Bila Kehidupan Tak Sesuai Rencana




Hujan  yang di sertai angin kencang kemarin, menyisakan cerita yang berharga buatku. Di pinggir jalan, pedagang kaki lima, berteduh di samping minimart. Sedangkan jualannya di biarkan di pinggir jalan. Di situ ada beberapa pedagang, ada pedagang gorengan, cilok, rujak manis, es degan, es condet, nasi jagung dan gado-gado.

Hujan yang tak tentu begini, membuat mereka kudu lebih bersabar, karena mengurangi pendapatan mereka. Siapa juga yang mau keluar, bila hujan deras. Meskipun begitu. Mereka masih optimist, tiap hari mereka masih berjualan, di tempat yang sama tuk menjemput rezeki.Berharap Allah memberikan rezeki yang lebih baik dari kemarin.


Menghadapi kehidupan, aku dan mungkin juga kalian, berharap kehidupan yang kita jalani sesuai dengan rencana dan kemauan kita. Baik itu dari segi karir, keluarga,kesehatan, dan rezeki yang melimpah ruah. Kita tak pernah menginginkan sesuatu yang buruk datang. Pengennya yang baik-baik, malah kadang sering keblinger, pengennya diatas rata-rata.

Namun……yang terjadi, tak berbanding lurus dengan kenyataan. Alih-alih bersyukur dengan semua nikmat yang telah di berikan OLEHNYA. Kita malah sibuk terfokus memikirkan apa yang tidak kita dapatkan. Dan terus menerus mengeluh bahwa Allah telah bertindak tidak adil.
Padahal, Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita. 

Tanpa kita sadari, kita menjadi hamba PEMAKSA, maunya Allah menuruti semua keinginan kita. Kemudian kita menjadi stress. Males untuk ngapa-ngapain. Karena apa yang telah kita rencanakan tak ada yang berhasil. Kita seperti terjebak, di sebuah kumparan. Semua seperti berjalan di tempat. Susah untuk keluar. Semakin kita memaksa, lilitannya semakin kuat. Hasil kerja tak kelihatan, karena habis buat bayar cicilan. Jangankan buat biaya jalan-jalan ,buat tabungan saja NOL.

Gubrak…….daripada malah puyeng, nggak ketulungan
Sebaiknya, kita belajar untuk melepaskan semua kemelakatan dan keinginan. Hidup sederhana dan tidak muluk-muluk.

Terima Dan Maafkan
Aku mulai mengerti, ketika semua yang kurencanakan, tak berjalan sesuai dengan kehendakku. Aku sempat down. Emosiku labil dan menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Selama 3 tahun lebih, airmataku keluar sia-sia. Aku sudah memilih. Semua konsukensi harus kuhadapi. Daripada memendan rasa dendam dan marah, lebih baik kumaafkan, serta menerima semua yang terjadi sebagai bagian dari hidup yang mesti ku jalanin. Dari situ, langkah mulai ringan.

Fokus dan Hiduplah untuk hari ini

Memikirkan rencana masa depan, memang sangat menggairahkan. Efek buruknya, aku menjadi underpressure. Sudah stress duluan. Gegara membayangkan langkah apa yang harus kulakukan, sampai menyiapkan rencana ABCDEF ke Z.

Mukaku makin kusut, seperti mengejar deadline.Semakin ku pikirkan rencana masa depan, diriku semakin stress. Aku terlalu takut, rencanaku gagal. Sehingga ku buat rencana itu se perfect mungkin. Dari rencana short term sampai long term. Dan aku lupa, bahwa….semua yang menentukan apakah rencana kita berhasil atau tidak bukanlah aku!

Kemudian aku menyadari Allah menentukan semuanya. Dari situ, timbul pemikiran, lebih baik aku jalanin hidup apa adanya, dan focus untuk menjalani hidup hari ini dengan baik. Dan membiarkanNYA menentukan yang terbaik buatku.

Eh….beneran, pikiranku mulai tenang, semua kekhawatiran kulepas. Selama aku berusaha dan berdoa. Insyaallah, ada jalan.

Bersyukur dengan NikmatNYA

Daripada terus menghujat dan berkeluh kesah, lebih baik mensyukuri apa yang kita miliki. Hal-hal kecil yang sering kita lewatkan, Karena silau dengan materi.
Seperti kita diberi kesehatan, punya pekerjaan, memiliki tempat berteduh,makan cukup, memiliki air, listrik, sodara dan tetangga baik serta rumah tangga adem ayem. Bila kita terus mensyukurinya, rasanya di hati ini nyaman sekali.
Dan akhirnya dari semua kesakitan yang kita terima, kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.




Comments

Tulisan Beken