I’m not a Perfect Mother and Wife



Hai Gaes…………….curcol lagi nih ceritanya.
Sepertinya hari ini aku lagi nggak mood. Bangun tidur sudah marah-marah, gegara bobo kencing sembarangan. Tahu kan…..gimana bau kencing kucing. Ajigile baunya. Nggak cukup dipel sekali..tetapi kudu tigakali baru baunya hilang. Pertamanya dipel pake campuran air sama detergern. Kemudian pake campuran cuka dan air. Yang ketiga baru pake pembersih lantai wipol.

Dia udah gede, lifterboxnya nggak muat. Dan lebih suka melakukannya di halaman. Dan belakangan ini aku heran…..dia kencing sembarangan bahkan pernah pup juga. Hampir tiap hari aku mencuci keset, sebab keset itu dia seret untuk nutupin pipisnya. Clever! Namun bikin bête. Wkwkwkwkkwkw…..


Marahin bobo, sama saja ngomong sama tembok. Paling di lihat doang. Sampai aku mikir, kamu ngerti nggak bo?????????? 

Setelah itu…..semua rencana semalam yang sudah kususun rapi, berantakan...Jalan pagi ku skip, karena udah keburu siang, mana belum belanja dan masak. Sampai di tukang sayur, bukan hanya cabe yang naik, tapi sayur mayor, harganya semakin gila.
What should I do then?? Aku mulai berpikir lagi untuk memulai berkebun, menanam sayuran.Eh pas minta di belikin benih. Malah dianya lupa. Aku kesal. Semua tak sesuai dengan apa yang kuinginkan.

Key pulang sekolah…juga kena semprot. Ntah gara-garanya apa.Hiyaaaa….kacau. Cap cuss…..aku duduk di depan computer dan mulai menulis, melepas rasa empet didada.
Baiklah……aku mereview kekesalanku.

Sebenarnya, aku lelah, baik fisik maupun bathin. Sebagai istri juga ibu. Bekerja di rumah, dan melakukan pekerjaan rumah, melayani suami dan anak. Memang terkadang menjemukan. Mau complain terus, rasanya kok aneh. Sebab kita sudah memilih. Namun….sekuat-kuatnya kita sebagai ibu dan istri. Tentu kita melewati titik terendah. Semua peran kita lakukan, otak kita penuh dengan pikiran bukan hanya ngurusin soal membuat menu, tetapi penuh dengan soal lain juga.

Terkadang, kita menginginkan orang-orang disekitar kita, mengerti kita butuh istirahat, dan support. Tapi, seringkali mereka acuh. Baru setelah kita demo, baru mereka mengerti.
Mau mengatakan secara verbal, mikir. Ujung-ujungnya… kena aku lagi. Contohnya begini. Aku lagi malas masak.

“Pah…..aku libur masak,capek….” Dengan harapan, dia mau menggantikanku belanja dan masak.

Kenyataannya. “Ya udah….beli aja” gubrakkkkkk. Otakku mulai berpikir.

Anggap saja perorang 15 ribu sekali makan. Trus kalo 3 orang kali 3 kali makan. Berapa duit yang harus di keluarkan. Belum lagi untuk camilannya? Hiyaaaaa…..kalau sama saja dengan pemborosan. Opo ya nggak mikir lagi penghematan. Hiks…….Suedihhhhhhh poll. Akhirnya meskipun dengan mulut monyong. Aku masak. Dan eh….kelar juga.

Menurut simbah, istri yang baik itu harus nrimo kodratnya melayani suami dan anak dengan senang hati. Simbah setahuku memang tak pernah mengeluh. Peran yang diterimanya di jalaninya dengan sangat baik. Bangun sebelum subuh, mempersiapkan semuanya untukku dan kakak, kemudian pergi berjualan ke pasar. Pulang dari pasar. Istirahat sebentar dan kemudian sibuk dengan rutinitasnya. Begitu terus setiap hari, sepanjang tahun, seumur hidupnya.Tak pernah sekalipun simbah berpikir untuk sekedar refreshing, jalan-jalan untuk menghibur dirinya sendiri. Sedangkan aku owh……..owh…rasanya masih jauh dikatakan sebagai istri yang nrimo…apalagi ideal. 

Dan aku terima ini.
Wokey…..gitu saja



Comments

  1. Ajeee gileee emak emak
    hiksz...hiksz

    ReplyDelete
  2. bener mbaaakkk kadang bosan jalanin peran ibu dan istri kegiatannya tiap hari ituuu ajaaaaa, kadang sumpek kadang jenuh pingin refresing barang sejenak, loh malah ikut curcol

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Beken