Memilih Takdir Part #5






Part 5

Pagi yang berembun. Gendis bersama Resti, anak bungsu Bik Mayang, bertelanjang kaki menyusuri pematang sawah di belakang rumah, untuk mencari tanaman gondo. Bik Intan akan membuatkan masakan special untuk tamunya, pelecing gondo. Itu adalah salah satu makanan favotit Gendis di tempat Bik Intan selain, ikan wader crispi. 

Didepannya Resti, semangat menyanyikan lagu nidji, Laskar Pelangi, Suaranya merdu, menghibur kegalauan hati Gendis. Umur Resti satu tahun di atasnya. Dan mereka akrab. 

menarilah dan terus tertawa
 walau dunia tak seindah surga,
 bersyukurlah pada yang kuasa cinta kita di dunia,
selamanya..selamanya.


Langkah Gendis terhenti. Di depan, dan samping kirinya, hanya hamparan padi yang menghijau. Lantas…dimanakah ia harus mencari tanaman gondo? Ia memanggil Resti.

“Tanaman gondonya dimana?” Resti tertawa, ia baru menyadari kebingungan Gendis. Lantas…kaki Resti lincah turun kesawah, dan memetik tanaman itu di sela-sela tanaman padi. Gadis itu memperlihatkannya pada Gendis. “Ooooooooo….ini yang namanya gondo? Kupikir ini gulma.” Katanya, antara rasa heran dan takjud. Pengalaman yang berharga baginya sebagai anak kota. Tawanya kemudia berderai Resti mengangguk. Gendis mengikuti Resti, turun ke sawah, ia tak merasa jijik saat menginjakkan kedua kakinya ditanah yang berlumpur. Dan merekapun sibuk mengisi kantong plastic yang mereka bawa. 

Angin sepoi-sepoi menerpa kulit Gendis. Ia menikmatinya, dan memejamkan matanya sejenak. Suasana pedesaan membuat perasaannya nyaman. Sejenak, terhanyut dan  melupakan permasalahannya dengan mami. 

Semalam, Prabhu menelponnya, dan memberitahu bahwa Mami teramat cemas dengannya. Gendis merasa bersalah. Ia nekad kabur dari rumah, dan bolos sekolah. Mami pasti sedih. Tapi….ia harus menemukan jawaban. Dan jalan satu-satunya adalah lewat Bik Intan. Rewang yang mengasuhnya sejak bayi.

“Mari pulang mba….” Gendis terkesiap mendengar suara Resti. Tanpa disadari ia melamun dari tadi. Dan tak sadar kantong plastic miliknya sudah penuh dengan daun gondo.
Setelah menyerahkan gondo pada Bik Intan. Gendis membantu Bik Intan memasak di dapur, menggantikan Resti yang akan berangkat kerja, di sebuah pabrik konveksi, tak seberapa jauh dari situ.

 Ia menggoreng ikan wader diatas tungku. Sedang Bik Intan mengulek bumbu untuk pelecing. Asap tungku yang panas, membuat tangan Gendis mengusap peluh dikeningnya. 

Resti yang sudah rapi, tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Gendis, yang belepotan arang. Bik Intan ikut tertawa. Gendis yang tak tahu dirinya sedang di tertawakan, acuh ia malah sibuk memasukkan kayu bakar ke dalam tungku. 

Setelah semuanya masak, mereka sarapan dengan lahap. Bik Intan memiliki dua orang anak, Banu dan Resti. Banu sudah menikah dan memiliki seorang anak bayi yang masih berusia 6 bulan. Yang kini di rawat oleh Bik Intan. Banu baru diangkat menjadi seorang guru, dan di tempatkan di pelosok Papua. Karena belum tahu, disana bagaimana. Akhirnya Pak Sukadi, suami Bik Intan menyarankan Bik Intan supaya berhenti bekerja di rumah Shinta dan merawat cucunya, sampai kehidupan Banu stabil di Papua. Meskipun Shinta memberinya kelonggaran untuk membawa sekalian cucunya ke rumah Gendis, namun ia menolak. Bik Intan merasa tak enak hati, khawatir kehadiran cucunya malah merepotkan pekerjaannya.

Bik Intan sudah dianggap keluarga sendiri bagi Shinta. Dia sudah bekerja lama di rumahnya, semenjak Gendis masih orok. 

Resti sudah berangkat kerja. Bik Intan sedang membawakan sarapan untuk suaminya di sawah. Di rumah tinggal Gendis sendirian bersama Saka, bayi mungil yang sedang tertidur lelap. Gendis duduk di serambi, melihat anak-anak dengan riang pergi kesekolah. Ia kangen teman-temannya. 

“Hayoooo…pagi-pagi ngelamunin siapa, pasti pacar mbak Gendis ya?” Gendis memeluk Bik Intan. Gadis itu tiba-tiba menangis. 

“Ada apa to nduk….tadi tertawa-tawa..kenapa sekarang sedih, ayo cerita sama bibik?” katanya sambil mengusap airmata di pipi momongannya.

“Bik….apakah aku benar-benar anak mami?” tanya Gendis sesenggukan. Bik Intan membelai rambut Gendis. Gendis sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Mantan majikannya sudah memberitahunya, perihal kepergian Gendis.

 “Bibik akan memberitahu Gendis, asal dengan satu syarat. Gendis tak boleh marah dengan Mami Shinta. Apakah Gendis bersedia?” Bik Intan menatap lekat wajah Gendis. Gadis itu mengangguk, setuju. Dia sudah mempersiapkan mentalnya.

“Begini nak, Gendis memang bukan darah daging Mami Shinta, namun..mami shinta telah memberikan hidupnya untuk Gendis, dia menyayangimu melebihi hidupnya sendiri.” Tangis Gendis pecah kembali. “Jadi….Gendis anak siapa, Biiiiiiiiiiiiik….?” Percakapan mereka terhenti karena tangis Saka. Bik intan mengambilnya, membuaiannya dalam pelukannya. Bayi itu masih menangis.

***
Shinta dan Steven berencana menjemput Gendis dirumah Bik Intan. Saat mereka akan masuk ke mobil. Sebuah sedan keluaran terbaru berhenti di depan rumah. Seorang perempuan turun. Dan ternyata dia adalah Mieke, ibunya Prabhu. 

Sekonyong-konyong perempuan itu menjambak rambut Shinta, sampai ia terjengkang ke tanah. Steven kaget dan langsung membantu Shinta berdiri, dan bingung dengan yang terjadi barusan.

“Apa-apaan ini, apa salah Shinta?” tanya Steven memasang muka galak.
“Asal anda tahu ya pak, dia sudah menggoda suami saya!!! Tangannya berkacak pinggang dan memaki Shinta dengan umpatan kasar. Wajah Shinta merah padam mendengarnya.
“Eh….Ibu jangan ngawur!! Saya tidak serendah itu, buktinya mana….!!” Suaranya bergetar saking emosinya.

“Halah….alesan,pantes saja, umur segitu nggak kawin-kawin. Wong sukanya suka gonta ganti pasangan. Dan ini buktinya….!! Dia melemparkan dua lembar foto ke muka Shinta. Foto itu jatuh ke tanah. Steven memungutnya, sedang Shinta berdiri menahan rasa marah.

Ia kaget setengah mati. Darimana perempuan mendapatkan foto dirinya saat masih muda, yang satu diambil candid, yang satunya adalah foto saat dia bersama Sayekti saat menari di kantor. Dia juga memilikinya. Tetapi foto candid? Siapa yang telah diam-diam mengambil foto dirinya?

“Sepertinya ini ada kesalahpahaman. Saya tidak ada hubungan sama sekali dengan suami ibu. Dan sebaiknya kita selesaikan masalah ini secepatnya” Shinta berusaha menarik dan membuang nafasnya berkali-kali, untuk menenangkan dirinya. 

