My Journey, Kembali Ke Allah # 3

 Being Grateful is not just an act of saying ALHAMDULILLAH. Being Grateful is an attitude, it's a lifestyle. It's a way of thingking. You are constantly grateful.
 -Nouman Ali Khan


 Hari Sabtu...pikiranku masih sama seperti kemarin-kemarin. Berat! Begitupun hatiku..rasanya seperti di tindih batu besar. Rasa cemas sepertinya tidak mau pergi. Aku mengaji, menulis,berkebun, lihat film lucu di youtube, memasak, maupun bermain dengan si jutex bobo. Tak bisa menenangkan pikiranku. Fiuhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Biasanya bisa.

Nafasku mulai sesak. Mungkin kecemasan sudah di ubun-ubun. Aku terlalu banyak berpikir, dan berusaha sekuat tenaga untuk mencari solusi terbaik. Plan A plan C...sampai Z. Dan akalku sepertinya tidak bisa di ajak berkompromi. Mandek....



"Ayank tidak bisa begini terus, memikirkan sesuatu yang tak ada jalan keluarnya. Ini bukan salahmu." suami mengingatkanku. Suamiku benar, ini memang bukan salahku..tetapi pantulannya keras menghantam. Andai aku bisa cuek...dan...dodolnya...aku tak bisa. Ah.....dia belum mengalami sendiri.

"Mam, tahu lagu Jump nggak?". Aku mesem.....dan melihat mereka selama beberapa detik. Ya Rabb!!!! Mereka berusaha mengingatkanku. Aku saja yang tak pandai bersyukur. Meskipun banyak orang yang berpaling. Masih ada keluarga kecilku yang terus menyemangati dan membuatku tersenyum. Akunya saja, yang dablek.
 
Maka....aku mulai mereview.....masalah yang membuatku seperti orang linglung.

Nggak kaget, ketika keadaan ekonomi bagus. Orang mendekat. Yang aneh, bila keadaan susah kemudian banyak yang mendekat. Ho hohoho..mimpi!!!! sebab mereka kebanyakan datang dan menjilat-jilat hanya karena uang. Kasihan. So..jangan senang dulu.....saat kalian banyak di kerubungi dan di puja puji orang.

Jadi...aku nggak kaget, saat mereka menghindar sekarang. Senyum sinis saja, saat mereka ignore semua pesan maupun telponku. Ya Allah...padahal aku nggak minta bantuan finansial, hanya minta  minta support doang, supaya mereka bisa membantuku untuk  menghalanginya pergi.

Padahal, saat mereka down, kami sekeluarga mati-matian, bagaimana supaya mereka bisa bangkit. Tapi..aku, keluargaku bukanlah mereka. Kita tak sama. Jadi..salah besar jika aku mengharapkan bantuannya, meskipun itu sekedar kata-kata pemanis bibir. Karena......rasa emphati mereka sudah hilang. Terkubur oleh keegoisan diri. begitulah......Yang sableng terus siapa? Aku kan???????????? Kenapa melupakan Allah???????????? Dia nggak pernah sekalipun ninggalin kita. Meskipun kita sering berpaling padanya. Akunya aja yang Geer, sok pede, mengharap mereka melakukan seperti yang kita lakukan. Konyol sekali!!!! itu kesalahan pertama.

Sisi baiknya...mataku lebih terbuka dan bersyukur. Ujian itu, semakin membuka  mana yang benar-benar sodara, dan teman. Jadi antenanya makin kenceng aja tuh sekarang menyeleksi. 

Lantas...kesalahan kedua yang fatal adalah, aku terlalu ngeforce Allah supaya cepat mengabulkan apa yang ku mau, kemudian mereka di bawah controlku. Gilingan nggak sih????????? Allah kok mau di kontrol semau kita. Sadar deh Fid! Lo kan manusia biasa. 
ya pantas saja, kamu nggak dapet ketenangan. Mo sampai ngaji sampai berbusa, kalau ego lo masih tinggi, ya tetep aja! kata hati gue mengingatkan. Tuh kan....gue jadi ngomong sendiri, di jawab sendiri.celeguk.......

Eng ing eng.....merenung.....

Allah pasti sayang kami. DIA tahu sampai dimana batas kami. Buktinya...sampai sekarang kami masih bisa berdiri, masih bisa tersenyum, masih bisa bekerja. Padahal belum tentu orang lain akan bisa seperti kami. So....nikmat mana lagi yang kami dustakan?

Lebih baik...pasrah dan takwakal. Terima yang sudah menjadi takdir. Percayalah...ada kebaikan ditiap ujian.

Alhamdulilllah..tenang.....

Semangattttttt makkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk    

  



Comments

Post a Comment

Tulisan Beken