Memilih Takdir # 3




Part 3
“Sikapmu terlalu over, Shin. Gendis bukan anak kecil lagi. Kamu tak bisa mengatur semaumu.” Steven memandang perempuan yang di cintainya itu dengan lembut. Shinta mengangkat bahunya. Ia belum menemukan cara untuk berbaikan dengan putrinya. Seminggu ini, mereka saling diam. 

“Aku takut, Stev…..” Steven berdiri dan memegang lengan perempuan itu. “Kamu tak bisa menyembunyikannya terus menerus. Dunia ini kecil!” kata lelaki itu menguatkan.


“Entahlah……aku masih bingung” jawab shinta gamang. Hatinya berat memikirkannya. “Bagaimana kalau kita ke FunZone.” Ajak Steven spontan, mengamit lengannya. Dia tahu kebiasaan Shinta saat stress, yaitu menghabiskan waktu di FunZone dengan bermain Maximum tone.Tentu saja Shinta tak menolak. Ia memiliki banyak energy untuk di lampiaskannya. 

Di tempat lain……

Gendis pulang diantar Prabhu. Gadis itu, sepertinya tak takut dengan ancaman mami, supaya tak berinteraksi dengan Prabhu. Sedangkan Mami tak pernah memberikan alas an yang kuat kenapa dia di larang. Ia tak suka dengan sikap Mami, yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Ada misteri yang harus Gendis singkap. 

“Masuk dulu yuk….!! Ajak Gendis pada Prabhu. Prabhu menggeleng. Dia tak ingin kehadirannya di ketahui tante shinta. Gendis masuk dengan perasaan kecut. Ia tahu, Prabhu tak ingin menambah permasalahan dirinya. 

Ia melihat sekeliling rumah. Dan baru pertama kali ini, ia merasakan rumahnya dingin dan kosong. Sampai ia bisa merasakan kegelisahan dinding di hadapannya. Mungkinkah perasaannya saja yang begitu.
Tiba-tiba, ia kangen pada Bik Intan. Sekelebat ide muncul dalam benaknya. Gendis segera memasukkan beberapa baju dalam tas ranselnya. Kemudia ia keluar, dan mencegat taxi.
***
Pagi-pagi, Shinta datang ke tempat kos Sayekti untuk memberinya kejutan. Semalam ia nyaris tak dapat memejamkan matanya, teringat wajah sahabatnya itu.

Tok..tok..tok….Shinta mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Sayekti beberapa kali. Tak ada jawaban, ia yakin ada orang di dalam. Sebab tadi, telinganya sempat mendengar suara percakapan orang. Lalu di edarkan pandangannya ke rak sepatu, di samping pintu masuk. Di sana ada sandal dan sepatu sepatu kerja Sayekti. Dan hei!!! Sandal miliknya yang sengaja ia taruh di sana, tidak ada, berganti dengan sandal coklat,ukuran besar dan model pria. Siapakah pemilik sandal itu. Setahunya Sayekti tidak memilikinya. Mungkinkah, salah seorang teman pantinya, yang menginap? 

Cukup lama dia berdiri disitu, dan tak ada tanda-tanda Sayekti akan membukakan pintu. Shinta berbalik arah, pulang dengan perasaan dongkol.
“Kecewa nih ye….!!” Shinta menoleh, dan mendapati Veni berjalan di belakangnya. Dari mana anak itu? Kek hantu aja, datang tiba-tiba. Gadis itu memberikan kode supaya Shinta mengikutinya. Veni berjalan duluan. Setelah Veni agak jauh…barulah ia menuju mobilnya, dan membawanya cepat menyusul Veni. Mereka bertemu di mulut gang. 

“Ayo….”Shinta membukan pintu mobil. “Mbaaa….rasanya, kalau cerita di mobil nggak bakalan seru deh. Shinta tersenyum tipis. Ia tahu maksud Veni.

“Halah!! Bilang saja kamu lapar dan minta di traktir Nasi Pecel Setan Mbok Darmi,kan….??” Veni nyengir. Perutnya memang lapar, ia harus mengirit uangnya, dan sekarang tanggal tua.

“Betullllllllllll, Mba Shinta memang top! Dia memberikan dua jempolnya. Tak urung, Shintapun mesem. Umur Veni 3 tahun di bawahnya. Hubungannya cukup akrab. Mereka sering mengobrol. Karena Sayekti sering memintanya menyetrika baju. Itu adalah pekerjaan sampingan Veni. Untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Gajinya sebagai kasir supermarket, hanya cukup untuk ongkos hidupnya sebulan, termasuk bayar kos dan transportasi. Sedangkan untuk mengirim uang pada adik-adiknya di kampung, dia mengandalkan upah dari setrika. 

“Semalam, teman mba Sayekti menginap. Katanya, dia sakit…..” Ia mengetahuinya, ketika mengantarkan Cheese cake yang dititipkan Shinta semalam. Malah Sayekti, memberikan kue itu padanya.

“Teman? Perempuan atau Pria….” Selidik Shinta. Veni melihat raut tegang Shinta.
“Emang apa bedanya mba?” Tanyanya berkelakar. Shinta berdehem. Veni menunduk. Shinta sedang serius. “Pria mba….semalam, setelah mba pergi, mereka datang. Ntah kalian sempat berpapasan atau tidak”

TUINGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG, telinga Shinta seperti tersengat lebah. Ia menghentikan mobilnya. Padahal Warung Pecel Mbok Darmi masih melewati tiga ruko lagi.
“Sorry dear….sepertinya aku lupa melupakan sesuatu. Kamu turun di sini dulu yah” Ia memasukkan sejumlah uang di kantung jaket Veni. Gadis itu terbelalak. Ia masih bingung saat Shinta membukakan pintu untuknya “Eh….terus aku baliknya naik apa mba?”

“Terserah kamu deh…bye” Veni pura pura cemberut dan melihat mobil Shinta yang semakin menjauh dari hadapannya berdiri. Ia baru tersadar, ketika seorang sopir metromini, menggodanya “Neng..bengong..Neng!”. Mata Veni melotot. Dia tadi mo kemana ya? Veni bergumam sendiri, dan merogoh saku jaketnya. “Subhanallah!!!!!!! Shinta memberinya uang 500 ribu. Ia begitu bahagia, sampai keluar airmata. Dengan uang itu, ia bisa mengiriminya adiknya uang. Semalam adiknya menelpon, adik bungsunya sakit diare dan harus di rawat di Rumah Sakit. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk makan di Warung Pecel Mbok Darmi dan memilih pulang ke kosnya. 

***
Dalam perjalanan ke kantor, Ia terus berdoa, semoga ia tiba sebelum Sayekti datang. Ia mengkhawatirkan sahabatnya. Sebagai sahabatnya, ia ingin mengingatkannya, sebelum semuanya terlambat. Shinta menunggu Sayekti di mejanya. Ia khawatir, Sayekti akan menghindarinya lagi.  Sayekti datang 10 menit kemudian. Dan ia terkejut melihat Shinta duduk diantara teman-temannya. “Ngapain kamu disini!!” Tanyanya ketus dan tanpa basa basi. Bukan hanya Shinta yang kaget, teman-teman Sayekti juga kaget melihat perubahan sikap Sayekti yang drastis. Mereka tahu keduanya adalah sahabat akrab. Kemana-mana berdua.

“Menunggumu….”jawab Shinta santai. Sayekti menghempaskan badannya ke kursi. Dan pura-pura sibuk, memeriksa laci.

“Bisakah kita berbicara sebentar” tanya Shinta.
“Maaf….bukan kamu saja yang sibuk. Apa kamu tidak melihat aku sedang sibuk sekarang” jawab Sayekti tanpa menoleh kepadanya. Shinta tersenyum lalu mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Sayekti. “Kamu sibuk dengan Pak Armand” Sayekti menegang, melihat Shinta pergi tanpa menoleh lagi. Sayekti mengejarnya, dan menyeret tangannya menjauh dari teman kantornya. Mereka pergi ke belakang kantor, dimana tak ada orang yang bakal mendengar pembicaraan mereka.

“Kamu tahu dari mana, aku dekat dekat dengan Armand!!” Shinta dapat merasakan kejengkelan Sayekti.

“Sudahlah….tidak usah di tutupi. Aku sudah tahu. Jujur…aku kecewa dengan sikapmu sekarang. Apa tidak ada lelaki lain, sehingga kamu memilih Armand menjadi kekasihmu, apa kamu lupa dia double bahkan triple!! Emosi Shinta mulai naik. Sayekti melihatnya tajam.

“Apa urusannmu, ini hidupku, bukan hidupmu!! Dan jangan bertindak seperti detektif, seolah-olah kamu paling tahu, ” Sayekti sewot, katanya tak kalah galak. Shinta terdiam, ia shock dengan perubahan Sayekti. Ia tahu bukan maksud hatinya untuk mengurus-urus, atau membuntut-buntuti gerak gerik, apalagi menjaga dan mengatur hidup orang lain. Untuk menjaga dirinya saja ia susah. Semua yang ia lakukan adalah untuk melindungi Sayekti. Tapi..sepertinya apa yang ia lakukan salah. Shinta mengeluarkan nafas berat. Ia tahu diri, bagaimana bersikap sekarang. Tanpa di duga, persahabatan yang telah mereka jalin lama, pupus hanya karena cinta.

“Baiklah……kalau itu maumu. Tolong jaga dirimu baik-baik. Bila suatu hari ada masalah. Jangan sungkan untuk lari padaku. Aku masih sama” kata Shinta berusaha untuk memeluk Sayekti. Gadis itu menghindarinya.

***
Tiba di rumah….
Perasaan Shinta tiba-tiba tak enak. Rumahnya gelap. Tak biasanya Gendis suka bergelap-gelapan dalam rumah. Ia menelpon Gendis, handphone putrinya mati. Steven yang bersamanya, memintanya tetap berada di mobil. Ia yang turun dan memeriksa keadaan rumah. Tak berapa lama, Steven datang.
“Sepertinya Gendis, belum pulang sekolah”
“HAHHHHHHHHHH!! Mana mungkin, ini sudah jam 7 malam….” Kata Shinta dan bergegas masuk ke rumahnya. Ia mulai panic, ketika memerika kamar Gendis dan mendapati tas rangsel bersama beberapa baju anaknya tak ada.”Sepertinya, Gendis kabur dari rumah” Steven menenangkannya.
“Aku tanya Prabhu dulu!!” tiba tiba Steven teringat dengan cerita Shinta.
“Tunggu...aku ikutt”



.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken