My Journey, Kembali Ke Allah #6




Koruptor Kelas Coro

Aku menolak halus ketika seorang bapak memintaku menaikkan biaya sewa internet yang tadi dia pakai. Sebagai gantinya ku beri dia nota kosong. Dilema memang. Di satu sisi, aku tidak mau terlibat, dengan apa yang dia perbuat, di sisi lain, malah aku membiarkan orang itu melakukan kemauannya. “Terimakasih mba…” bapak itu kemudian pergi, seraya mengembangkan senyumnya.


Ah..pikiranku terlalu polos….
Aku tertegun…..uang 10 ribu,20 ribu memang tak banyak. Tetapi kalau tiap hari, dia melakukan mark up begitu, lama-lama akan menjadi kebiasaan. Pekerjaan kecil, seperti ngeprint, fotocopi, uang bensin dll, bisa dia buat peluang untuk mendapatkan income baru, sebagai tambahan uang dapur, tanpa perlu mengeluarkan keringat. Setelah tahu enaknya, dan nggak ketahuan pula. Kemungkinan besar dia akan menyasar sesuatu yang lebih besar. Otaknya akan semakin pintar lihai mencari celah. Ih serem…..

Siapa sih yang nggak seneng sama duit. aku juga suka. Tetapi..janganlah kita sampai mengambil yang bukan hak kita. 

Mataku melihat banyak contoh di sini. Dari nota kosong, sampai berani mengubah “sesuatu” dengan bermodal “paint dan photoshop”. Gila nggak sih, apa mereka nggak berpikir efeknya. Bagaimana terus bila harta tersebut untuk menafkahi anak istrinya. 

Kita banyak berkoar-koar, menghujat koruptor, dan merem dengan  keadaan sekeliling kita. Padahal mereka yang berani begitu adalah koruptor kelas coro, yang bila di biarkan akan menjadi koruptor kelas belut, yang amat lihai dan licin.
Dunia semakin lama semakin acakadut, yang tak biasa menjadi biasa.
Ya Allah..semoga kita semua di selamatkan. Tetap teguh memegang kejujuran.



Comments

Tulisan Beken