Yakin....Anda Sayang Anak?


pinterest.com

" Tante.....lihat tanganku nih" dia memperlihatkan tangannya yang mengelupas. Tangan Misua dan Key, sama-sama sensitive, nggak bisa terkena detergen atau sabun mandi sembarangan.

Tanpa ku minta, gadis didepanku curhat. Aku mendengarkannya dengan seksama.Anaknya cantik, rambutnya panjang dengan bibir bergincu, dengan kuku yang di cat, merah. Manis! Dia sedang  membuat lamaran dan berencana mau kerja lagi, meskipun suaminya tak mengijinkan. Aku mengerti keadaannya, terbiasa bekerja kemudian menikah dan langsung menjadi ibu rumah tangga,  memang sesuatu yang tak mengenakkan. Biasanya mendapat gaji, bisa beli ini itu tanpa meminta, kini kudu berani meminta pada suami. 


Kadang...kita sebagi istri....rada segan meminta, meskipun itu suami sendiri. Perasaan takut dan khawatir di bilang boros selalu menyelimuti. Apalagi kalau ada mertua yang mengawasi..tentunya akan lebih tak nyaman. 

Lebih baik punya penghasilan sendiri, kerja tak harus di kantor, di rumah juga bisa, asal kreatif dan ada kemauan. Insyaallah ada jalan.

Tetapi.....bukan ini yang akan saya bahas, melainkan bagaimana sikap kita sebagai orang tua, mendidik anak. Contoh si mbak cantik itu, menurut pengakuannya dia tak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Dia sibuk berkarir. Dan dia shock...setelah memutuskan menikah dan jauh dari orangtua. Apa-apa dilakukan sendiri, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

Teringat pengalaman pribadi. Dimana Simbah kakung  sangat protektif...apa-apa nggak boleh dilakukan, semua di bantuin, tiap hari disuruh belajar dan belajar terus.

Beneran, setelah merantau ke Bali, dan jauh dari orang-orang yang biasa membantu saya, sedang pekerjaan saya di Ubud jauh dari mana-mana. Saya baru ngeh....I just nothing. Orangtua saya dan simbah tidak memberikan bekal dasar ketrampilan kehidupan, bagaimana saya bisa survive. Terutama soal masak. Tiap malam,  kelaperan. Makan roti udah bosen. Beruntung..saya bukan tipe yang suka merengek.

Mengeluh terus, nggak bakalan menbuat perut menjadi kenyang. Dari situ kemudian kepikiran untuk belajar memasak. Otodidak pula. Nanya cara masak sama ibu kos yang baik hati.Meskipun awal awal gosong, nggak masalah. Lempeng aja...ntar juga bisa.....pun begitu dengan pekerjaan lainnya.

Kejadian tersebut, begitu membekas dalam ingatan saya. Cukup saya saja yang mengalami, jangan sampai anak saya begitu.

Saya mengerti, atas nama kasih sayang, sebagai orangtua, kita selalu ingin mengulurkan tangan untuk membantu anak. Bisa di bilang...apapun yang mereka minta kita kasih, anak pengennya di eman-eman. 

Tetapi, hidup tak selalu seperti yang kita inginkan. Roda kehidupan akan terus berputar, kita tak pernah tahu...kapan kita akan berada di posisi bawah. Sungguh egois bila kita tak pernah memikirkannya dan berpikir bahwa kehidupan kita akan baik-baik saja. Tanpa mempersiapkan apapun untuk anak.

Lantas...ketika akhirnya kita mengalami ketidaknyamanan, otomatis yang paling terpukul adalah anak. Mereka terbiasa terlena dengan bantuan dan fasilitas yang kita berikan. Sekarang semuanya hilang! Syukur-syukur bila mereka mengerti keadaan, dan mau merubah sikapnya. Bila enggak, bakalan berabe. Nggak dikasih, nangis, nggak di bantu, mewek, nggak dikasih uang..ngutang. Pokoknya semau gue, dan nggak mau tahu. Yang penting, mereka mendapatkan apa kemauannya.Mereka tidak akan bisa survive dan terus menjadi benalu orang lain.Terus..kalau gitu siapa yang salah.

Banyak kejadian yang saya amati, saking cinta dan sayangnya orangtua terhadap anak. Mereka selalu saja mensupport anak, meskipun usia mereka bertambah renta. Semua keinginan anak di turuti. Dan membuat mereka semakin terhanyut, oleh buaian. Tahu apa yang terjadi? Mental anaknya jadi lembek, dan cepat putus asa. Mereka takut untuk berinisiatif, dan keluar dari zona nyaman yang telah di berikan oleh orangtuanya. Mereka tidak pernah menjadi mandiri, dan tak tahu bagaimana kerasnya hidup ini. Sehingga akan selalu tergantung pada orang tuanya. Kemudian mereka baru sadar, bahwa tindakan mereka selama ini salah.

Hiksssss..menyedihkan...kan ya.
 
Bukankah, kita menginginkan anak akan bahagia?

Lebih baik, mulai sekarang, kita ajarin anak kita tak peduli anak lelaki atau perempuan, tentang bertanggung jawab, baik itu dirinya sendiri dan bagaimana melayani orang lain. Dengan ini, di harapkan mereka bisa lebih siap mandiri dan bertanggung jawab apabila berjauhan dengan orang-orang yang mereka sayangi. 



Ya wes....gitu aja.
  


 

 


Comments

Tulisan Beken