My Journey, Kembali Ke Allah # 7



Aku berdiri di trotoar, di depan rumah, sambil menggendong bobo. Memperhatikan lalu lalang kendaraan dan orang-orang di jalanan. 

Tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat seorang pengemis menggunakan kruk, berjalan pelan-pelan. Aku ingat pengemis ini, sebab beberapa kali ia sering datang kerumah. Lelaki berbadan gembul, umurnya sekitar 40 tahunan   Dengan wajah melas dan seolah-olah menahan sakit. Sewaktu kutanya penyakitnya, katanya kakinya sakit. Aku tak bertanya lagi. Semenjak itu dia tak pernah ke rumah.


Kemudian, ada seorang tua, yang mengayuh sepeda tuanya, pelan-pelan. Di belakangnya ada dua keranjang tempat menaruh barang rongsokan. Keringat membasahi wajahnya yang letih. Kemudian dia berhenti di sebuah emperan toko. Membuka bekalnya. Hatiku terenyuh.

Aku meringis.

Mataku terbuka. Ada dua sisi yang berseberangan dalam menjemput rezeki, yang satu menggunakan cara instant dengan mengemis, yang lainnya berusaha bekerja keras untuk mendapatkan rezeki, meskipun usia mereka sudah uzur. Karena tidak mau, bergantung pada orang lain. Tidakkah kita malu pada lelaki tua itu. 

Masihkah kita terus mengeluh dengan pekerjaan kita? Masihkah kita bermalas-malasan dan lebih memilih jalan instan? Hmmmmm..sebaiknya ambil kaca deh.

Allah itu MAHA BAIK. Kita memiliki akal, tangan, kaki, mulut yang bicara, telinga yang mendengar dan lain sebagainya. Supaya kita bisa berpikir dan memanfaatkannya dengan baik. Tanpa perlu menengadahkan tangan, mencari belas kasihan orang lain. Iya nggak sih……



Comments

Tulisan Beken