat. Mereka jelas-jelas marah dan kecewa dengan keputusan yang ku ambil. Mereka lebih menyukaiku tanpa jilbab. 


 
aku sampai berdebat dengannya. Kekhawatiran mereka tak berasalan. Aku bukanlah isis atau islam radikal. Setelah ku jelaskan mereka akhirnya mengerti. Ntah benar-benar mengerti atau capek ngelayanin aku berdebat. Ngeyelku nggak ketulungan.
Etapi...di pikir-pikir....aku mengerti, mereka orang bule. Mungkin mereka  risih, dengan busana yang ku pakai. kita tak bisa cipika cipiki, seperti yang biasa ku lakukan saat bertemu dengan teman yang sudah lama tak bersua. Dan perubahan ini otomatis akan menyulitkanku, untuk kembali bekerja di Hotel atau bidang hospitality lainnya, dimana, pekerjaan itu memang sangat aku sukai. Okelah..tak masalah. Siapa tahu, nanti aku bisa membuat hotel sendiri, dimana pekerjanya bisa menggunakan hijab.

Berhijab,banyak mengubah hidupku. Baik dari tingkah laku dan cara pandang. Yang biasanya bedigasan menjadi lebih kalem. Yang biasanya ketawa ngakak, atau mulut berbicara sembarangan, sekarang lebih di jaga. Yang biasanya sholat subuhnya kadang bolong. Sekarang makin rajin. Pun begitu dengan ngajinya. Yang biasanya sholatnya cepet-cepet, kek di kejar hantu, sekarang mah enggak. Yang biasanya saat hadapi ujian, nangis gelur-gelur, curcol nggak karuan, sampe nggak enak makan, sekarang lebih santai. Sebab percaya ALLAH nggak bakalan ninggalin. Ajaib ya! Begitulah...sepertinya ada tangan-tangan Allah yang terus menjagaku.

Seperti soal masalah riba. Setelah berazzam untuk tak bersinggungan dengan yang namanya riba. Lah kok alhamdulillah ekonomi menurun. Dan lagi lagi masalah terus menghantam dahsyat. Ada yang berusaha melemahkan keputusanku, dan ada yang menguatkanku untuk tetep istiqomah, dengan apa yang telah ku putuskan. 

Aku seperti melihat realty show dari langit. Satu persatu akibat yang di timbulkan oleh Riba muncul tanpa ku minta. Ya Allah! Sangat menakutkan. Azab Allah memang benar adanya. Aku tak bisa tinggal diam. Dengan caraku, aku berusaha mengingatkan mereka. Meskipun...yang kutrima malah ledekan. Lah salahku sendiri. Wong hutangku sendiri di Bank belum lunas! Aku sudah ngajak orang untuk insyaf. Gila nggak sih..Mestinya aku sukses dulu, bisnisku murni tanpa riba baru bisa mengajak. HAH!!!! Memang aku aneh. biarin saja dah.....kalau nunggu aku sukses, berapa lama waktu yang ku buang, dan ku biarkan mereka terus bergumul dengan riba. No....!!! Kali aja, Allah memberikan hidayat mereka lewat mulutku.

Sekarang..bismillah saja, aku tetap istiqomah dengan pilihan yang ku pilih.



 


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken