Blue In March # 1




Sepanjang bulan maret ini, aku banyak mendapatkan pelajaran mahal tentang arti sabar, ikhlas, cinta dan harapan.

Pertengahan bulan, ada kabar dari adik ipar, bahwasannya mertua sakit prostat dan hernia, dan harus menjalani operasi, bukan hanya sekali operasi, tetapi dua kali operasi.

Aku menginginkan suami pulang ke Bali. Meskipun aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang. Haruskah aku pinjam lagi, seperti 5 bulan lalu, saat bapak mertua kecelakaan? Entahlah…..


“Kita postponed membayar cicilan, ya pah” Saranku. Biar suami saja yang ke Bali, jenguk bapak. Biar aku yang bekerja, sambil nemenin Key di rumah.

 Papah menolak keras keinginanku. “Kalau memang nggak bisa datang dan memberi, nggak usah di paksain.” 

Tuingggggggggggggggggggggggg……perasaanku nggak enak. Ada semacam tanggung jawab yang kupikul. Sebagai seorang istri, aku ingin suamiku berbakti kepada keduaorangtuanya. Bapak sekarang sakit dan pasti menginginkan anak-anaknya berada di sampingnya. 
Di satu sisi, aku mengerti alasan papah nggak mau ke Bali, mengingat kondisi keuangan yang masih dalam taraf rawan. Sehingga dia tak mau membuatku lebih menderita mengatur keuangan.

“Terimakasih ,Pah…..”

Aku istighfar berulangkali…..sabar itu memang tak mudah. Airmataku menggenang.

Dikala kami memutuskan untuk berazzam putus dari hutang riba. Godaannya semakin kencang. Beberapa kali kami terpuruk dalam kondisi keuangan yang memprihatinkan. Dan sepertinya bisikan-bisikan setan juga semakin kuat membisiki kami supaya mengambil jalan pintas.

Teman-teman suami ada yang berkelakar, kami ini bodoh sekali, ada sertifikat rumah dan mobil, tetapi tak kami manfaatkan. “Sono gih sekolahin sertifikatnya, kalian bisa dapetin uang, bisa untuk nambahin modal usaha dan pulang jenguk keluarga di bali.”

Suami hanya nyengir. “Iya…senengnya sesaat, selebihnya mumetttttttt” Dalam hati aku berterimakasih padanya.

Ya Allah, Aku berlindung PADAMU dari lilitan Hutang Riba. Aamiin.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken