Memilih Takdir # 4




Part 4
Memasuki pelataran kediaman Prabhu. Shinta semakin gemetar.  Rumah bercat abu-abu dengan jendela-jendela besar, dengan daun pintu jati lengkung berukir membuat kesan angkuh dan dingin. Ia begitu takut, membayangkan bertemu dengan seseorang yang di bencinya selama puluhan tahun. Ketakutan yang tak beralasan, hanya karena wajahnya sangat mirip dengan Prabu. Namun, demi Gendis, ia memberanikan diri. Steven berjalan tenang disisinya. Lelaki itu terus menggenggam jemarinya, seolah mengerti kegelisahan hati Gendis.


“Kamu yakin, akan ikut masuk?” Sekali lagi, Steven melontarkan pertanyaan itu pada Shinta. Ia tak tega melihat wajah pias Shinta. Perempuan itu mengangguk. Percuma juga mundur. Pintu itu tinggal beberapa langkah lagi. Dan….. dia tak bisa terus menerus di dera perasaan takut dan khawatir. Kepergian Gendis membuatnya semakin menyadari, bahwa dia tak bisa selamanya menyimpan rahasianya. Pada akhirnya, dia akan mengetahui, entah dari orang lain, atau dari mulutnya sendiri. Ntahlah, dia masih mencari cara bagaimana menyampaikannya tanpa menyakiti hati anaknya.

Pintu terbuka.Jantungnya berpacu cepat. Seorang lelaki berwajah bulat, memakai baju koko dan sarung garis-garis menyapa mereka dengan ramah. Ditangannya terselip sebuah tasbih. Ia merasa lega sekaligus bertanya-tanya, siapakah lelaki itu?

“Mari silahkan masuk” Shinta dan Steven mengikutinya. Berbeda dari kesan luar yang terkesan angkuh, di dalam rumah terkesan hangat. Tepat di sebelah kiri pintu masuk, terdapat meja console. Diatasnya ada vas dengan bunga sedap malam. Menghirup wanginya, membuat ketegangannya berkurang. Sedangkan di dinding, persis di atas meja console, sebuah cermin bulat tergantung manis. 

Tak banyak perabotan di ruang tamunya. Disana terdapat sofa besar putih, dengan dua buah kursi puff di sisi kiri dan kanan berikut meja kopi. Di sudut ruang, tanaman sansiviera tampak tumbuh subur. Semua tampak elegan. Shinta menyukainya. 

Steven berdehem. “Bolehkah kami bertemu dengan Prabhu?” Lelaki itu tertawa, menyadari kebodohannya, membiarkan orang asing masuk ke dalam rumahnya.
“Kalau boleh tahu, bapak dan ibu ini siapa?” 

“Owh…Maaf..kami belum memperkenalkan diri. Ibu Shinta ini, adalah Ibu Gendis, teman sekelas Prabhu” Lelaki itu memandang Shinta tak berkedip. Sepertinya dia pernah melihat wajahnya. 

Tiba-tiba, datang seorang perempuan dengan suaranya yang cempreng dan nyinyir. Perempuan itu duduk di dekat Shinta dan menatapnya dari atas sampai bawah.“Ooooo…ini ibunya nak Gendis, wahhh berbeda sekali wajahnya dengan Gendis. Kok bisa ya, jangan-jangan Gendis anak pungut!”

“Husss…..ngomong apa kamu, ini ma!” kata lelaki itu mengingatkan istrinya. Ia merasa tak enak hati dengan kedua tamunya.

“Nggak papa Pak, sudah biasa begitu. Gen ayahnya condong ke Gendis daripada saya. Jawab Shinta bohong. Ia mulai tak suka dengan perempuan di depannya itu.

“Jadi…..apakah kami boleh bertemu dengan Prabhu, Pak….? Steven mengulang pertanyaannya lagi. Ia juga risih dengan adanya istri Robby.

“Prabhu tidak ada, dia sedang les sekarang.” Jawab istri Robby ketus. Shinta mengajak Steven pulang, sebelum kesabarannya habis. Tumben, dia kesal dengan perempuan yang baru di temuinya.

Mereka lantas berpamitan. Robby, mengantarkan mereka sampai ke pintu gerbang.
“Lantas..kita harus bagaimana, dimana kucari Gendisku?” Shinta merasa berdosa, bila sesuatu menimpa anaknya. Memikirkannya saja, membuat kepalanya menjadi berat.
“Kita pulang kerumah dulu, setelah itu.baru kita mencari Gendis..”
“Apakah tidak lebih baik, kita langsung pergi ke kantor polisi!”

“Tunggu, sampai besok, oke…” Steven membelai lembut rambut Shinta. Nun jauh di dalam lubuk hatinya, dia menyembunyikan kekhawatirannya. Gendis sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Hubungan mereka sangat akrab. Gendis suka bercerita apa saja dengannya. Beberapa waktu lalu, Gendis menanyakan soal foto yang di temukannya. Anak itu sudah mulai curiga, ditambah Shinta melarangnya berteman dengan Prabhu tanpa memberi alasan yang jelas. 

Menurut Shinta, wajah Prabhu mirip seseorang yang juga di kenalnya. Lantas, siapakah Robby dan istrinya,bukankah mereka orangtua Prabhu? Atau…jangan..jangan…Steven tak berani melanjutkan pemikirannya.

Ia harus focus mencari Gendis. Steven teringat sesuatu. Ia mengambil handphonenya. Ia lupa telah memasang aplikasi Famy di smartphone Gendis. Supaya dia bisa mengetahui posisinya. Bukan hanya Gendis tapi juga Shinta. Steven tersenyum senang. Ia bergegas menelpon seseorang. Kemudian dia menghampiri Shinta yang terduduk lesu di teras rumahnya. Matanya sembab, habis menangis.

“Kamu boleh tersenyum sekarang. Gendis ada di rumah Bik Intan” Bisik Steven di telinga Shinta. 

“Bagaimana kamu tahu?” Steven, memberitahunya tentang aplikasi yang di pasang di smartphonenya. Shinta menatapnya kagum. Dia bersyukur memiliki sahabat seperti Steven yang selalu bisa membantunya menyelesaikan masalahnya. Tak bisa di pungkiri dia mulai tergantung dengan kehadiran Steven.

“Aku sudah menelponnya tadi, dan Gendis minta maaf, sudah membuatmu sedih”
Shinta menangis memeluk Steven. Di hadapan Steven, dia menjadi cengeng. Mereka berpelukan cukup lama. Steven lelaki normal, banyak wanita menyukainya, pekerjaannyanya pun bagus. Namun….hanya Shinta yang bisa menggetarkan hatinya. Cinta itu, disimpannya rapat-rapat dalam hati. 

***
Persahabatan Shinta dan Sayekti yang bertahun-tahun terjalin, kini retak, meninggalkan kekewaan. Sayekti lebih memilih meneruskan hubungannya dengan Armand, dan membenci Shinta yang berulangkali mengingatkannya. Akal sehatnya telah mati, tertutup oleh cinta. Dia yakin Armand bisa membahagiakannya, meskipun dia menjadi rumah kedua bagi Armand. Tak masalah baginya, selama Armand mencintainya.

Semua pilihan ada di Sayekti. Shinta tak bisa berbuat banyak. Apalagi Sayekti telah mengganti nomor telponnya, sehingga dia putus kontak dengannya. Mereka memang tidak sekantor lagi. Shinta di pindahkan ke kantor cabang, sebagai pimpinan disana. Hal itu melegakannya, dan berharap, kesibukan akan membantunya segera melupakan sakit hati yang di timbulkan oleh Sayekti. Lantas….disana dia bertemu dengan Steven, sebagai partner kerja di perusahaan tempatnya bekerja. Sikap Steven yang ngemong, membuatnya nyaman. Merekapun akrab.

Tiga bulan kemudian, Shinta bertemu dengan Veni. Dan mengabarkan bahwa Sayekti telah mengundurkan diri dan menikah siri dengan Armand. Yang membuatnya shock berat adalah, alasan Sayekti mengundurkan diri karena HAMIL!!

Sebulan lalu Shinta mendengar rumor tentang kehamilan Sayekti. Dan dia membatahnya keras. Sebab, ia tahu betul sifat Sayekti. Pendiriannya kuat, dan tak mudah menerima rayuan gombal moekiyo laki-laki. Sehingga Shinta yakin, Tak mungkin Sayekti akan bertindak bodoh. Rumor itu hanya kabar bohong yang menjatuhkan Sayekti. Dan kini……ia merasa seperti orang dungu.

Shinta menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa tak bisa melindungi Sayekti. Andai ia keukeuh, dan terus mengingatkan Sayekti. Tak peduli betapa bencinya Sayekti padanya. Hal ini mungkin tak bakalan terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, apalagi yang bisa ia perbuat, selain mendoakan Sayekti bahagia dengan pilihannya.

***
Suatu malam, cuaca amat buruk. Hujan disertai angin kencang mengguyur kotanya. Aliran listrik padam.  Dan….itu menakutkan Shinta. Orangtuanya sedang keluar kota. Saat Shinta mencari lilin. Lamat-lamat, ia mendengar suara rintihan perempuan. Ia tak berani keluar. Dan menelpon Steven.

Suara itu terdengar kembali….“toooollllllloooooooooongiiiinnnnnnnn aku shin….” Shinta membuka korden, diluar tampak gelap. Kilatan petir membantu penglihatannya. Di luar pagar, seorang perempuan hamil, basah kuyup sedang memegang jeruji pintu gerbangnya. Tanpa memakai alas kaki, Shinta berlari keluar menerjang hujan. Dan tertegun, mengetahui tubuh kurus dengan perut membuncit yang tergeletak itu adalah, SAYEKTI! Ia langsung menjerit histeris, bersamaan dengan suara petir yang menggelegar memekakkan telinga. 

“Sayekti bangun….”kata Shinta memeluk tubuh sahabatnya. Kemudian, bau amis menusuk hidungnya. Firasatnya mengatakan ada yang tak beres. Ia berusaha keras untuk tetap bersikap tenang dan berpikir  cepat. Tertatih-tatih, ia membawa Sayekti ke dalam mobilnya. Seperti orang kesetanan, ia membawa mobilnya ke Rumah Sakit. Ia tak peduli lai dengan bajunya yang basah. Dalam pikirannya, hanya ada Sayekti.

Sesampainya di ruang UGD, Sayekti langsung mendapatkan penanganan. Ia mengalami pendarahan hebat. Dan harus segera menjalani secsio untuk menyelamatkan bayinya. Dan yang menyedihkan, dokter memberitahunya, bahwa Sayekti baru saja mengalami tindak kekerasan. Mulutnya terluka dan berdarah, lengan dan mukanya ada banyak sundutan rokok. Lebam juga di temukan di hampir di sekujur tubuhnya.Shinta menangis tergugu. 

Semua berjalan cepat.
Steven datang menyusulnya ke Rumah Sakit. Ia yang sibuk wira-wira mengurus administrasi. Dan masih sempat memikirkan membelikan mereka pakaian ganti. Bukan hanya untuk Shinta dan Sayekti tapi juga calon bayi. Hatinya terenyuh, melihat Shinta terus menangis di samping Sayekti dengan pakaian basah. 

Semua berjalan begitu cepat, dan di mudahkan. Tepat jam 12 malam, Sayekti di operasi. Shinta dan Steven menunggunya dengan gelisah. Anak Sayekti perempuan, ia sehat dan lucu.
Setelah operasi, kesehatan Sayekti drop, dan dia tak pernah bangun lagi tanpa melihat wajah cantik bayinya. Shinta terguncang, dia menangis meraung-raung memanggil sahabatnya. Sayekti tetap diam, tubuhnya semakin lama semakin dingin. Shinta menatap wajahnya. Sayekti seperti sedang tertidur, wajahnya tersenyum dan tampak damai. Akhirnya Shinta ikhlas melepas kepergiannya.

Dia kemudian meminta suster membawa putri Sayekti. Bayi itu menangis saat pipinya menyentuh jasad ibunya. Semua orang yang berada di situ tak dapat menahan airmatanya.


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken