Blue In March # 2




Masih tentang Blue in march,

Setelah kabar tentang operasi bapak mertua, kabar mengejutkan datang dari keluarga bude. Bude adalah anak dari kakaknya simbahku. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat Hari Raya Idhul Fitri tahun lalu. Beliau meninggal karena kanker servik. Sedangkan, Aku tak pernah mendengar kabar tentang sakitnya. Tahu-tahu beliau sudah meninggal.

Beliau tak pernah mengeluh, menyimpan penyakitnya sendiri dan terus bekerja, hingga beliau kolaps. Banyak cerita miris yang ku dengar tentang bagaimana sikap anak dan menantunya. Aku tak mau ngejudge seseorang, tanpa kutahu ceritanya. Cukup  kuambil sebagai pelajaran hidup untuk membuatku menjadi lebih baik.


Seminggu kemudian……..

Aku mendengar kabar, tentang si mba, sepupuku, cucu dari kakaknya simbah. Si mba sakit cancer payudara stadium 3 A, dan harus di operasi. Antara rasa sedih dan kecewa saat mendengar kabar tersebut. 

Si mba, seorang janda, punya 3 anak, yang satu sudah bekerja, yang dua masih sekolah. 

Sebab…si mbak, sering datang ke rumah, hubungan kami bisa di bilang dekat. Dia sudah kuanggap simbakku sendiri. Namun tak sekalipun pernah bercerita tentang penyakitnya. Sampai aku desakpun beliau tak pernah cerita. 

Percaya nggak percaya….ketika aku dekat dengan seseorang, siapapun itu. Aku memiliki koneksi yang kuat, bila akan terjadi sesuatu dengan mereka, aku seperti di beri warning, lewat mimpi. Kurang lebih setahun lalu…aku bermimpi tentang si mba…aku pernah bertanya padanya, tentang sakitnya. Tapi ya begitu deh, si mba….lebih suka menutupinya, dengan alasan khawatir aku menangis. Dan itu akan melemahkannya. Meskipun aku tak terima dengan alasannya, ya tetap ku hargai keputusannya.

Ada pelajaran berharga yang kupetik lewat si mba

 OPTIMIST DAN TAK TERGANTUNG PADA ORANG LAIN.

Menurutku, si mbak itu wanita tangguh….saat ayah ibu serta sodaranya tak peduli, dia malah senyum-senyum. Berangkat sendiri ke Rumah Sakit, Operasi di tanda tangani sendiri, semua di lewati sendiri. Saat aku menungguinya, teman-temannya banyak menjenguk, dan memberinya dukungan. Ia benar-benar ikhlas dengan penyakit yang dideritanya. Tak ada sekalipun ketakutan yang terpancar dari kedua matanya. Dia selalu ceria…

Papah, juga ikut mensupport, aku di biarkan menunggui si mbak selama beliau di rawat, membiarkanku melewatkan pekerjaan rumah. 

Ketika cinta tidak kita dapatkan dari keluarga, cinta itu malah datang dari orang lain.

Aku berusaha terus memotivasi si mbak, dan tak pernah menyinggung soal operasi. Aku hanya ingin membuatnya senang, dan berharap esok masih ada harapan indah untuknya. 

Semoga…..Aamiin.


Comments

Tulisan Beken