“Harus..dan awas ya….kalau kamu benar-benar selingkuh dengan suamiku. Aku akan menyeretmu seperti anjing jalanan.”Jawabnya berapi-api.

“Nggak masalah….., sebaliknya saya akan melaporkan ibu ke kantor polisi, karena  telah melakukan fitnah dan kekerasan pada saya.” Kata Shinta geregetan. Dia tak suka dengan perempuan ngeyel.

Tak berapa lama kemudian…..

Robby datang. Steven tadi menelponnya. Mata lelaki itu merah karena marah dan malu dengan perbuatan istrinya. “APA APAAAAAAAANNN..KAMU INI MA, SUKANYA MEMBUAT KEONARAN SAJA” Steven menenangkan Robby. Permasalahan tidak akan selesai, bila semuanya dalam kondisi marah. Dia mendudukkan Robby dan menjelaskan apa yang terjadi padanya. “Foto itu bukan milikku, Ma, tapi milik Kak Armand, aku mengambil dari laptop kak Armand dan menyimpannya, karena penasaran seperti apa Shinta sampai membuat Kak Armand teramat jatuh cinta padanya. Kamu tahu kan Ma, Kak Armand tak pernah jatuh cinta, dia mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Menikahpun karena dijodohkan bapak. Selama hidupnya Kak Armand tak pernah jatuh cinta. Cintanya hanya pada Ibu Shinta” Robby penuh emosi saat mengatakannya. 

Hubungannya dengan Armand memang akrab. Dan dia adalah satu-satunya tempat Armand berkeluh kesah

Shinta memotong pembicaraan Robby. “Sebentar….saya tidak mengerti apa yang anda utarakan. Apakah anda yakin saya mengenal Armand, kakak anda?” Robby mengambil ponselnya dan memberikannya pada Shinta. Tangan Shinta gemetar, dia adalah Armand, lelaki yang selama ini di cari dan di bencinya. Bayangan kesakitan Sayekti terlintas di benaknya.

Dia lantas mendekati Robby, dan menatapnya dengan muka garang. Tangannya merenggut kerah baju Robby. Istri Robby kaget dengan keberanian Shinta. Steven menahan nafas. Dia tahu selama ini Shinta mencari keberadaan Armand.

“Kamu tahu….apa yang telah kakakmu lakukan, heh. Dia telah menghilangkan nyawa seseorang dan membuat seorang anak menjadi piatu!!! Satu lagi… foto ini, adalah foto sahabatku, namanya Sayekti dan dia adalah kekasih Armand, dia juga mengandung anak Armand !! Tolong…antarkan aku segera kepadanya, supaya anak itu tahu, dia masih memiliki seorang bapak. ” Robby semakin bingung dengan perkataan Shinta.

“Jangan percaya saja mas, siapa tahu dia hanya menipu kita. Enak saja ngaku-ngaku Mas Armand memiliki seorang anak” Mieke tak kalah sewot.

“Diam kamu!! Jangan ikut campur! Shinta mulai histeris. Rasa sakit hati yang di pendamnya selama puluhan tahun, tak mampu ditahannya.

Robby meminta istrinya diam. Pikirannya menjadi kusut. Dia tenggelam dalam pikirannya untuk beberapa saat. Dia tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Shinta. Tak ada yang bisa ia tanyai.

 “Kak Armand sudah meninggal”sahut Robby lirih. Shinta shock dan pingsan.

***
Shinta masih terbaring lemah di ranjang sebuah Rumah Sakit. Ia kelelahan dan terkena radang lambung. Steven selalu berada di sampingnya. “Mamiiiiiiiiiiiiiiii…….maafkan Gendis…” Gendis memeluk maminya erat. Shinta membuka matanya, dan melihat anaknya datang bersama Bik Intan sekeluarga. Selama perjalanan Gendis terus menangis, ia merasa bersalah telah membuat maminya sakit. 

“Mami nggak apa-apa sayang, mami sakit karena kangen kamu” ia mencubit hidung anaknya. Gendis tertawa. Ia sangat mencintai mami, dan takut akan kehilangannya.

“I Love you Mi…..Gendis janji nggak akan kabur lagi” kata anak itu manja. Shinta mengangguk. Ia mengedipkan matanya pada Bik Intan, yang dibalas senyum.

Steven menunggu di luar. Lelaki itu mencoba menganalisa cinta rumit Armand. Ada istri Armand, Sayekti dan sekarang menyeret nama Shinta. Mungkinkah Armand diam-diam mencintai Shinta. Kemudian mendekati Sayekti supaya bisa kenal dengan Shinta. Sayangnya Sayekti kemudian jatuh cinta padanya, dan Armand tak kuasa menolak? Lelaki itu memijit keningnya. Ia belum menemukan jawabannya.Telponnya berdering. Itu dari Robby! Mereka berbicara sebentar, dan berjanji akan bertemu makan siang. Steven kemudian, pamit pada Shinta dan Gendis.

***
Tiga bulan kemudian…….
Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan terlihat khusu’ berdoa di sebuah makam Sayekti. Mereka adalah Shinta, Steven, Gendis dan Prabhu. Hari ini, tepat ulang tahun Gendis yang ke 17 tahun. Shinta sudah menceritakan soal siapa sebenarnya ibu Gendis. Gendis menerimanya lapang dada, seperti Prabhu, kekasihnya. Dia bukanlah anak Armand, tetapi anak Pak Robby.

Shinta telah menyetujui hubungan cinta antara Gendis dan Prabhu, setelah mengetahui mereka berdua bukanlah saudara seayah.

Semua berkat usaha Steven. Gendis awalnya tak percaya setelah menerima hasil tes DNA yang di bawa Steven. Semua menjadi kabur. Baik Sayekti dan Armand sudah pergi, dengan membawa rahasianya. Shinta melepaskan nafas panjang. Ia sudah memaafkan mereka. 

“Om Stev……bolehkah Gendis meminta hadiah ulang tahun” Shinta menoleh kearah Gendis. Dia merasa aneh dengan pertanyaan putrinya. Nanti malam mereka akan merayakan ulang tahunnya di sebuah restaurant. “Bukankah….kamu sudah mengajukan permintaan,nak”.

“Tapi..ini lain Mi……Pleaseeeeee” Shinta, Steven dan Prabhu saling pandang.
“Ayah Stev…..kapan mau melamar Mami?” Shinta kaget dengan pertanyaan Gendis.
“Huss….Gendissssssssssssss” gadis itu tertawa nakal. Ia menyukai Steven. Dia seperti bapak baginya. Tanpa sepengetahuan Shinta, sudah sejak Taman Kanak-kanak Steven telah memintanya memanggilnya ayah. Tetapi….itu dikatakannya saat mereka berdua.

Steven menjadi gugup. Ia memandang pipi Shinta yang kemerahan.

“Menurut Gendis, apa mami Gendis mau menerima cinta ayah Stev….” Steven balik bertanya pada Gendis. Hati Shinta semakin berdesir tak karuan. Ia tiba-tiba kikuk. Tenggorokannya menjadi kering.
“Mau ya mi…….mau ya” Gendis memeluk maminya.
Prabhu tiba tiba merusak suasana
“Gendisss ini kuburan, masak kamu pingin Om Stev melamar Tante Shinta di kuburan. Apa romantisnya coba….”
Semua tertawa…….
Mereka lalu pulang,dengan membawa hati yang berbeda. Shinta membiarkan tangannya terus dalam genggaman Steven. Hati mereka berbunga-bunga.
                                                            ***End***












Comments

  1. Tamat ini, ganti cerita baru ya, Mbak Fidia.
    Ditinggu!

    ReplyDelete
  2. Tamat ini, ganti cerita baru ya, Mbak Fidia.
    Ditinggu!

    ReplyDelete
  3. Tamat ini, ganti cerita baru ya, Mbak Fidia.
    Ditinggu!

    ReplyDelete
  4. sudah mba umiiiiii...btw..makasih singgahnya

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Beken